Black Death, Wabah Itu Akhirnya Merenggut Ibnu al-Wardi
Selasa, 14 April 2020 - 07:38 WIB
Siapapun yang melihat mayat akan ketakutan terjangkit wabah. Dia juga menulis, para pemanggul mayat menjadi berlimpah uang dari ongkos mengusung jenazah.
Diceritakan pula, orang-orang mencoba apa saja untuk pengobatan dan pencegahan secara mandiri maupun dari buku kedokteran. Mereka makan dedaunan kering, makanan bercuka, dan bawang.
Ada juga yang bersedekah tiap hari tiada putus agar terhindar dari wabah. Atau menyambung silaturahim kembali dan berdamai dengan musuhnya. Memerdekakan budak-budaknya. Pedagang menambah kadar timbangan sebagai sedekah.
Sejarawan Ulung
Ibnu Al-Wardi lahir tahun 1292 Masehi atau 691 Hijriah di Ma’arrah Al-Nu’man, Suriah dan wafat tahun 1349 Masehi atau 749 Hijriah di Aleppo. Beliau adalah seorang ahli sejarah, serta penulis dan sastrawan. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah Tarikh Ibn Al-Wardi, sebuah buku sejarah dengan pendekatan metodologi penelitian yang up-to-date. Beliau tinggal di wilayah Aleppo, Suriah.
Di sanalah beliau menorehkan tinta emasnya menjadi bagian dari generasi emas Islam pasca masa kebangkitan. Selain dikenal sebagai sejarawan ulung, Ibn Al-Wardi juga dikenal sebagai ahli ilmu geografi dan kartografi. Di antara karyanya dalam bidang geografi adalah Kharidatul Aja’ib wa Faridhatul Gharaib. Buku ini memuat kondisi geografi dunia Arab pada saat itu, termasuk populasi, aneka flora dan fauna, iklim, sistem pemerintahan, dan lain sebagainya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan peta berwarna.
Konon, Ibnu Al-Wardi sebelumnya sudah memprediksi akan ada wabah dari Asia Tengah yang akan menghabisi hampir separuh Eropa dan Afrika.
Black Death merupakan wabah yang tergolong pandemi, alias wabah yang penyebarannya cukup merata dan tak bisa diprediksi kemunculannya secara global. Dikabarkan lebih dari sepertiga penduduk Eropa tewas, ditambah sekitar 40% penduduk Mesir, dan negara-negara jalur darat Eropa, yakni negara-negara Asia Barat, tak terkecuali Syiria.
Diceritakan pula, orang-orang mencoba apa saja untuk pengobatan dan pencegahan secara mandiri maupun dari buku kedokteran. Mereka makan dedaunan kering, makanan bercuka, dan bawang.
Ada juga yang bersedekah tiap hari tiada putus agar terhindar dari wabah. Atau menyambung silaturahim kembali dan berdamai dengan musuhnya. Memerdekakan budak-budaknya. Pedagang menambah kadar timbangan sebagai sedekah.
Sejarawan Ulung
Ibnu Al-Wardi lahir tahun 1292 Masehi atau 691 Hijriah di Ma’arrah Al-Nu’man, Suriah dan wafat tahun 1349 Masehi atau 749 Hijriah di Aleppo. Beliau adalah seorang ahli sejarah, serta penulis dan sastrawan. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah Tarikh Ibn Al-Wardi, sebuah buku sejarah dengan pendekatan metodologi penelitian yang up-to-date. Beliau tinggal di wilayah Aleppo, Suriah.
Di sanalah beliau menorehkan tinta emasnya menjadi bagian dari generasi emas Islam pasca masa kebangkitan. Selain dikenal sebagai sejarawan ulung, Ibn Al-Wardi juga dikenal sebagai ahli ilmu geografi dan kartografi. Di antara karyanya dalam bidang geografi adalah Kharidatul Aja’ib wa Faridhatul Gharaib. Buku ini memuat kondisi geografi dunia Arab pada saat itu, termasuk populasi, aneka flora dan fauna, iklim, sistem pemerintahan, dan lain sebagainya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan peta berwarna.
Konon, Ibnu Al-Wardi sebelumnya sudah memprediksi akan ada wabah dari Asia Tengah yang akan menghabisi hampir separuh Eropa dan Afrika.
Black Death merupakan wabah yang tergolong pandemi, alias wabah yang penyebarannya cukup merata dan tak bisa diprediksi kemunculannya secara global. Dikabarkan lebih dari sepertiga penduduk Eropa tewas, ditambah sekitar 40% penduduk Mesir, dan negara-negara jalur darat Eropa, yakni negara-negara Asia Barat, tak terkecuali Syiria.
(mith)
Lihat Juga :