16 Kaidah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 177, Terakhir Sabar saat Mendapat Cobaan
Jum'at, 17 Februari 2023 - 16:04 WIB
loading...
A
A
A
Dalam hal ini, juga, kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam, berujud jenjang yang wajar; sanak keluarga kita, anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan); orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu), dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta, dan memang berhak untuk meminta, yakni, bukan sekadar pengemis yang malas tetapi orang yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka); dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka).
Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ," demikian A Yusuf Ali.
Sedangkan Muhammad Asad dalam "The Message of the Qur'an" saat menafsir firman itu, menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya.
Sedangkan dalam Tafsir as-Sa'di oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan firman Allah: “Bukankah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan,” maksudnya, hal itu bukanlah suatu kebajikan yang dimaksudkan dari hamba, sehingga banyaknya pembahasan dan perdebatan tentangnya adalah merupakan usaha yang melelahkan yang tidak menghasilkan kecuali perpecahan dan perselisihan.
Baca juga: Tafsir Surat Al-Kafirun dan Fadhilahnya Bagi yang Membacanya
Ini sejalan dengan sabda Rasulullah: “Bukanlah orang yang perkasa itu adalah dengan perkelahian akan tetapi orang yang perkasa itu adalah orang yang mampu menahan dirinya di saat marah,” (HR Bukhari 6114, Muslim 2609) dan dalam hadits-hadits yang semacamnya.
Cendekiawan Muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid, MA (1939 – 2005) atau populer dipanggil Cak Nur mengatakan dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan, sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan.
"Agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar," ujar Cak Nur, dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" saat membahas masalah simbol dan simbolisme dalam ekspresi keagamaan. .
"Tidak pula segi-segi lahiriah itu akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan, sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki," demikian Cak Nur.
Baca juga: Tafsir Surat Al Isra Ayat 35: Etika dalam Berniaga
Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ," demikian A Yusuf Ali.
Sedangkan Muhammad Asad dalam "The Message of the Qur'an" saat menafsir firman itu, menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya.
Sedangkan dalam Tafsir as-Sa'di oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan firman Allah: “Bukankah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan,” maksudnya, hal itu bukanlah suatu kebajikan yang dimaksudkan dari hamba, sehingga banyaknya pembahasan dan perdebatan tentangnya adalah merupakan usaha yang melelahkan yang tidak menghasilkan kecuali perpecahan dan perselisihan.
Baca juga: Tafsir Surat Al-Kafirun dan Fadhilahnya Bagi yang Membacanya
Ini sejalan dengan sabda Rasulullah: “Bukanlah orang yang perkasa itu adalah dengan perkelahian akan tetapi orang yang perkasa itu adalah orang yang mampu menahan dirinya di saat marah,” (HR Bukhari 6114, Muslim 2609) dan dalam hadits-hadits yang semacamnya.
Cendekiawan Muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid, MA (1939 – 2005) atau populer dipanggil Cak Nur mengatakan dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan, sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan.
"Agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar," ujar Cak Nur, dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" saat membahas masalah simbol dan simbolisme dalam ekspresi keagamaan. .
"Tidak pula segi-segi lahiriah itu akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan, sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki," demikian Cak Nur.
Baca juga: Tafsir Surat Al Isra Ayat 35: Etika dalam Berniaga
(mhy)
Lihat Juga :