Karomah Guru Syaikh Nawawi Al-Bantani
Minggu, 04 September 2022 - 15:42 WIB
Baca juga: Wapres: Syekh Nawawi Al-Bantani Bangun Karakter Muslim Toleran di Nusantara
Ketiganya kemudian sampai di pondok pesantren di daerah Cikampek (Jawa Barat) untuk belajar lughat (bahasa Arab). Di tempat belajarnya yang baru ini, ketiga kakak-beradik ini diuji terlebih dahulu oleh kiainya. Ternyata, ketiganya lulus ujian dengan baik sekali, bahkan dinyatakan tidak perlu lagi mengulang belajar di pondok pesantren tersebut. Oleh kiainya itu, mereka bertiga dipersilakan pulang.
“Ilmu kalian telah cukup. Kalian pulanglah, sudah ditunggu ibu kalian. Sebab, pohon kelapa di rumah telah berbuah,” ucap sang kiai, seakan tahu bahwa santri-santri itu telah ditunggu sang ibu.
Dari mana sang kiai mendapat berita bahwa pohon kelapa di rumah Syaikh Nawawi telah berbuah? Dalam buku Karomah Para Kiai karya Samsul Munir Amin dijelaskan hal itu tidak lain karena karomah sang kiai, bisa melihat sesuatu yang gaib walaupun tidak tampak di mata.
Rupanya, apa yang dikatakan sang kiai, guru ahli lughat dari Cikampek itu memang benar. Sebab, setibanya Nawawi, Tamim, dan Ahmad di hadapan sang ibu, pohon kelapa yang sengaja ditanam beberapa tahun yang lalu kini telah tumbuh dan berbuah. Maka, kedatangan mereka pun disambut dengan suka cita.
Nawawi pun kembali ke desa kelahirannya, Tanara, setelah sekian tahun menuntut ilmu di beberapa pesantren. Cukup lama juga dia mengembara sebagai santri kelana, sejak pohon kelapa yang sengaja ditanam ibunya masih berupa tunas, sampai pohon itu tumbuh dan berbuah.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa lamanya Nawawi mengembara menuntut ilmu di pesantren-pesantren Jawa itu kurang lebih sekitar 6 tahun karena pada umumnya umur pohon kelapa sampai bisa menghasilkan buah adalah 6 tahun.
Baca juga: Syekh Nawawi al-Bantani Resmi Nama Jalan di Cilincing, Anies: Semoga Menginspirasi
Ulama Besar
Syaikh Nawawi amat kodang sebagai ulama besar pada ujung abad kesembilan belas Masehi. Beliau tinggal di Mekkah dan menjadi salah seorang guru besar dalam Madzhab Syafi'i. Di sana ia menyandan nama lengkap Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Muridnya beratus-ratus orang, datang setiap tahun mengambil pelajaran agama Islam darinya, terutama dari daerah Banten, Cirebon, dan daerah Sunda.
Ketiganya kemudian sampai di pondok pesantren di daerah Cikampek (Jawa Barat) untuk belajar lughat (bahasa Arab). Di tempat belajarnya yang baru ini, ketiga kakak-beradik ini diuji terlebih dahulu oleh kiainya. Ternyata, ketiganya lulus ujian dengan baik sekali, bahkan dinyatakan tidak perlu lagi mengulang belajar di pondok pesantren tersebut. Oleh kiainya itu, mereka bertiga dipersilakan pulang.
“Ilmu kalian telah cukup. Kalian pulanglah, sudah ditunggu ibu kalian. Sebab, pohon kelapa di rumah telah berbuah,” ucap sang kiai, seakan tahu bahwa santri-santri itu telah ditunggu sang ibu.
Dari mana sang kiai mendapat berita bahwa pohon kelapa di rumah Syaikh Nawawi telah berbuah? Dalam buku Karomah Para Kiai karya Samsul Munir Amin dijelaskan hal itu tidak lain karena karomah sang kiai, bisa melihat sesuatu yang gaib walaupun tidak tampak di mata.
Rupanya, apa yang dikatakan sang kiai, guru ahli lughat dari Cikampek itu memang benar. Sebab, setibanya Nawawi, Tamim, dan Ahmad di hadapan sang ibu, pohon kelapa yang sengaja ditanam beberapa tahun yang lalu kini telah tumbuh dan berbuah. Maka, kedatangan mereka pun disambut dengan suka cita.
Nawawi pun kembali ke desa kelahirannya, Tanara, setelah sekian tahun menuntut ilmu di beberapa pesantren. Cukup lama juga dia mengembara sebagai santri kelana, sejak pohon kelapa yang sengaja ditanam ibunya masih berupa tunas, sampai pohon itu tumbuh dan berbuah.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa lamanya Nawawi mengembara menuntut ilmu di pesantren-pesantren Jawa itu kurang lebih sekitar 6 tahun karena pada umumnya umur pohon kelapa sampai bisa menghasilkan buah adalah 6 tahun.
Baca juga: Syekh Nawawi al-Bantani Resmi Nama Jalan di Cilincing, Anies: Semoga Menginspirasi
Ulama Besar
Syaikh Nawawi amat kodang sebagai ulama besar pada ujung abad kesembilan belas Masehi. Beliau tinggal di Mekkah dan menjadi salah seorang guru besar dalam Madzhab Syafi'i. Di sana ia menyandan nama lengkap Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Muridnya beratus-ratus orang, datang setiap tahun mengambil pelajaran agama Islam darinya, terutama dari daerah Banten, Cirebon, dan daerah Sunda.
Lihat Juga :