Kebijakan 2 Khalifah Dinasti Umayyah yang Tetap Berpengaruh hingga Kini
Minggu, 05 Februari 2023 - 14:22 WIB
loading...
A
A
A
Dalam rangka ini, tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah, pada urutan keempat. Menurut Cak Nur, artinya, Utsman, anggota-anggota klan mereka, tetap lebih unggul daripada Ali, namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah, juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali.
Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua, yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya, sedikit atau pun banyak.
Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat, dan menjadi dasar paham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia, yaitu paham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (paham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan), maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah, biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah, lebih singkat lagi, golongan Sunni.
Muawiyah bin Abu Sofyan
Selain 2 khalifah tersebut, sudah barang tentu leluhur mereka, Muawiyah bin Abu Sofyan adalah khalifah yang tak kalah hebatnya. Muawiyah disebut-sebut lebih piawai dibanding pendahulunya, Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Taimiyah dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah, sebagaimana dikutip Cak Nur, masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam, Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal.
Baca juga: Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz Digali dan Dihancurkan
Ini, dalam pandangan Ibnu Taimiyah, menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali, meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu.
Menurut Cak Nur, sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. Misalnya, Ibnu Taimiyah, salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah, mengatakan, "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa, dan rakyatnya mencintainya."
Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu, serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu." (Minhaj al-Sunnah).
Sebaliknya tentang Ali, Ibn Taimiyah masih sempat mencatat demikian, "... Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahal, beliau (Nabi) bersabda, Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan!
Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka. Demi Allah, tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki.'"
Cak Nur menyebut, dalam kutipan pertama Ibnu Taimiyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah, dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi.
Baca juga: Duka Umar bin Abdul Aziz Ketika Diangkat Menjadi Khalifah
Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua, yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya, sedikit atau pun banyak.
Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat, dan menjadi dasar paham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia, yaitu paham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (paham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan), maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah, biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah, lebih singkat lagi, golongan Sunni.
Muawiyah bin Abu Sofyan
Selain 2 khalifah tersebut, sudah barang tentu leluhur mereka, Muawiyah bin Abu Sofyan adalah khalifah yang tak kalah hebatnya. Muawiyah disebut-sebut lebih piawai dibanding pendahulunya, Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Taimiyah dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah, sebagaimana dikutip Cak Nur, masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam, Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal.
Baca juga: Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz Digali dan Dihancurkan
Ini, dalam pandangan Ibnu Taimiyah, menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali, meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu.
Menurut Cak Nur, sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. Misalnya, Ibnu Taimiyah, salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah, mengatakan, "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa, dan rakyatnya mencintainya."
Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu, serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu." (Minhaj al-Sunnah).
Sebaliknya tentang Ali, Ibn Taimiyah masih sempat mencatat demikian, "... Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahal, beliau (Nabi) bersabda, Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan!
Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka. Demi Allah, tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki.'"
Cak Nur menyebut, dalam kutipan pertama Ibnu Taimiyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah, dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi.
Baca juga: Duka Umar bin Abdul Aziz Ketika Diangkat Menjadi Khalifah
(mhy)
Lihat Juga :