Kisah Sufi: Abdullah Putra si Janda Miskin dan Seorang Darwis
Sabtu, 25 Februari 2023 - 09:27 WIB
loading...
A
A
A
Darwis itu pun melakukan gerakan-gerakan aneh, sambil mulutnya komat-kamit, diikuti oleh Abdullah dan bumi terbuka.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Darwis itu berseru, "Sekarang, Abdullah, dengar baik-baik & perhatikan dengan seksama. Kau turunlah ke dalam lubang yang menganga di depan kita itu. Tugasmu adalah mengambil sebuah kandil yang terbuat dari besi. Di sepanjang lorong menuju kandil itu kau akan melihat harta karun yang sangat jarang dilihat oleh manusia. Jangan kau ambil satu pun darinya selain kandil besi yang menjadi tujuanmu. Segera setelah mendapatkannya, bawalah kemari."
Abdullah pun masuk ke lubang harta itu; di sana dilihatnya begitu banyak permata berkilauan, piring-piring dari emas, harta karun yang demikian menakjubkan sehingga tak terkatakan sebab memang tak ada kata-kata yang bisa melukiskannya. Pemuda itu betul-betul terkesima. Tanpa pikir panjang dipenuhinya tangannya dengan benda paling gemerlap yang dilihatnya. Ia melupakan pesan sang darwis.
Dan kemudian dilihatnya kandil besi itu. Berpikir bahwa sebaiknya ia membawa kandil itu pada sang Darwis, dan bahwa ia dapat menyembunyikan cukup emas untuk dirinya sendiri di balik jubahnya, ia mengambil juga kandil itu, lalu mendaki kembali menuju permukiman bumi. Tetapi ketika ia keluar dari lubang, tiba-tiba didapatinya dirinya berada di dekat gubuk ibunya, dan sang darwis tak ada di situ.
Ketika ingin ditunjukkannya emas dan perhiasan yang diambilnya itu kepada ibunya, benda-benda tersebut seperti meleleh dan lenyap. Hanya sisa kandil besi itu. Abdullah memeriksanya. Kandil itu memiliki dua belas cabang, dan pada salah satunya ia nyalakan lilin. Tiba-tiba satu sosok menyerupai seorang darwis muncul. Hantu itu berputar sebentar, kemudian menaruh sekeping koin kecil di lantai dan menghilang kembali.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Abdullah pun menyulut dua belas lilin pada masing-masing cabang kandil. Dua belas darwis mewujud, bergerak seirama satu jam lamanya dan melemparinya dengan koin sebelum mereka lenyap pergi.
Ketika Abdullah dan ibunya telah pulih dari keheranannya, mereka menyadari bahwa mereka bisa hidup cukup baik dengan hasil dari kandil itu, sebab dari "tarian para darwis" mereka memperoleh dua belas keping perak setiap harinya. Namun tak lama berselang, Abdullah teringat pada kekayaan tak ternilai yang ditemukannya di gua bawah tanah, dan ia memutuskan untuk mencoba mendapatkan kesempatan untuk mengambil harta itu bagi dirinya sendiri.
Ia mencari dan mencari, tetapi belum juga menemukan tempat pintu masuk gua. Ia telah terobsesi untuk menjadi kaya. Maka, pergilah ia mengembara ke seluruh dunia hingga tiba di sebuah istana yang ternyata adalah kediaman darwis miskin yang waktu itu dilihat ibunya sedang terhuyung-huyung di dekat gubuk mereka.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Darwis itu berseru, "Sekarang, Abdullah, dengar baik-baik & perhatikan dengan seksama. Kau turunlah ke dalam lubang yang menganga di depan kita itu. Tugasmu adalah mengambil sebuah kandil yang terbuat dari besi. Di sepanjang lorong menuju kandil itu kau akan melihat harta karun yang sangat jarang dilihat oleh manusia. Jangan kau ambil satu pun darinya selain kandil besi yang menjadi tujuanmu. Segera setelah mendapatkannya, bawalah kemari."
Abdullah pun masuk ke lubang harta itu; di sana dilihatnya begitu banyak permata berkilauan, piring-piring dari emas, harta karun yang demikian menakjubkan sehingga tak terkatakan sebab memang tak ada kata-kata yang bisa melukiskannya. Pemuda itu betul-betul terkesima. Tanpa pikir panjang dipenuhinya tangannya dengan benda paling gemerlap yang dilihatnya. Ia melupakan pesan sang darwis.
Dan kemudian dilihatnya kandil besi itu. Berpikir bahwa sebaiknya ia membawa kandil itu pada sang Darwis, dan bahwa ia dapat menyembunyikan cukup emas untuk dirinya sendiri di balik jubahnya, ia mengambil juga kandil itu, lalu mendaki kembali menuju permukiman bumi. Tetapi ketika ia keluar dari lubang, tiba-tiba didapatinya dirinya berada di dekat gubuk ibunya, dan sang darwis tak ada di situ.
Ketika ingin ditunjukkannya emas dan perhiasan yang diambilnya itu kepada ibunya, benda-benda tersebut seperti meleleh dan lenyap. Hanya sisa kandil besi itu. Abdullah memeriksanya. Kandil itu memiliki dua belas cabang, dan pada salah satunya ia nyalakan lilin. Tiba-tiba satu sosok menyerupai seorang darwis muncul. Hantu itu berputar sebentar, kemudian menaruh sekeping koin kecil di lantai dan menghilang kembali.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Abdullah pun menyulut dua belas lilin pada masing-masing cabang kandil. Dua belas darwis mewujud, bergerak seirama satu jam lamanya dan melemparinya dengan koin sebelum mereka lenyap pergi.
Ketika Abdullah dan ibunya telah pulih dari keheranannya, mereka menyadari bahwa mereka bisa hidup cukup baik dengan hasil dari kandil itu, sebab dari "tarian para darwis" mereka memperoleh dua belas keping perak setiap harinya. Namun tak lama berselang, Abdullah teringat pada kekayaan tak ternilai yang ditemukannya di gua bawah tanah, dan ia memutuskan untuk mencoba mendapatkan kesempatan untuk mengambil harta itu bagi dirinya sendiri.
Ia mencari dan mencari, tetapi belum juga menemukan tempat pintu masuk gua. Ia telah terobsesi untuk menjadi kaya. Maka, pergilah ia mengembara ke seluruh dunia hingga tiba di sebuah istana yang ternyata adalah kediaman darwis miskin yang waktu itu dilihat ibunya sedang terhuyung-huyung di dekat gubuk mereka.
Lihat Juga :