Karomah Guru Syaikh Nawawi Al-Bantani
Minggu, 04 September 2022 - 15:42 WIB
Syaikh Nawawi al-Bantani adalah ulama yang mendunia kelahiran Banten. Foto/Ilustrasi: Ist
Syaikh Nawawi al-Bantani memiliki sejumlah kiai yang mengajarnya di Pesantren. Selain Raden Haji Yusuf, ada seorang kiai di Pesantren Cikampek yang mengajar Syaikh Nawawi. Kiai ini mengetahui pesan ibunda Nawawi saat ia akan berangkat nyantri.
Dikisahkan, pada usia 5 tahun, Nawawi sudah mendapat bimbingan pelajaran dari ayahnya, Kiai Umar. Pelajaran yang didapatnya mula-mula adalah ilmu-ilmu dasar agama Islam dan bahasa Arab. Pelajaran itu kira-kira berlangsung sampai 3 tahun lamanya.
Setelah mendapat dasar-dasar pengetahuan agama, Nawawi bersama dua orang saudaranya yakni Tamim dan Ahmad, melanjutkan pelajarannya kepada Haji Sahal, seorang guru terkenal di Banten pada waktu itu.
Dari Haji Sahal, mereka bertiga meneruskan pendidikannya kepada Raden Haji Yusuf, seorang ulama terkenal di daerah Purwakarta, dekat Karawang. Snouck Hurgronje menyebut bahwa Raden Haji Yusuf adalah seorang ulama yang menarik perhatian para pelajar yang berkelana ke seluruh Jawa, terutama dari Jawa bagian Barat.
Baca juga: Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani Dideportasi Karena Terlalu Alim
Chaidar dalam buku berjudul "Sejarah Pujangga Islam Syaikh Nawawi al-Banteni Indonesia" menyebutkan sebelum menuntut ilmu, Nawawi—yang pada waktu itu berusia sekitar 8 tahun terlebih dahulu meminta doa dan restu dari sang ibu. Nyai Zubaidah, ibunya, kemudian melepas kepergian Nawawi dengan hati penuh ikhlas, dan berharap agar anak-anaknya memeroleh ilmu yang bermanfaat.
“Aku doakan dan aku restui kepergianmu mengaji,” ucap ibunya seraya mengelus rambut anaknya. “Dengan satu syarat, jangan kalian pulang sebelum kelapa yang sengaja aku tanam ini berbuah.”
Nawawi, Tamim, dan Ahmad berpamitan sambil mencium tangan ibunya. Segera, mereka pun berangkat menuju pesantren untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Tatkala Nawawi telah merasa cukup menuntut ilmu dari Pesantren Raden Haji Yusuf, ia mengirim kabar terlebih dahulu kepada ibunya. Nawawi senantiasa teringat pesan sang bunda, agar tidak pulang terlebih dahulu sebelum pohon kelapa yang ditanam ibunya berbuah.
Lama, Nawawi menanti jawaban dari ibunya, namun ternyata tak kunjung datang jua. Akhirnya, Nawawi memutuskan untuk pergi meninggalkan pondok pesantren itu dan mencari pondok pesantren yang lain, bersama Tamim dan Ahmad.
Dikisahkan, pada usia 5 tahun, Nawawi sudah mendapat bimbingan pelajaran dari ayahnya, Kiai Umar. Pelajaran yang didapatnya mula-mula adalah ilmu-ilmu dasar agama Islam dan bahasa Arab. Pelajaran itu kira-kira berlangsung sampai 3 tahun lamanya.
Setelah mendapat dasar-dasar pengetahuan agama, Nawawi bersama dua orang saudaranya yakni Tamim dan Ahmad, melanjutkan pelajarannya kepada Haji Sahal, seorang guru terkenal di Banten pada waktu itu.
Dari Haji Sahal, mereka bertiga meneruskan pendidikannya kepada Raden Haji Yusuf, seorang ulama terkenal di daerah Purwakarta, dekat Karawang. Snouck Hurgronje menyebut bahwa Raden Haji Yusuf adalah seorang ulama yang menarik perhatian para pelajar yang berkelana ke seluruh Jawa, terutama dari Jawa bagian Barat.
Baca juga: Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani Dideportasi Karena Terlalu Alim
Chaidar dalam buku berjudul "Sejarah Pujangga Islam Syaikh Nawawi al-Banteni Indonesia" menyebutkan sebelum menuntut ilmu, Nawawi—yang pada waktu itu berusia sekitar 8 tahun terlebih dahulu meminta doa dan restu dari sang ibu. Nyai Zubaidah, ibunya, kemudian melepas kepergian Nawawi dengan hati penuh ikhlas, dan berharap agar anak-anaknya memeroleh ilmu yang bermanfaat.
“Aku doakan dan aku restui kepergianmu mengaji,” ucap ibunya seraya mengelus rambut anaknya. “Dengan satu syarat, jangan kalian pulang sebelum kelapa yang sengaja aku tanam ini berbuah.”
Nawawi, Tamim, dan Ahmad berpamitan sambil mencium tangan ibunya. Segera, mereka pun berangkat menuju pesantren untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Tatkala Nawawi telah merasa cukup menuntut ilmu dari Pesantren Raden Haji Yusuf, ia mengirim kabar terlebih dahulu kepada ibunya. Nawawi senantiasa teringat pesan sang bunda, agar tidak pulang terlebih dahulu sebelum pohon kelapa yang ditanam ibunya berbuah.
Lama, Nawawi menanti jawaban dari ibunya, namun ternyata tak kunjung datang jua. Akhirnya, Nawawi memutuskan untuk pergi meninggalkan pondok pesantren itu dan mencari pondok pesantren yang lain, bersama Tamim dan Ahmad.
Lihat Juga :