Mewujudkan Khaer Ummah: Pentingnya Wawasan Iqra dan Revolusi Akhlak
Jum'at, 16 September 2022 - 23:18 WIB
Pada tataran individu umat cenderung membatasi Islam sebagai acuan ritual sempit yang seringkali bersifat sememonial dan simbolik. Tapi tidak memiliki makna-makna (realita) sosial yang nyata dalam kehidupan. Akibatnya ritual-ritual itu pada akhirnya mengantar kepada kebangkrutan seperti pada hadits Rasulullah (lihat hadits al-muflis).
Beragama yang demikian mengantar kepada apa yang saya sebut dengan "split personality" atau kepribadian yang terpecah. Kepribadian seperti ini lebih dikenal dengan double standard personality (kepribadian ganda). Di masjid-masjid atau di Mekkah mereka adalah orang-orang yang religious. Ketika di pasar atau parlemen/kantor mereka kerap lebih buas dari hewan dalam perilaku/karakter.
Krisis karakter umat ini tentunya tidak saja pada tataran individu. Tapi juga pada tataran kolektif kebangsaan bahkan pada tataran global. Krisis karakter/akhlak menjadikan justeru negara-negara yang non mayoritas Muslim, Selandia Baru misalnya, lebih Islami ketimbang banyak negara yang berpenduduk mayoritas Muslim.
Oleh karenanya karakter kolektif bangsa negara-negara mayoritas Muslim perlu direformasi. Saya tidak tahu apakah ini yang disebut revolusi akhlak. Tapi terlepas dari pemahaman politis, umat ini perlu melakukan revolusi akhlak itu.
Jika tidak, keindahan Islam yang menjadi atraksi dan faktor terutama ketertarikan orang kepada agama ini menjadi terhalangi. Dilema terbesar tentunya adalah pertanyaan sebagian mereka yang tertarik kepada agama ini: "Jika saya masuk Islam, kira-kira Saya akan seperti siapa?".
Pertanyaan ini harusnya direspons oleh umat ini dengan: "lihat ke kami". Karena kami adalah representasi (Syuhada) ajaran Islam yang indah. Islam yang damai, ramah, bersahabat. Tapi juga Islam yang tidak mudah luntur dan hanyut kepada hawa nafsu orang lain.
Karakter seperti itulah yang dikenal dengan karakter "wasathiyah" yang menjadi karakter dasar umat. Bukankah umat ini memang ummatan wasathon?
(Bersambung)!
NYC Subway, 16 September 2022
Baca Juga: Pentingnya Mewujudkan Khaer Ummah
Beragama yang demikian mengantar kepada apa yang saya sebut dengan "split personality" atau kepribadian yang terpecah. Kepribadian seperti ini lebih dikenal dengan double standard personality (kepribadian ganda). Di masjid-masjid atau di Mekkah mereka adalah orang-orang yang religious. Ketika di pasar atau parlemen/kantor mereka kerap lebih buas dari hewan dalam perilaku/karakter.
Krisis karakter umat ini tentunya tidak saja pada tataran individu. Tapi juga pada tataran kolektif kebangsaan bahkan pada tataran global. Krisis karakter/akhlak menjadikan justeru negara-negara yang non mayoritas Muslim, Selandia Baru misalnya, lebih Islami ketimbang banyak negara yang berpenduduk mayoritas Muslim.
Oleh karenanya karakter kolektif bangsa negara-negara mayoritas Muslim perlu direformasi. Saya tidak tahu apakah ini yang disebut revolusi akhlak. Tapi terlepas dari pemahaman politis, umat ini perlu melakukan revolusi akhlak itu.
Jika tidak, keindahan Islam yang menjadi atraksi dan faktor terutama ketertarikan orang kepada agama ini menjadi terhalangi. Dilema terbesar tentunya adalah pertanyaan sebagian mereka yang tertarik kepada agama ini: "Jika saya masuk Islam, kira-kira Saya akan seperti siapa?".
Pertanyaan ini harusnya direspons oleh umat ini dengan: "lihat ke kami". Karena kami adalah representasi (Syuhada) ajaran Islam yang indah. Islam yang damai, ramah, bersahabat. Tapi juga Islam yang tidak mudah luntur dan hanyut kepada hawa nafsu orang lain.
Karakter seperti itulah yang dikenal dengan karakter "wasathiyah" yang menjadi karakter dasar umat. Bukankah umat ini memang ummatan wasathon?
(Bersambung)!
NYC Subway, 16 September 2022
Baca Juga: Pentingnya Mewujudkan Khaer Ummah
(rhs)
Lihat Juga :