Sifat dan Karakteristik Ibad ar-Rahman (1): Menghambakan Diri kepada Allah
Selasa, 22 Agustus 2023 - 14:53 WIB
loading...
A
A
A
Contoh kedua, saat beliau diperjalankan di malam hari (Isra') lalu diperjalankan ke atas (Mi'raj) Sidratul Muntaha. Beliau disebut sebagai abdun: "Maha Suci Allah yang memperjalankan hambaNya (abdahu) di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa." (Al-Isra: 1).
Penggunaan kata abdun ('abdahu) di ayat ini karena relevansinya dengan sebuah perjaanan suci yang mulia, dari tempat yang suci dan mulia ke tempat yang suci dan mulia, untuk bertemu dengan Sumber segala kesucian dan kemuliaan. Sehingga Muhammad Rasulullah yang sedang mengalami perjalanan mulia dan suci itu itu dipanggil dengan penyebutan termulia abdahu.
Contoh ketiga, pemanggilan mereka yang pendosa namun punya keinginan untuk kembali ke jalanNya. Mereka dalam Al-Qur'an disebut "عبادي" (hamba-hamba-Ku).
Di Surah Az-Zumar ayat 53 Allah memanggil mereka yang pendosa: "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri. Jangan berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha mengampuni lagi Maha Penyayang."
Penyebutan mereka yang berdosa di ayat ini sebagai ibaad atau hamba-hamba menunjukkan kemuliaan dan kehormatan sekaligus kecintaan Allah kepada hamba-hambaNya yang mau bertaubat. Kemuliaan bertaubat menjadikan pelaku taubat juga dipanggil dengan panggilan yang mulia (ibaad).
Demikianlah karakter atau sifat pertama dari orang-orang beriman di Surah Al-Furqan ini. Bahwa mereka adalah hamba-hamba-Nya, yang berserah diri secara totalitàs dengan penghambaan kepadaNya. Dan karena penghambaan totalitàs inilah mereka dipanggil dengan panggilan "عباد الرحمن" (hamba-hambaYang Maha Rahman).
Sungguh sebuah sifat yang sangat agung dan mulia. Sebagian ulama bahkan mengatakan jika sifat-sifat selanjutnya hanyalah penguat atau pelengkap dari sifat "ubudiyah" (penghambaan) ini. Bahwa dengan sifat ini seorang Mukmin sukses dengan misi hidup dunianya untuk menghamba kepada Allah Yang Maha Rahman.
Manhattan City, 17 Agustus 2023
(Bersambung)!
Baca Juga: 3 Prinsip Kepemimpinan yang Efektif Menurut Al-Qur'an
Penggunaan kata abdun ('abdahu) di ayat ini karena relevansinya dengan sebuah perjaanan suci yang mulia, dari tempat yang suci dan mulia ke tempat yang suci dan mulia, untuk bertemu dengan Sumber segala kesucian dan kemuliaan. Sehingga Muhammad Rasulullah yang sedang mengalami perjalanan mulia dan suci itu itu dipanggil dengan penyebutan termulia abdahu.
Contoh ketiga, pemanggilan mereka yang pendosa namun punya keinginan untuk kembali ke jalanNya. Mereka dalam Al-Qur'an disebut "عبادي" (hamba-hamba-Ku).
Di Surah Az-Zumar ayat 53 Allah memanggil mereka yang pendosa: "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri. Jangan berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha mengampuni lagi Maha Penyayang."
Penyebutan mereka yang berdosa di ayat ini sebagai ibaad atau hamba-hamba menunjukkan kemuliaan dan kehormatan sekaligus kecintaan Allah kepada hamba-hambaNya yang mau bertaubat. Kemuliaan bertaubat menjadikan pelaku taubat juga dipanggil dengan panggilan yang mulia (ibaad).
Demikianlah karakter atau sifat pertama dari orang-orang beriman di Surah Al-Furqan ini. Bahwa mereka adalah hamba-hamba-Nya, yang berserah diri secara totalitàs dengan penghambaan kepadaNya. Dan karena penghambaan totalitàs inilah mereka dipanggil dengan panggilan "عباد الرحمن" (hamba-hambaYang Maha Rahman).
Sungguh sebuah sifat yang sangat agung dan mulia. Sebagian ulama bahkan mengatakan jika sifat-sifat selanjutnya hanyalah penguat atau pelengkap dari sifat "ubudiyah" (penghambaan) ini. Bahwa dengan sifat ini seorang Mukmin sukses dengan misi hidup dunianya untuk menghamba kepada Allah Yang Maha Rahman.
Manhattan City, 17 Agustus 2023
(Bersambung)!
Baca Juga: 3 Prinsip Kepemimpinan yang Efektif Menurut Al-Qur'an
(rhs)
Lihat Juga :