Kisah Libya Menjadi Negara Transit Para Migran Menuju Eropa
Selasa, 01 Agustus 2023 - 16:28 WIB
loading...
A
A
A
Tidak semua orang merasa seperti ini. Rida Solan berasal dari Pakistan dan dia juga awalnya ingin datang ke Eropa untuk bekerja. Warga Suriah, Pakistan, dan Bangladesh seringkali dari Suriah dengan penerbangan sipil ke Libya, sebelum mencoba menuju Eropa. Orang-orang yang datang dari tempat lain, termasuk dari Afrika, sering menyeberang ke Libya di perbatasan darat.
Solan membayar US$2.175 atau sekitar Rp36,6 juta kepada penyelundup manusia di Zawiya. Daerah ini dikenal sebagai sarang aktivitas penyelundupan. Upaya pertama pergi ke Eropa ini gagal. Pria berusia 31 tahun itu ditangkap oleh otoritas Italia, lalu dikembalikan ke Libya.
Baca juga: Moskow, Kota Muslim Terbesar di Benua Eropa
Kini, Solan memutuskan untuk tetap tinggal di Libya. Dia telah berhasil mendapatkan pekerjaan di toko jus di Misrata, sebuah kota sekitar 220 kilometer lebih jauh di sepanjang pantai dari Zawiya dan dengan senang hati menabung.
"Saya bersumpah untuk tidak mempertimbangkan migrasi lagi atau mempertaruhkan hidup saya," katanya. "Dan saya memutuskan untuk tinggal di sini dan bekerja di Misrata karena ini adalah salah satu kota teraman di negara ini."
Menurutnya, Libya bagus karena semua yang ada di sini gratis, seperti listrik dan air. "Jadi saya bisa menghemat lebih banyak uang daripada di Eropa," katanya.
Cara Paling Aman
Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB atau IOM melaporkan pada pertengahan Juni 2023 setidaknya 7.292 orang telah dipulangkan ke Libya ketika mereka mencoba menyeberang ke Eropa melalui apa yang dikenal sebagai rute Mediterania tengah.
Organisasi itu juga mengatakan bahwa pada periode yang sama, 662 orang meninggal dan 368 orang hilang.
Kematian dan penghilangan terakhir adalah alasan mengapa penyelundup manusia yang berbasis di Libya mempromosikan diri mereka sebagai penyedia "perjalanan aman" melintasi Mediterania.
Solan membayar US$2.175 atau sekitar Rp36,6 juta kepada penyelundup manusia di Zawiya. Daerah ini dikenal sebagai sarang aktivitas penyelundupan. Upaya pertama pergi ke Eropa ini gagal. Pria berusia 31 tahun itu ditangkap oleh otoritas Italia, lalu dikembalikan ke Libya.
Baca juga: Moskow, Kota Muslim Terbesar di Benua Eropa
Kini, Solan memutuskan untuk tetap tinggal di Libya. Dia telah berhasil mendapatkan pekerjaan di toko jus di Misrata, sebuah kota sekitar 220 kilometer lebih jauh di sepanjang pantai dari Zawiya dan dengan senang hati menabung.
"Saya bersumpah untuk tidak mempertimbangkan migrasi lagi atau mempertaruhkan hidup saya," katanya. "Dan saya memutuskan untuk tinggal di sini dan bekerja di Misrata karena ini adalah salah satu kota teraman di negara ini."
Menurutnya, Libya bagus karena semua yang ada di sini gratis, seperti listrik dan air. "Jadi saya bisa menghemat lebih banyak uang daripada di Eropa," katanya.
Cara Paling Aman
Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB atau IOM melaporkan pada pertengahan Juni 2023 setidaknya 7.292 orang telah dipulangkan ke Libya ketika mereka mencoba menyeberang ke Eropa melalui apa yang dikenal sebagai rute Mediterania tengah.
Organisasi itu juga mengatakan bahwa pada periode yang sama, 662 orang meninggal dan 368 orang hilang.
Kematian dan penghilangan terakhir adalah alasan mengapa penyelundup manusia yang berbasis di Libya mempromosikan diri mereka sebagai penyedia "perjalanan aman" melintasi Mediterania.
Lihat Juga :