Melepaskan Keakuan Seorang Mukmin Menurut Jalaluddin Rakhmat
Minggu, 19 Maret 2023 - 17:12 WIB
loading...
A
A
A
Sabda ini terdengar begitu berat sehingga lbnu Mas'ud bertanya, "Apa maksud karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?"'
Rasulullah SAW bersabda, "Karena mereka berdoa kepada Allah supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdoa agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena doa mereka, Allah menolakkan berbagai bencana."
Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terimakasih khusus kepada mereka.
Kata Rasulullah SAW, "Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu karena banyak salat atau banyak puasa."
Sangat mengherankan; bukanlah untuk menjadi auliya', kita harus menjalankan berbagai riyadhah atau suluk, yang tidak lain daripada sejumlah zikr, doa, dan ibadah-ibadah lainnya? Seperti kita semua, para sahabat heran.
Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, fima adrakuha?"
Beliau bersabda, "Bissakhai wan-Nashihati lil muslimin" (Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum Muslim).
Dalam hadis lain, Nabi berkata, "Bishidqil wara', wa husnin niyyati, wa salamatil qalbi, wan-Nashihati li jami'il muslimin" (Dengan ketaatan yang tulus, kebaikan niat, kebersihan hati, dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim) (lihat Al-Durr Al-Mantsur, 1:767).
Baca juga: Tasawuf dan Para Sufi Menurut Ibnu Taimiyah
Kedermawanan
Jadi, yang mempercepat orang mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT bukanlah frekuensi salat dan puasa. Bukankah semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah, yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita?
Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, pertama, adalah al-sakha (kedermawanan). Berjalan menuju Allah berarti meninggalkan rumah kita yang sempit --keakuan kita. Keakuan ini tampak dengan jelas pada "aku" sebagai pusat perhatian.
Seluruh gerak kita ditujukan untuk "aku". Kebahagian diukur dari sejauh mana sesuatu menjadi "milikku." Orang yang dermawan adalah orang yang telah meninggalkan "aku." Ia sudah bergeser ke falsafah "Untuk Dia".
Rasulullah SAW bersabda, "Karena mereka berdoa kepada Allah supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdoa agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena doa mereka, Allah menolakkan berbagai bencana."
Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terimakasih khusus kepada mereka.
Kata Rasulullah SAW, "Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu karena banyak salat atau banyak puasa."
Sangat mengherankan; bukanlah untuk menjadi auliya', kita harus menjalankan berbagai riyadhah atau suluk, yang tidak lain daripada sejumlah zikr, doa, dan ibadah-ibadah lainnya? Seperti kita semua, para sahabat heran.
Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, fima adrakuha?"
Beliau bersabda, "Bissakhai wan-Nashihati lil muslimin" (Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum Muslim).
Dalam hadis lain, Nabi berkata, "Bishidqil wara', wa husnin niyyati, wa salamatil qalbi, wan-Nashihati li jami'il muslimin" (Dengan ketaatan yang tulus, kebaikan niat, kebersihan hati, dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim) (lihat Al-Durr Al-Mantsur, 1:767).
Baca juga: Tasawuf dan Para Sufi Menurut Ibnu Taimiyah
Kedermawanan
Jadi, yang mempercepat orang mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT bukanlah frekuensi salat dan puasa. Bukankah semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah, yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita?
Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, pertama, adalah al-sakha (kedermawanan). Berjalan menuju Allah berarti meninggalkan rumah kita yang sempit --keakuan kita. Keakuan ini tampak dengan jelas pada "aku" sebagai pusat perhatian.
Seluruh gerak kita ditujukan untuk "aku". Kebahagian diukur dari sejauh mana sesuatu menjadi "milikku." Orang yang dermawan adalah orang yang telah meninggalkan "aku." Ia sudah bergeser ke falsafah "Untuk Dia".
Lihat Juga :