Duka Umar bin Abdul Aziz Ketika Diangkat Menjadi Khalifah
Selasa, 16 November 2021 - 05:15 WIB
loading...
Umar bin Abdul Aziz bersedih ketika tahu harus menggantikan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Ia menangis dan berucap, Innalillah wa inna ilaihi rajiun... (Foto/Ilustrasi : Ist)
A
A
A
Umar bin Abdul Aziz tidak memiliki ambisi menjadi khalifah. Ia bahkan berniat menghindar. Begitu ia tahu harus menggantikan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik ia menangis dan berucap, "Innalillah wa inna ilaihi rajiun..."
Baca juga: Umar bin Abdul Aziz, Kisah Ketika Dipecat sebagai Gubernur Madinah
Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari, lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau ath-Thabari dalam buku The History of al-Tabari mengisahkan bahwa ketika menjelang wafatnya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik sempat mempertimbangkan untuk mengangkat putranya yang masih kecil sebagai khalifah untuk menggantikannya.
Ia bertanya tentang perkara ini pada penasehatnya yang bernama Raja’ bin Haywah. Raja’ tidak sependapat dengan usulan tersebut. Kemudian Sulaiman bertanya lagi, “Bagaimana dengan Dawud bin Sulaiman?”
Dawud adalah putra Khalifah Sulaiman yang saat itu sedang mengemban misi melakukan ekspedisi militer ke Kontantinopel.
Itu sebabnya Raja’ juga tidak sepakat, karena tidak ada yang tahu nasibnya, apakah ketika itu Dawud masih hidup ataukah sudah mati.
Akhirnya Khalifah Sulaiman meminta pendapat Raja’ tentang Umar bin Abdul Aziz. Kemudian Raja’ mengatakan bahwa Umar adalah sosok yang sangat tepat. Hanya saja Khalifah Sulaiman sempat ragu, karena Umar bukan berasal dari keturunan Abdul Malik.
Dikhawatirkan keputusan tersebut akan menuai protes dari keluarga Abdul Malik, mengingat saat itu masih ada putra Abdul Malik lainnya, yaitu Hisham bin Abdul Malik dan Yazid bin Abdul Malik. Kedua-duanya sedang harap-harap cemas menunggu giliran menduduki kursi khalifah Dinasti Umayyah.
Baca juga: Meneladani Umar bin Abdul Aziz Saat Work from Home di Tengah Pandemi
Dua Amplop
Akhirnya Sulaiman membuat trik yang cukup terkenal dalam sejarah. Ia menulis dua buah nama yang ditulis masing-masing dalam amplop yang tertutup rapat.
Di hadapan keluarga besar Bani Umayyah ia menyerahkan surat tersebut pada Raja’ bin Haywah. Ia mengatakan bahwa di dalam amplop tersebut terdapat nama-nama orang yang akan menjadi khalifah menggantikannya.
Ia meminta sumpah dari mereka semua untuk mematuhi nama siapapun yang keluar dari amplop tersebut. Menentang perintah ini bisa diartikan sebagai penghianatan, dan itu berarti kematian bagi pelakukanya.
Baca juga: Umar bin Abdul Aziz, Kisah Ketika Dipecat sebagai Gubernur Madinah
Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari, lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau ath-Thabari dalam buku The History of al-Tabari mengisahkan bahwa ketika menjelang wafatnya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik sempat mempertimbangkan untuk mengangkat putranya yang masih kecil sebagai khalifah untuk menggantikannya.
Ia bertanya tentang perkara ini pada penasehatnya yang bernama Raja’ bin Haywah. Raja’ tidak sependapat dengan usulan tersebut. Kemudian Sulaiman bertanya lagi, “Bagaimana dengan Dawud bin Sulaiman?”
Dawud adalah putra Khalifah Sulaiman yang saat itu sedang mengemban misi melakukan ekspedisi militer ke Kontantinopel.
Itu sebabnya Raja’ juga tidak sepakat, karena tidak ada yang tahu nasibnya, apakah ketika itu Dawud masih hidup ataukah sudah mati.
Akhirnya Khalifah Sulaiman meminta pendapat Raja’ tentang Umar bin Abdul Aziz. Kemudian Raja’ mengatakan bahwa Umar adalah sosok yang sangat tepat. Hanya saja Khalifah Sulaiman sempat ragu, karena Umar bukan berasal dari keturunan Abdul Malik.
Dikhawatirkan keputusan tersebut akan menuai protes dari keluarga Abdul Malik, mengingat saat itu masih ada putra Abdul Malik lainnya, yaitu Hisham bin Abdul Malik dan Yazid bin Abdul Malik. Kedua-duanya sedang harap-harap cemas menunggu giliran menduduki kursi khalifah Dinasti Umayyah.
Baca juga: Meneladani Umar bin Abdul Aziz Saat Work from Home di Tengah Pandemi
Dua Amplop
Akhirnya Sulaiman membuat trik yang cukup terkenal dalam sejarah. Ia menulis dua buah nama yang ditulis masing-masing dalam amplop yang tertutup rapat.
Di hadapan keluarga besar Bani Umayyah ia menyerahkan surat tersebut pada Raja’ bin Haywah. Ia mengatakan bahwa di dalam amplop tersebut terdapat nama-nama orang yang akan menjadi khalifah menggantikannya.
Ia meminta sumpah dari mereka semua untuk mematuhi nama siapapun yang keluar dari amplop tersebut. Menentang perintah ini bisa diartikan sebagai penghianatan, dan itu berarti kematian bagi pelakukanya.
Lihat Juga :