Kisah Libya Menjadi Negara Transit Para Migran Menuju Eropa
Selasa, 01 Agustus 2023 - 16:28 WIB
loading...
Migrasi dari Libya ke Eropa menggunakan kapal nelayan. Foto/IlustrasI; qantara
A
A
A
Ali Majdi masih ingin mencoba bermigrasi ke Eropa . Padahal belum lama ini ratusan orang tewas ketika sebuah kapal nelayan terbalik di lepas pantai Yunani . Kapal itu kelebihan muatan penumpang saat mengarungi lautan dari Libya menuju Eropa.
Pengungsi Suriah berusia 28 tahun itu telah mencoba meninggalkan Libya ke Eropa sekali. Dia membayar penyelundup manusia di kota pesisir Zawiya US$1.960 atau sekitar Rp29,6 juta dan akhirnya bisa naik perahu melintasi Mediterania. Tujuan akhir Majdi adalah Jerman, tempat tinggal keluarganya sekarang. Dia belum melihat mereka selama delapan tahun.
Hanya saja, kapal tersebut dicegat oleh penjaga pantai Libya dan dipaksa kembali ke Libya. "Harapan saya hancur," katanya kepada DW, sebagaimana dikutip Qantara. "Mereka memaksa saya untuk kembali ke sini. Saya sangat terpukul. Tapi saya bertekad untuk mencoba lagi."
"Saya tahu risikonya," lanjutnya, "tetapi saya masih ingin berlayar melintasi Mediterania. Saya harus mencapai Jerman."
Baca juga: Lindungi Pengungsi Suriah, Angela Merkel Raih Penghargaan Nansen
Majdi hanyalah satu dari ratusan ribu orang asing di Libya. Ada yang senang tetap di sana, ada pula yang masih berusaha mencari jalan keluar. Menurut angka Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), ada lebih dari 700.000 orang migran di Libya saat ini, yang merupakan lebih dari 10% dari total populasi negara itu.
Pada saat ini Libya masih terpecah secara politik, setelah revolusi yang menggulingkan Muammar Gaddafi. Negara Afrika Utara itu telah menjadi titik jalan yang populer bagi para migran. Wilayah ini relatif dekat dengan pantai Yunani dan Italia.
Lebih dari 56.000 orang melakukan perjalanan melintasi laut ke Italia dalam 3 bulan pertama tahun ini. Sekitar setengah dari mereka memulai perjalanan mereka dari Libya.
Majdi mengatakan bahwa dia tentu saja khawatir dengan risiko penyeberangan lagi dan dia mengakui bahwa dia juga takut dengan penjaga pantai Yunani.
Rumah Baru
Pengungsi Suriah berusia 28 tahun itu telah mencoba meninggalkan Libya ke Eropa sekali. Dia membayar penyelundup manusia di kota pesisir Zawiya US$1.960 atau sekitar Rp29,6 juta dan akhirnya bisa naik perahu melintasi Mediterania. Tujuan akhir Majdi adalah Jerman, tempat tinggal keluarganya sekarang. Dia belum melihat mereka selama delapan tahun.
Hanya saja, kapal tersebut dicegat oleh penjaga pantai Libya dan dipaksa kembali ke Libya. "Harapan saya hancur," katanya kepada DW, sebagaimana dikutip Qantara. "Mereka memaksa saya untuk kembali ke sini. Saya sangat terpukul. Tapi saya bertekad untuk mencoba lagi."
"Saya tahu risikonya," lanjutnya, "tetapi saya masih ingin berlayar melintasi Mediterania. Saya harus mencapai Jerman."
Baca juga: Lindungi Pengungsi Suriah, Angela Merkel Raih Penghargaan Nansen
Majdi hanyalah satu dari ratusan ribu orang asing di Libya. Ada yang senang tetap di sana, ada pula yang masih berusaha mencari jalan keluar. Menurut angka Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), ada lebih dari 700.000 orang migran di Libya saat ini, yang merupakan lebih dari 10% dari total populasi negara itu.
Pada saat ini Libya masih terpecah secara politik, setelah revolusi yang menggulingkan Muammar Gaddafi. Negara Afrika Utara itu telah menjadi titik jalan yang populer bagi para migran. Wilayah ini relatif dekat dengan pantai Yunani dan Italia.
Lebih dari 56.000 orang melakukan perjalanan melintasi laut ke Italia dalam 3 bulan pertama tahun ini. Sekitar setengah dari mereka memulai perjalanan mereka dari Libya.
Majdi mengatakan bahwa dia tentu saja khawatir dengan risiko penyeberangan lagi dan dia mengakui bahwa dia juga takut dengan penjaga pantai Yunani.
Rumah Baru
Lihat Juga :