Siapa yang Tidak Wajib Mempelajari Akidah tentang Qadar? Begini Penjelasan Syaikh Al-Utsaimin
Rabu, 23 Agustus 2023 - 14:31 WIB
loading...
A
A
A
"Ini adalah masalah yang berbahaya," kata Al-'Utsaimin. Sebaliknya, lanjutnya, memperhatikan perkara akidah saja tanpa mengamalkan apa yang telah disyari'atkan (Allah) sebagai benteng dan pagar (dari perbuatan jahat) juga sangat keliru.
Karena kita telah mendengar dari berbagai siaran (TV dan radio) dan membaca dari media massa adanya upaya penyederhanaan pemahaman bahwa agama adalah akidah yang toleran dan beberapa ungkapan serupa yang lain. Pada hakikatnya, hal ini sangat dikhawatirkan menjadi pintu bagi orang yang ingin menghalalkan yang haram dengan alasan bahwa akidah membenarkan, akan tetapi harus diperhatikan dua sekaligus agar terjadi pertanyaan "kenapa" dan "bagaimana".
Baca juga: Seputar Iktikaf Menurut Al-Utsaimin, Bolehkah Menerima Telepon?
Ringkasnya, Al-'Utsaimin mengatakan, setiap orang harus mempelajari ilmu tauhid dan akidah agar mengetahui Rabb yang dia sembah, mengetahui nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, mengetahui tentang hukum-hukum kauniyah-Nya (ketentuan-Nya tehadap alam) dan hukum-hukum syari'ah-Nya, mengetahui kebijakan-Nya dan rahasia syari'ah dan ciptaan-Nya, sehingga dia tidak tersesat dan menyesatkan orang lain.
Ilmu Tauhid adalah ilmu yang paling agung karena agungnya obyek yang dibicarakan di dalamnya (Allah). Oleh karena itu, ilmu tersebut disebut oleh para ulama' dengan "Fiqh Akbar".
Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa dikehendaki Allah menjadi baik, maka Dia memahamkannya tentang agama".
Al-'Utsaimin mengatakan ilmu yang paling pertama dan utama dalam agama adalah ilmu tauhid dan akidah. Akan tetapi seseorang juga harus memperhatikan bagaimana cara dan dari mana sumber memperolehnya. Maka seharusnya dia mengambil ilmu tersebut dari sumber yang murni serta selamat dari berbagai syubhat, agar dia bisa menolak syubhat tersebut dan menjelaskan aqidah murni yang telah dia peroleh sebelumnya.
Al-'Utsaimin mengingatkan hendaklah sumber yang dipelajari adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasul SAW lalu pendapat para Sahabat, kemudian pendapat para imam sesudahnya yakni tabi'in maupun pengikutnya dan kemudian pendapat para ulama' yang dapat dipertanggung jawabkan ilmu dan kejujurannya.
Baca juga: Inilah Wasiat Syaikh Al Utsaimin untuk Perempuan Muslimah
Karena kita telah mendengar dari berbagai siaran (TV dan radio) dan membaca dari media massa adanya upaya penyederhanaan pemahaman bahwa agama adalah akidah yang toleran dan beberapa ungkapan serupa yang lain. Pada hakikatnya, hal ini sangat dikhawatirkan menjadi pintu bagi orang yang ingin menghalalkan yang haram dengan alasan bahwa akidah membenarkan, akan tetapi harus diperhatikan dua sekaligus agar terjadi pertanyaan "kenapa" dan "bagaimana".
Baca juga: Seputar Iktikaf Menurut Al-Utsaimin, Bolehkah Menerima Telepon?
Ringkasnya, Al-'Utsaimin mengatakan, setiap orang harus mempelajari ilmu tauhid dan akidah agar mengetahui Rabb yang dia sembah, mengetahui nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, mengetahui tentang hukum-hukum kauniyah-Nya (ketentuan-Nya tehadap alam) dan hukum-hukum syari'ah-Nya, mengetahui kebijakan-Nya dan rahasia syari'ah dan ciptaan-Nya, sehingga dia tidak tersesat dan menyesatkan orang lain.
Ilmu Tauhid adalah ilmu yang paling agung karena agungnya obyek yang dibicarakan di dalamnya (Allah). Oleh karena itu, ilmu tersebut disebut oleh para ulama' dengan "Fiqh Akbar".
Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa dikehendaki Allah menjadi baik, maka Dia memahamkannya tentang agama".
Al-'Utsaimin mengatakan ilmu yang paling pertama dan utama dalam agama adalah ilmu tauhid dan akidah. Akan tetapi seseorang juga harus memperhatikan bagaimana cara dan dari mana sumber memperolehnya. Maka seharusnya dia mengambil ilmu tersebut dari sumber yang murni serta selamat dari berbagai syubhat, agar dia bisa menolak syubhat tersebut dan menjelaskan aqidah murni yang telah dia peroleh sebelumnya.
Al-'Utsaimin mengingatkan hendaklah sumber yang dipelajari adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasul SAW lalu pendapat para Sahabat, kemudian pendapat para imam sesudahnya yakni tabi'in maupun pengikutnya dan kemudian pendapat para ulama' yang dapat dipertanggung jawabkan ilmu dan kejujurannya.
Baca juga: Inilah Wasiat Syaikh Al Utsaimin untuk Perempuan Muslimah
(mhy)
Lihat Juga :