Ajaran Nizamudin Awlia: Tuan Rumah dan Tamu
Rabu, 01 Februari 2023 - 10:33 WIB
loading...
A
A
A
Seorang tamu yang berpengalaman, yang telah mempelajari mengenai rumah dan keramah-tamahan, akan merasa nyaman dalam kedudukannya sebagai tamu; dan selanjutnya, ia sudah siap untuk memahami lebih jauh tentang rumah dan berbagai segi kehidupan di dalamnya. Ketika ia masih mencoba memahami apa gerangan rumah itu, atau berusaha mengingat-ingat aturan etiket, perhatiannya akan sangat tersedot oleh unsur-unsur tersebut, daripada untuk mengamati, misalnya, keindahan, nilai, atau kegunaan perabotan.
Idries Shah menjelaskan, kisah perumpamaan yang luhur ini, yang dikutip dari ajaran-ajaran Nizamudin Awlia yang hidup pada abad keempat belas, dianggap memiliki pesan-pesan kebaikan pada beberapa tingkat. Kisah ini menunjuk pada beragam urutan kegunaan akal agar suatu pemahaman tertentu yang lebih tinggi bisa dicapai.
Kisah ini juga dimaksudkan untuk menekankan, dengan cara yang mudah diterima akal, perlunya keberadaan sekelompok Sufi, dan hubungan batin di antara berbagai orang, dan bagaimana keduanya bisa saling melengkapi.
Banyak perhatian dicurahkan para darwis terutama pada kebutuhan akan pengaturan unsur-unsur tertentu sebelum seseorang bisa menarik manfaat dari usaha-usaha kelompok.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Kisah ini merupakan salah satu kisah Sufi yang mengandung pembatasan. Kisah ini tidak boleh dipelajari terpisah, dan di manapun cerita ini dituliskan, seorang murid harus membaca kisah berikutnya segera sesudah yang satu ini.
Kisah ini tidak muncul dalam kumpulan karya klasik mana pun, tetapi mungkin ditemukan dalam koleksi catatan yang dimiliki para darwis; mereka pun menceritakannya dari waktu ke waktu sebagai bagian rangkaian pelajaran yang terencana.
Versi ini diambil dari naskah yang menyatakan bahwa kisah ini dikarang oleh Guru Agung Syeh Amir-Sayed Kulal Sokhari, yang meninggal tahun 1371.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Idries Shah menjelaskan, kisah perumpamaan yang luhur ini, yang dikutip dari ajaran-ajaran Nizamudin Awlia yang hidup pada abad keempat belas, dianggap memiliki pesan-pesan kebaikan pada beberapa tingkat. Kisah ini menunjuk pada beragam urutan kegunaan akal agar suatu pemahaman tertentu yang lebih tinggi bisa dicapai.
Kisah ini juga dimaksudkan untuk menekankan, dengan cara yang mudah diterima akal, perlunya keberadaan sekelompok Sufi, dan hubungan batin di antara berbagai orang, dan bagaimana keduanya bisa saling melengkapi.
Banyak perhatian dicurahkan para darwis terutama pada kebutuhan akan pengaturan unsur-unsur tertentu sebelum seseorang bisa menarik manfaat dari usaha-usaha kelompok.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Kisah ini merupakan salah satu kisah Sufi yang mengandung pembatasan. Kisah ini tidak boleh dipelajari terpisah, dan di manapun cerita ini dituliskan, seorang murid harus membaca kisah berikutnya segera sesudah yang satu ini.
Kisah ini tidak muncul dalam kumpulan karya klasik mana pun, tetapi mungkin ditemukan dalam koleksi catatan yang dimiliki para darwis; mereka pun menceritakannya dari waktu ke waktu sebagai bagian rangkaian pelajaran yang terencana.
Versi ini diambil dari naskah yang menyatakan bahwa kisah ini dikarang oleh Guru Agung Syeh Amir-Sayed Kulal Sokhari, yang meninggal tahun 1371.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
(mhy)
Lihat Juga :