Kisah Zatu Anwat dalam Perang Hunain, Ketika Umat Islam Meniru Umat Nabi Musa
Rabu, 15 Maret 2023 - 05:15 WIB
loading...
Dalam pertempuran Hunaik dimenangkan umat Islam. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Di balik perang Hunain ada beberapa peristiwa yang menarik. Salah satunya, kisah tentang zatu anwat yang membuat umat Islam kelakuannya mirip kaum Nabi Musa as . Kala itu, tatkala sekelompok kaum mukminin para sahabat Rasulullah SAW keluar menuju perang Hunain mereka meminta dibuatkan "tuhan".
Pada saat perang Hunain memang masih banyak di antara mereka yang baru masuk Islam. Itu sebabnya ketika mereka melihat kaum musyrikin menggantungkan senjata-senjatanya pada sebuah pohon yang disebut zatu anwat mereka pun kepincut. Di situ kaum Musyrik meminta barakah. Sedangkan mereka merasa tidak punya tempat untuk meminta hal yang sama.
Baca juga: Benarkah Jimat atau Rajah Masuk Kategori Syirik?
Pejuang Islam yang baru meninggalkan kejahiliahan dan kesyirikan berkata: "Wahai Rasulullah, buatkanlah bagi kami zatu anwat seperti mereka".
Rasulullah SAW menjawab: "Allahu akbar" –dalam satu riwayat, subhanallah– ini adalah sunan (cara-cara). Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya sungguh kalian telah mengatakan, seperti perkataan kaumnya Musa kepadanya:
قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗ
"Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". ( QS Al-A'raf : 138)
Hadis tersebut diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Waqid Al-Laisi. Diriwayatkan zatu anwat tersebut digantungkan di sebuah pohon sidrah. Di masa silam orang-orang kafir selalu menggantungkan senjata mereka di pohon sidrah, lalu mereka bersemedi di sekitarnya.
Abdul Malik Ibnu Ahmad Ramadhani dalam buku yang diterjemahkan Ustadz Abu Hamzah Yusuf As-Salafi berjudul As Sabiil (Ilal … wal Tamkiin) mengatakan perhatikanlah betapa agungnya hadis ini. Keadaan mereka yang baru keislamannya, tidak menghalangi Nabi SAW untuk mengingkari mereka dari satu kalimat yang akan menghantarkan pada kesyirikan.
Baca juga: Takut Kepada Makhluk Ghaib? Hati-hati Terjerumus Syirik
Keadaan mereka yang rapi berkelompok keluar dalam rangka memerangi orang-orang kafir tidak mencegah Rasulullah SAW untuk mendiamkan kesalahan akidah yang ada pada mereka. Karena jika hal itu dilakukan akan lenyaplah jihad itu dan akan menimpa sesuatu yang Allah lebih tahu tentangnya. "Maka, tidak boleh selama-lamanya mendiamkan haq Allah untuk diibadahi ini satu syarat yang agung," tutur Abdul Malik.
Selama belum terealisasikan tauhid pada umat ini dan selama bersikap diam dari orang-orang lemah dan lanjut usia bahkan dari kebanyakan orang yang berpendidikan, menurut dia, maka tidak akan mungkin umat ini akan mendapatkan pertolongan atau menginginkan keberhasilan.
Jika demikian kerasnya sikap Rasulullah SAW dan marahnya karena Allah terhadap orang-orang yang hanya sekadar minta sesuatu yang serupa dengan orang-orang yang menggantungkan senjata-senjatanya pada suatu pohon tanpa menyembahnya atau pun berdoa padanya.
Pada saat perang Hunain memang masih banyak di antara mereka yang baru masuk Islam. Itu sebabnya ketika mereka melihat kaum musyrikin menggantungkan senjata-senjatanya pada sebuah pohon yang disebut zatu anwat mereka pun kepincut. Di situ kaum Musyrik meminta barakah. Sedangkan mereka merasa tidak punya tempat untuk meminta hal yang sama.
Baca juga: Benarkah Jimat atau Rajah Masuk Kategori Syirik?
Pejuang Islam yang baru meninggalkan kejahiliahan dan kesyirikan berkata: "Wahai Rasulullah, buatkanlah bagi kami zatu anwat seperti mereka".
Rasulullah SAW menjawab: "Allahu akbar" –dalam satu riwayat, subhanallah– ini adalah sunan (cara-cara). Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya sungguh kalian telah mengatakan, seperti perkataan kaumnya Musa kepadanya:
قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗ
"Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". ( QS Al-A'raf : 138)
Hadis tersebut diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Waqid Al-Laisi. Diriwayatkan zatu anwat tersebut digantungkan di sebuah pohon sidrah. Di masa silam orang-orang kafir selalu menggantungkan senjata mereka di pohon sidrah, lalu mereka bersemedi di sekitarnya.
Abdul Malik Ibnu Ahmad Ramadhani dalam buku yang diterjemahkan Ustadz Abu Hamzah Yusuf As-Salafi berjudul As Sabiil (Ilal … wal Tamkiin) mengatakan perhatikanlah betapa agungnya hadis ini. Keadaan mereka yang baru keislamannya, tidak menghalangi Nabi SAW untuk mengingkari mereka dari satu kalimat yang akan menghantarkan pada kesyirikan.
Baca juga: Takut Kepada Makhluk Ghaib? Hati-hati Terjerumus Syirik
Keadaan mereka yang rapi berkelompok keluar dalam rangka memerangi orang-orang kafir tidak mencegah Rasulullah SAW untuk mendiamkan kesalahan akidah yang ada pada mereka. Karena jika hal itu dilakukan akan lenyaplah jihad itu dan akan menimpa sesuatu yang Allah lebih tahu tentangnya. "Maka, tidak boleh selama-lamanya mendiamkan haq Allah untuk diibadahi ini satu syarat yang agung," tutur Abdul Malik.
Selama belum terealisasikan tauhid pada umat ini dan selama bersikap diam dari orang-orang lemah dan lanjut usia bahkan dari kebanyakan orang yang berpendidikan, menurut dia, maka tidak akan mungkin umat ini akan mendapatkan pertolongan atau menginginkan keberhasilan.
Jika demikian kerasnya sikap Rasulullah SAW dan marahnya karena Allah terhadap orang-orang yang hanya sekadar minta sesuatu yang serupa dengan orang-orang yang menggantungkan senjata-senjatanya pada suatu pohon tanpa menyembahnya atau pun berdoa padanya.
Lihat Juga :