Kisah Elijah Robert Poole sang Utusan yang Membawa Bendera Islam di Amerika
Minggu, 20 November 2022 - 10:15 WIB
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Dengan menamakan dirinya "Sang Utusan" dan mendukung prinsip-prinsip pertolongan terhadap diri sendiri secara nasional yang dipinjam dari Marcus Garvey, juga ide-ide religius dari pelopornya, Noble Drew Ali, dia membangun kembali kerajaan yang "pernah ada lalu runtuh" di Harlem dan bagian selatan Amerika.
Dia menjadi guru, saksi kebenaran, pemberi nafkah, pemimpin utusan Tuhan yang menawarkan kepada orang-orang kulit hitam yang tertindas seorang dewa kulit hitam yang kuat.
Menurut Steven Barbosa, Elijah Muhammad --atau, terlebih, Malcolm X, wakil nasionalnya-- mendapat liputan yang lebih luas dibanding semua pemimpin Islam lain dalam sejarah Amerika Serikat. Tetapi pendapat-pendapat Elijah tidak selalu disambut baik oleh orang-orang Muslim ortodoks, yang bagi mereka Islam adalah dan selalu merupakan agama universal.
Putra dan penerus Elijah Muhammad sendiri menghindari ajaran-ajarannya dan mengakhiri pemusnahan satu bangsa yang dulu pernah menjadi bangsa yang kuat. Mereka mendirikan banyak masjid, dan di dalam masjid tersebut nasionalisme kulit hitam terhapuskan oleh rasa kesalehan dan persamaan umat manusia, hitam atau putih atau ras apa pun.
Meskipun demikian sisa-sisa konsep rasial Elijah tetap hidup, dan sementara sebagian tempat berkumpul telah disebut sebagai masjid, banyak juga yang masih merupakan tempat ibadah ajaran agama asli daerah tersebut.
Baca juga: Kisah Perjalanan Rohani Muhammad Ali: Malcolm, Ingat David dan Goliath
Dengan menamakan dirinya "Sang Utusan" dan mendukung prinsip-prinsip pertolongan terhadap diri sendiri secara nasional yang dipinjam dari Marcus Garvey, juga ide-ide religius dari pelopornya, Noble Drew Ali, dia membangun kembali kerajaan yang "pernah ada lalu runtuh" di Harlem dan bagian selatan Amerika.
Dia menjadi guru, saksi kebenaran, pemberi nafkah, pemimpin utusan Tuhan yang menawarkan kepada orang-orang kulit hitam yang tertindas seorang dewa kulit hitam yang kuat.
Menurut Steven Barbosa, Elijah Muhammad --atau, terlebih, Malcolm X, wakil nasionalnya-- mendapat liputan yang lebih luas dibanding semua pemimpin Islam lain dalam sejarah Amerika Serikat. Tetapi pendapat-pendapat Elijah tidak selalu disambut baik oleh orang-orang Muslim ortodoks, yang bagi mereka Islam adalah dan selalu merupakan agama universal.
Putra dan penerus Elijah Muhammad sendiri menghindari ajaran-ajarannya dan mengakhiri pemusnahan satu bangsa yang dulu pernah menjadi bangsa yang kuat. Mereka mendirikan banyak masjid, dan di dalam masjid tersebut nasionalisme kulit hitam terhapuskan oleh rasa kesalehan dan persamaan umat manusia, hitam atau putih atau ras apa pun.
Meskipun demikian sisa-sisa konsep rasial Elijah tetap hidup, dan sementara sebagian tempat berkumpul telah disebut sebagai masjid, banyak juga yang masih merupakan tempat ibadah ajaran agama asli daerah tersebut.
Baca juga: Kisah Perjalanan Rohani Muhammad Ali: Malcolm, Ingat David dan Goliath
(mhy)
Lihat Juga :