Suksesi Kenabian Menurut Syaikh Ahmed Deedat
Kamis, 05 Oktober 2023 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Kilasan ketakutan tak pernah terhapus dari ingatan mereka dan masih terdapat goncangan akibat serbuan tersebut. Kerusakan yang mengerikan oleh Abrahah dan tentaranya dicatat dalam Surat Al-Fiil atau Gajah:
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabb-mu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia? Dan, Dia mengirim mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). ( QS Al-Fiil : 1-5)
Ketiga, standar Allah. Allah Yang Maha Kuasa memilih sendiri utusan-Nya. Dia menggunakan standar-Nya meskipun kita mungkin tidak selalu mengerti hikmahnya.
Paulus menyerukan keganjilan ini: "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda, dan orang-orang Yunani mencari hikmat." (Injil Korintus 1:22).
Baca juga: Dialog Ahmeed Deedat-Van Heerden tentang Musa, Yesus dan Muhammad
Tetapi orang sebijaksana Paulus, kata Ahmed Deedad, menemukan bahwa kebijaksanaannya adalah penghalang bagi orang-orang Yahudi dan kebodohan bagi orang-orang Yunani. Allah memilih Musa as, seorang yang gagap dan buronan pengadilan. Kitab Suci Injil menyebutnya sebagai seorang yang tidak petah lidahnya (Keluaran 6: 11).
Menyadari kekurangannya ketika bertugas menghadapi Fir'aun, raja zalim terbesar pada abad itu, Musa as memohon kepada Allah Yang Penyayang:
"Berkata Musa, 'Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku; (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami. Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa'." ( QS Thahaa : 25-36).
Baca juga: Dialog Ahmed Deedat-Van Heerden: Yohanes Pembaptis adalah Nabi Yahya
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabb-mu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia? Dan, Dia mengirim mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). ( QS Al-Fiil : 1-5)
Ketiga, standar Allah. Allah Yang Maha Kuasa memilih sendiri utusan-Nya. Dia menggunakan standar-Nya meskipun kita mungkin tidak selalu mengerti hikmahnya.
Paulus menyerukan keganjilan ini: "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda, dan orang-orang Yunani mencari hikmat." (Injil Korintus 1:22).
Baca juga: Dialog Ahmeed Deedat-Van Heerden tentang Musa, Yesus dan Muhammad
Tetapi orang sebijaksana Paulus, kata Ahmed Deedad, menemukan bahwa kebijaksanaannya adalah penghalang bagi orang-orang Yahudi dan kebodohan bagi orang-orang Yunani. Allah memilih Musa as, seorang yang gagap dan buronan pengadilan. Kitab Suci Injil menyebutnya sebagai seorang yang tidak petah lidahnya (Keluaran 6: 11).
Menyadari kekurangannya ketika bertugas menghadapi Fir'aun, raja zalim terbesar pada abad itu, Musa as memohon kepada Allah Yang Penyayang:
"Berkata Musa, 'Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku; (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami. Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa'." ( QS Thahaa : 25-36).
Baca juga: Dialog Ahmed Deedat-Van Heerden: Yohanes Pembaptis adalah Nabi Yahya
(mhy)
Lihat Juga :