Perang Tiga Raja: Runtuhnya Imperium Portugal di Tangan Muslim Maroko
Sabtu, 10 Desember 2022 - 07:30 WIB
Sultan Abdul Malik terus membakar semangat muslimin untuk mati syahid. Di seberang mereka, para kardinal Portugis pun melakukan hal yang sama, membakar semangat pasukannya yang dipimpin Sebastian. Pasukan Portugis menjadikan perang ini sebagai bagian dari Perang Salib.
Perang ditandai dengan 10 letusan meriam dari kedua belah pihak. Takbir menggema dari muslimin menggetarkan siapa pun yang mendengarnya. Majulah kedua pasukan saling merangsek. Sultan Abdul Malik maju di barisan depan menyerang pasukan tengah musuh. Namun penyakitnya yang parah membuatnya harus dibawa kembali ke dalam tenda. Di tenda ini, hanya ditemani saudaranya Ahmad al-Manshur serta pengawalnya Ridwan al-Alaj, Sultan memberikan instruksi perang dan meminta kematiannya disembunyikan dari tentara mujahidin hingga akhirnya Sultan Abdul Malik pun wafat.
Semangat jihad disertai taktik perang berhasil menekan pasukan Sebastian. Tentara Muslim dibantu kavaleri elit Janisari Utsmaniyah menjadi momok menakutkan bagi Eropa. Tentara muslim berhasil menggulung pasukan sayap Portugis. Seluruh pasukan Portugis lari mundur ke jembatan Sungai Wadil Makhazin.
Aroma kematian menghinggapi pasukan Portugis karena banyak yang mati tercebur ke sungai, termasuk as-Sa'di dan Sebastian yang mayatnya tidak ditemukan. Sisanya tertawan dan terbunuh oleh pasukan muslim. Allah memberikan pertolongan-Nya dengan menghinakan pasukan Portugis di negeri kaum muslimin.
Paska perang Istana Besar ini, naiklah Ahmad al-Manshur sebagai Sultan di Maroko. Kabar kemenangan segera tersebar di seluruh negeri Masroko dan disambut dengan suka cita. Wibawa umat muslim di Maroko kian meningkat sehingga datanglah utusan-utusan dari berbagai negeri Eropa mengirimkan hadiah dan menjalin hubungan dagang.
Di sisi lain, Portugis mengalami masa-masa kegelapan, di mana imperiumnya di belahan dunia runtuh dan dicaplok negara-negara Eropa lainnya, hanya tersisa Timor Leste pada abad ke-20. Kerajaan Portugis sendiri dikuasai dan berada dalam genggaman Spanyol berabad-abad lamanya.
Demikian sekelumit sejarah Perang Tiga Raja dimenangkan oleh pasukan muslim Maroko. Akankah kemenangan serupa diraih Maroko saat bertemu Portugal di babak 8 besar Piala Dunia 2022 malam ini? Yuk kita tunggu saja hasilnya nanti. Wallahu A'lam!
Sumber:
1. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyyah oleh Ali Muhammad As Shalabi
2. Battle of Three Kings wikipedia.org
3. Hidayatullah.com
Baca Juga: Fakta Unik Maroko, Negara Islam yang Melahirkan 6 Tarekat Besar di Dunia
Perang ditandai dengan 10 letusan meriam dari kedua belah pihak. Takbir menggema dari muslimin menggetarkan siapa pun yang mendengarnya. Majulah kedua pasukan saling merangsek. Sultan Abdul Malik maju di barisan depan menyerang pasukan tengah musuh. Namun penyakitnya yang parah membuatnya harus dibawa kembali ke dalam tenda. Di tenda ini, hanya ditemani saudaranya Ahmad al-Manshur serta pengawalnya Ridwan al-Alaj, Sultan memberikan instruksi perang dan meminta kematiannya disembunyikan dari tentara mujahidin hingga akhirnya Sultan Abdul Malik pun wafat.
Semangat jihad disertai taktik perang berhasil menekan pasukan Sebastian. Tentara Muslim dibantu kavaleri elit Janisari Utsmaniyah menjadi momok menakutkan bagi Eropa. Tentara muslim berhasil menggulung pasukan sayap Portugis. Seluruh pasukan Portugis lari mundur ke jembatan Sungai Wadil Makhazin.
Aroma kematian menghinggapi pasukan Portugis karena banyak yang mati tercebur ke sungai, termasuk as-Sa'di dan Sebastian yang mayatnya tidak ditemukan. Sisanya tertawan dan terbunuh oleh pasukan muslim. Allah memberikan pertolongan-Nya dengan menghinakan pasukan Portugis di negeri kaum muslimin.
Paska perang Istana Besar ini, naiklah Ahmad al-Manshur sebagai Sultan di Maroko. Kabar kemenangan segera tersebar di seluruh negeri Masroko dan disambut dengan suka cita. Wibawa umat muslim di Maroko kian meningkat sehingga datanglah utusan-utusan dari berbagai negeri Eropa mengirimkan hadiah dan menjalin hubungan dagang.
Di sisi lain, Portugis mengalami masa-masa kegelapan, di mana imperiumnya di belahan dunia runtuh dan dicaplok negara-negara Eropa lainnya, hanya tersisa Timor Leste pada abad ke-20. Kerajaan Portugis sendiri dikuasai dan berada dalam genggaman Spanyol berabad-abad lamanya.
Demikian sekelumit sejarah Perang Tiga Raja dimenangkan oleh pasukan muslim Maroko. Akankah kemenangan serupa diraih Maroko saat bertemu Portugal di babak 8 besar Piala Dunia 2022 malam ini? Yuk kita tunggu saja hasilnya nanti. Wallahu A'lam!
Sumber:
1. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyyah oleh Ali Muhammad As Shalabi
2. Battle of Three Kings wikipedia.org
3. Hidayatullah.com
Baca Juga: Fakta Unik Maroko, Negara Islam yang Melahirkan 6 Tarekat Besar di Dunia
(rhs)
Lihat Juga :