Dunia atau Akhirat, Manakah yang Lebih Menarik?

Rabu, 26 Oktober 2022 - 12:28 WIB
Dalam Shaidul Khatir, Imam Ibnul Jauzi mengatakan, urusan akhirat bagi orang yang memahami ilmu, akan dianggap di luar tabiatnya. Apalagi, akhirat adalah hal yang ghaib yang diluar jangkauan nalar. Orang yang tidak punya ilmu cenderung akan melihat dunia adalah fakta nyata. Kebahagiaan, keindahan, dan kemewahan dunia bisa langsung dinikmati. Orang tidak berilmu cenderung mengabaikan nasihat dan ancaman dari Al-Qur'an dan hadis.

Orang yang berilmu akan merenungkan hadis Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

"Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadis ini yaitu) Yahya memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu?

[HR. Muslim dan Ibnu Hibbân)

Masih banyak gambaran kehidupan dunia yang begitu gamblang dari Qur'an dan hadis. Lalu akankah kita membiarkan kita terus terlena dan tertipu dengan kehidupan dunia? Relakah kita menukar kehidupan akhirat yang kekal dengan kehidupan dunia yang akan segera sirna?

Dunia adalah bunga yang dipetik kemudian layu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖۤ اَزْوَا جًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى


"Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Ta-Ha 20 : 131)

Hadis dari Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, “RasulullahShallallahu’alaihi Wasallamduduk di mimbar sedangkan kami duduk di sekelilin beliau. Beliau bersabda :

“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian.” (HR. Bukhari Muslim)

Oleh karenanya, syariat Islam menguatkan dengan kabar gembira dan ancaman tentang dunia dan akhirat ini. Agar manusia mempertajam akalnya. Bisa membedakan kenikmatan dunia atau kenikmatan akhirat yang jadi pilihannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!