Sebab-Sebab Ekstrem Keagamaan Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali
Kamis, 24 November 2022 - 17:13 WIB
"Maka mereka menjual diri dan tidak memperoleh untung. Padahal dalam jual beli, harga tidak dimahalkan ..."
Baca juga: Menag Yaqut: Jangan Gegabah Menilai Seseorang Radikal
Sebab-Sebab Psikologis
Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali, sebab-sebab psikologis mulai tumbuh sejak masa kanak-kanak, bahkan terkadang terwarisi secara genetis. Jika pendidikan tidak berhasil melenyapkan sebab-sebab psikologis ini, maka dia akan tumbuh terus pada diri sang anak sampai usia remaja dan tetap berakar dalam tabiatnya hingga masa tua.
Dia memberi contoh Abu Sufyan, pemimpin senior yang terkemuka di Mekkah pada masa jahiliah. Dia dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang gemar kemegahan.
Abbas ra pernah mengusulkan kepada Rasulullah SAW agar beliau berkenan menerangkan sesuatu yang dapat menenangkan hatinya setelah tauhid berhasil mendominasi kehidupan kota Mekkah. Nabi SAW mengabulkan keinginan pamannya dan bersabda:
"Ya, barangsiapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia aman. Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka dia aman. Dan barangsiapa yang tinggal (berdiam) di rumahnya, maka dia aman." (al-Hadits)
Abu Sufyan bergembira karena disebut-sebut namanya dan membuka jalan untuk menyerahkan Mekkah tanpa pertempuran.
Kadangkala cela psikis bersembunyi di balik semangat memperjuangkan nilai-nilai dan ketegasan membela kebenaran. Contoh yang paling jelas adalah seseorang yang menyangsikan keadilan Rasulullah SAW dalam membagi harta rampasan perang. Orang tersebut berkata, "Pembagian tidak dilakukan karena Allah."
Hebatnya, Rasulullah SAW adalah pribadi muslim yang paling sabar dan bijak. Menghadapi masalah seperti itu, Nabi SAW menganggap kelemahan demikian disebabkan oleh godaan dunia karena belum kokohnya keyakinan dalam hati sebagian muslim. Sesungguhnya, terburu-buru menuduh hamba Allah yang paling mulia, Rasulullah SAW, adalah refleksi penyakit batin!
Baca juga: Macron Minta Dukungan untuk UU Pemberangus "Islamisme Radikal"
Baca juga: Menag Yaqut: Jangan Gegabah Menilai Seseorang Radikal
Sebab-Sebab Psikologis
Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali, sebab-sebab psikologis mulai tumbuh sejak masa kanak-kanak, bahkan terkadang terwarisi secara genetis. Jika pendidikan tidak berhasil melenyapkan sebab-sebab psikologis ini, maka dia akan tumbuh terus pada diri sang anak sampai usia remaja dan tetap berakar dalam tabiatnya hingga masa tua.
Dia memberi contoh Abu Sufyan, pemimpin senior yang terkemuka di Mekkah pada masa jahiliah. Dia dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang gemar kemegahan.
Abbas ra pernah mengusulkan kepada Rasulullah SAW agar beliau berkenan menerangkan sesuatu yang dapat menenangkan hatinya setelah tauhid berhasil mendominasi kehidupan kota Mekkah. Nabi SAW mengabulkan keinginan pamannya dan bersabda:
"Ya, barangsiapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia aman. Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka dia aman. Dan barangsiapa yang tinggal (berdiam) di rumahnya, maka dia aman." (al-Hadits)
Abu Sufyan bergembira karena disebut-sebut namanya dan membuka jalan untuk menyerahkan Mekkah tanpa pertempuran.
Kadangkala cela psikis bersembunyi di balik semangat memperjuangkan nilai-nilai dan ketegasan membela kebenaran. Contoh yang paling jelas adalah seseorang yang menyangsikan keadilan Rasulullah SAW dalam membagi harta rampasan perang. Orang tersebut berkata, "Pembagian tidak dilakukan karena Allah."
Hebatnya, Rasulullah SAW adalah pribadi muslim yang paling sabar dan bijak. Menghadapi masalah seperti itu, Nabi SAW menganggap kelemahan demikian disebabkan oleh godaan dunia karena belum kokohnya keyakinan dalam hati sebagian muslim. Sesungguhnya, terburu-buru menuduh hamba Allah yang paling mulia, Rasulullah SAW, adalah refleksi penyakit batin!
Baca juga: Macron Minta Dukungan untuk UU Pemberangus "Islamisme Radikal"
(mhy)
Lihat Juga :