Kekhalifahan Dinasti Fatimiyah : Pendiri, Sejarah, dan Kekayaan
Sabtu, 31 Desember 2022 - 01:01 WIB
Dinasti Fatimiyah beraliran syiah ismailiyah dan Ubaidillah al Mahdi adalah khalifah yang pertama. Foto : Ilustrasi/Ist.
Kekhalifahan Dinasti Fatimiyah yang meliputi pendiri, sejarah, dan kekayaan peradabannya menarik untuk dipelajari karena ada informasi penting di dalamnya. Baik mengenai kontroversi ideologi syiah ismailiayah-nya maupun tentang pergerakan dinasti ini untuk meninggikan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan menciptakan sebuah peradaban. Disebut Dinasti Fatimiyah karena dinasti ini dinisbatkan kepada Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam dan sekaligus istri Ali bin Abi Thalib Radhiallahu'anhu.
Seperti diketahui, pergolakan politik dan mazhab sangat kuat terjadi di kalangan umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Hingga kemudian pada tahun 909 Masehi, di Tunisia, seseorang yang bernama Said bin Husein yang memiliki nama lain Ubaidullah al-Mahdi Billah mendirikan Dinasti Fatimiyah. Meski dinisbatkan pada Fatimah binti Muhammad, namun sebagian besar ulama telah membantah klaim nasab Ubaidullah al-Mahdi, oleh karena itu ada yang menyebut menyebut daulah ini dengan Daulah Ubaidiyah bukan Daulah Fatimiyah.
Menurut Musyrifah Sunanto, penulis buku Sejarah Islam Klasik, Prenada Media, 2003, bahwa Dinasti Fatimiyah beraliran syiah ismailiyah. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara (Tunisia) karena propaganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan gurbernur Aglabiyah di Afrika, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan.
Ubaidillah merupakan khalifah pertama daulah Fatimiyah. Ia memerintah selama lebih kurang 25 tahun (904-934 M). Dalam masa pemerintahannya, al-Mahdi melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke seluruh Afrika, meliputi Maroko, Mesir, Multa, Alexandria, Sardania, Corsica, dan balerick. Pada 904 M, Khalifah al-Mahdi mendirikan kota baru dipantai Tunisia yang diberi nama kota Mahdiyah yang didirikan sebagai ibukota pemerintahan.
Baca juga : Ini Mengapa Byzantium dan Persia Takluk dengan Kekhalifahan Islam
Di Afrika Utara kekuasaan mereka segera menjadi besar. Pada tahun 909 mereka dapat menguasai dinasti Rustamiyah dan Tahert serta menyerang bani Idris di Maroko. Pekerjaan daulah Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan ummat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah dan istri dari Ali bin Abi Thalib.
Pada awalnya, aliran Syiah Ismailiyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas alias lebih banyak sembunyi-sembunyi. Baru pada masa Abdullah bin Maimun yang mentransformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah. Kegiatan inilah yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah.
Pada tahun 969 M, Fatimiyah sudah memiliki kekuatan yang cukup besar, inilah saatnya menakulkkan wilayah yang besar, strategsi, dan memiliki pengaruh dan prestise, yaitu Mesir. Saat itu, Mesir dipimpin oleh Dinasti Iksidiyah yang dipercayakan penguasa Abbasiyah untuk bertanggung jawab di Mesir dan wilayah kota suci: Mekah, Madinah, dan Jerusalem. Daulah Fatimiyah berhasil menaklukkan Dinasti Iksidiyah sehingga secara otomatis tiga kota suci tersebut jatuh ke wilayah kekuasaan Fatimiyah. Setelah itu, mereka menjadikan Kairo sebagai ibu kota kekhalifahan.
Di akhir tahun 900-an M, daulah ini menjadi sebuah kekuatan adidaya, mereka menguasai sebagian besar dunia Islam, kekuasaan mereka terbentang dari Maroko hingga Suriah. Saat inilah para orientalis menyebut bahwa Daulah Fatimiyah mencapai masa keemasan dan mempraktikkan nilai-nilai toleran antara umat beragama. Meski beberapa literatur sejarah juga mencatat bahwa nilai-nilai toleran itu semakin buruk saat mereka berhasil menaklukkan Mesir.
Seperti diketahui, pergolakan politik dan mazhab sangat kuat terjadi di kalangan umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Hingga kemudian pada tahun 909 Masehi, di Tunisia, seseorang yang bernama Said bin Husein yang memiliki nama lain Ubaidullah al-Mahdi Billah mendirikan Dinasti Fatimiyah. Meski dinisbatkan pada Fatimah binti Muhammad, namun sebagian besar ulama telah membantah klaim nasab Ubaidullah al-Mahdi, oleh karena itu ada yang menyebut menyebut daulah ini dengan Daulah Ubaidiyah bukan Daulah Fatimiyah.
Menurut Musyrifah Sunanto, penulis buku Sejarah Islam Klasik, Prenada Media, 2003, bahwa Dinasti Fatimiyah beraliran syiah ismailiyah. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara (Tunisia) karena propaganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan gurbernur Aglabiyah di Afrika, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan.
Ubaidillah merupakan khalifah pertama daulah Fatimiyah. Ia memerintah selama lebih kurang 25 tahun (904-934 M). Dalam masa pemerintahannya, al-Mahdi melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke seluruh Afrika, meliputi Maroko, Mesir, Multa, Alexandria, Sardania, Corsica, dan balerick. Pada 904 M, Khalifah al-Mahdi mendirikan kota baru dipantai Tunisia yang diberi nama kota Mahdiyah yang didirikan sebagai ibukota pemerintahan.
Baca juga : Ini Mengapa Byzantium dan Persia Takluk dengan Kekhalifahan Islam
Di Afrika Utara kekuasaan mereka segera menjadi besar. Pada tahun 909 mereka dapat menguasai dinasti Rustamiyah dan Tahert serta menyerang bani Idris di Maroko. Pekerjaan daulah Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan ummat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah dan istri dari Ali bin Abi Thalib.
Pada awalnya, aliran Syiah Ismailiyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas alias lebih banyak sembunyi-sembunyi. Baru pada masa Abdullah bin Maimun yang mentransformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah. Kegiatan inilah yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah.
Pada tahun 969 M, Fatimiyah sudah memiliki kekuatan yang cukup besar, inilah saatnya menakulkkan wilayah yang besar, strategsi, dan memiliki pengaruh dan prestise, yaitu Mesir. Saat itu, Mesir dipimpin oleh Dinasti Iksidiyah yang dipercayakan penguasa Abbasiyah untuk bertanggung jawab di Mesir dan wilayah kota suci: Mekah, Madinah, dan Jerusalem. Daulah Fatimiyah berhasil menaklukkan Dinasti Iksidiyah sehingga secara otomatis tiga kota suci tersebut jatuh ke wilayah kekuasaan Fatimiyah. Setelah itu, mereka menjadikan Kairo sebagai ibu kota kekhalifahan.
Di akhir tahun 900-an M, daulah ini menjadi sebuah kekuatan adidaya, mereka menguasai sebagian besar dunia Islam, kekuasaan mereka terbentang dari Maroko hingga Suriah. Saat inilah para orientalis menyebut bahwa Daulah Fatimiyah mencapai masa keemasan dan mempraktikkan nilai-nilai toleran antara umat beragama. Meski beberapa literatur sejarah juga mencatat bahwa nilai-nilai toleran itu semakin buruk saat mereka berhasil menaklukkan Mesir.
Lihat Juga :