Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Selasa, 14 Juli 2020 - 21:28 WIB
loading...
A
A
A
Kiyai Hafidz melanjutkan, apa yang dilakukan Erdogan, dengan kekuasaannya sebenarnya hanya membatalkan keputusan Attaturk yang batil itu, dan mengembalikan status Masjid Wakaf kepada status yang semestinya."Maka, siapa pun, termasuk kaum Kristen tidak mempunyai hak untuk keberatan, apalagi protes, karena hak mereka atas gereja sudah dibeli oleh Sultan Muhammad Al-Fatih kala itu," tegasnya.
Keputusan Muhammad Al-Fatih membeli Hagia Sophia adalah keputusan brilian, yang akhirnya membungkam suara penentangnya ratusan tahun kemudian. Kebijakan yang lahir dari kejernihan hati dan pikiran, serta ketajaman bashirah (matahati) yang luar biasa. (Baca Juga: Kisah Sultan Murad IV dan Waliyullah yang Gemar Beli Khamar )
Karena bashirahnya pula, Sultan Muhammad Al-Fatih telah melayakkan dirinya sebagai penakluk dan mewujudkan bisyarah Nabi yang selama 825 belum berhasil diwujudkan. Maka, terwujudnya bisyarah kedua, juga membutuhkan bashirah, sebagaimana bashirah Muhammad Al-Fatih. Persis seperti ungkapan hikmah: "Siapa yang bisa melihat masa depan (dengan ketajaman matahatinya), maka dia pasti bisa bersabar."
Begitulah Sang Penakluk Sultan Muhammad Al-Fatih melatih dan mengasah bashirahnya, dan begitulah kita seharusnya. Tidaklah lahir seorang pemimpin yang hebat kecuali ditempa oleh guru terbaik dan ketakwaan hakiki. Sultan Mehmed II sukses menjadi pemimpin sekaligus panglima perang sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW 14 abad lalu. (Baca Juga: Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid, Warga Turki Semringah )
Wallahu A'lam
Keputusan Muhammad Al-Fatih membeli Hagia Sophia adalah keputusan brilian, yang akhirnya membungkam suara penentangnya ratusan tahun kemudian. Kebijakan yang lahir dari kejernihan hati dan pikiran, serta ketajaman bashirah (matahati) yang luar biasa. (Baca Juga: Kisah Sultan Murad IV dan Waliyullah yang Gemar Beli Khamar )
Karena bashirahnya pula, Sultan Muhammad Al-Fatih telah melayakkan dirinya sebagai penakluk dan mewujudkan bisyarah Nabi yang selama 825 belum berhasil diwujudkan. Maka, terwujudnya bisyarah kedua, juga membutuhkan bashirah, sebagaimana bashirah Muhammad Al-Fatih. Persis seperti ungkapan hikmah: "Siapa yang bisa melihat masa depan (dengan ketajaman matahatinya), maka dia pasti bisa bersabar."
Begitulah Sang Penakluk Sultan Muhammad Al-Fatih melatih dan mengasah bashirahnya, dan begitulah kita seharusnya. Tidaklah lahir seorang pemimpin yang hebat kecuali ditempa oleh guru terbaik dan ketakwaan hakiki. Sultan Mehmed II sukses menjadi pemimpin sekaligus panglima perang sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW 14 abad lalu. (Baca Juga: Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid, Warga Turki Semringah )
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :