Memaknai Keberkahan Ramadan (9): Semua Waktu Bernilai Ibadah
Senin, 03 April 2023 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Maksimalisasi waktu terus terjadi dari sholat fajar, dzikir subuh, bahkan ketika seorang shooim (orang berpuasa) berangkat ke tempat kegiatan (kerjaan) masing-masing. Semuanya membawa keberkahan yang dilipat gandakan. Sholat-sholat sunnah, termasuk Dhuha, hajat, maupun dzikir-dzikir harian dilipatgandakan dalam pahala.
Belum lagi karena Ramadan adalah bulan Al-Qur'an, pastinya seorang Mukmin akan maksimal dalam menggunakan waktunya untuk mengaji dan mengkaji Al-Qur'an. Bahkan segala kegiatan harian yang dilakukan oleh orang berpuasa jika saja sesuai dengan ajaran agamanya memiliki nilai ibadah di sisi Allah SWT.
Sehingga pastinya semangat dan motivasi untuk bekerja bukan menurun. Justru sebaliknya akan semakin meninggi demi meraih pahala yang dijanjikan.
Hingga menjelang buka puasa, di momen terafdhol untuk berdoa, seorang hamba akan merendahkan diri dan jiwanya kepada Pencipta langit dan bumi, menyampaikan segala uneg-uneg dan hajatnya.
Harinya diakhiri dengan berbuka puasa yang juga menjanjikan keberkahan. Di saat berbuka seorang hamba akan merasakan kegembiraan (farhatun) sebagai pembuka bagi kegembiraan terbesar di saat berjumpa dengan Tuhannya. Bukan puasa berlanjut dengan sholat Maghrib, disusul dengan santap malam yang juga memilki nilai keberkahan.
Malam hari kembali dipersiapkan untuk hari esok yang baru dengan ketaatan (tarawih). Di sebagian komunitas Muslim bahkan imam tarawih membacakan 1 juz setiap malamnya. Sungguh keberkahan ibadah, keberkahan Al-Qur'an, dan keberkahan Ramadan semuanya menjadi keberkahan waktu seorang Mukmin.
Bahkan tidur seorang Mukmin di malam hari di bulan Ramadan bernilai ibadah karena dia teridur dengan niat suci menjalankan ibadah puasa di keesokan hari. Sehingga setiap detik masa dan detak jantung serta pergerakan nafasnya memiliki nilai dan makna ubudiyah di sisi ilahi.
Belajar disiplin dan maksimalisasi waktu adalah keberkahan tersendiri yang sangat luar biasa di bulan Ramadan ini.
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (8): Puasa Hadir untuk Menata Hati
Belum lagi karena Ramadan adalah bulan Al-Qur'an, pastinya seorang Mukmin akan maksimal dalam menggunakan waktunya untuk mengaji dan mengkaji Al-Qur'an. Bahkan segala kegiatan harian yang dilakukan oleh orang berpuasa jika saja sesuai dengan ajaran agamanya memiliki nilai ibadah di sisi Allah SWT.
Sehingga pastinya semangat dan motivasi untuk bekerja bukan menurun. Justru sebaliknya akan semakin meninggi demi meraih pahala yang dijanjikan.
Hingga menjelang buka puasa, di momen terafdhol untuk berdoa, seorang hamba akan merendahkan diri dan jiwanya kepada Pencipta langit dan bumi, menyampaikan segala uneg-uneg dan hajatnya.
Harinya diakhiri dengan berbuka puasa yang juga menjanjikan keberkahan. Di saat berbuka seorang hamba akan merasakan kegembiraan (farhatun) sebagai pembuka bagi kegembiraan terbesar di saat berjumpa dengan Tuhannya. Bukan puasa berlanjut dengan sholat Maghrib, disusul dengan santap malam yang juga memilki nilai keberkahan.
Malam hari kembali dipersiapkan untuk hari esok yang baru dengan ketaatan (tarawih). Di sebagian komunitas Muslim bahkan imam tarawih membacakan 1 juz setiap malamnya. Sungguh keberkahan ibadah, keberkahan Al-Qur'an, dan keberkahan Ramadan semuanya menjadi keberkahan waktu seorang Mukmin.
Bahkan tidur seorang Mukmin di malam hari di bulan Ramadan bernilai ibadah karena dia teridur dengan niat suci menjalankan ibadah puasa di keesokan hari. Sehingga setiap detik masa dan detak jantung serta pergerakan nafasnya memiliki nilai dan makna ubudiyah di sisi ilahi.
Belajar disiplin dan maksimalisasi waktu adalah keberkahan tersendiri yang sangat luar biasa di bulan Ramadan ini.
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (8): Puasa Hadir untuk Menata Hati
(rhs)
Lihat Juga :