Dosa Besar Bani Israil yang Membuat Mereka Terusir dan Terpencar dalam Diaspora
Rabu, 11 Oktober 2023 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Karena berbagai penyimpangan itu, Bani Israil kembali terusir dari Tanah Suci. Dan, tak seperti pengusiran pertama yang terkonsentrasi di Babilonia, pengusiran kedua ini membuat Bani Israil terpencar dalam diaspora.
Baca juga: Catatan Harian Sultan Ottoman Menolak Menjual Palestina kepada Zionis
Diaspora Bani Israil tersebut tertulis dalam surah al-A’raf ayat 168: “Dan kami menyebarkan mereka sebagai komunitas yang terpisah-pisah ke seluruh penjuru bumi…”
Selama masa tersebut, orang Yahudi tak bisa kembali ke Yerusalem untuk mengklaimnya sebagai milik mereka, kecuali Ya’juj dan Ma’juj telah dilepaskan, seperti tertulis di surah al-Anbiyaa ayat 95:
“Ada larangan pada sebuah kota yang telah kami hancurkan, bahwa mereka (penduduk kota itu) akan kembali (untuk mengklaimnya), sampai Ya’juj dan Ma’juj dilepaskan…”
Baca juga: Zionis Internasional di Era Ottoman: Harta Melimpah, Seni Kerja Terorganisir
Bani Israil, mungkin dimaafkan jika mereka menerima utusan berikutnya, seperti tertulis di surah al A’raf ayat 157 : “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ketika Nabi Muhammad diutus, mereka dimudahkan untuk mengenali bahwa Tuhan yang mengutus Musa dan nabi-nabi Bani Israil, juga adalah Tuhan yang sama yang mengutus Nabi Muhammad. Yaitu, saat Baitul Maqdis menjadi kiblat pertama untuk salat. Tapi, setelah 18 bulan, dan jelas bahwa Bani Israil menolak, bahkan berencana menghancurkan Islam, maka arah kiblat pun berubah ke Makkah.
“Dalam perubahan kiblat itu, Allah berfirman dalam Alquran, bahwa “Kesalehan itu bukanlah menghadapkan wajah ke timur dan ke barat…” ( QS al-Baqarah ayat 177).
Baca juga: Jejak Zionis di Ottoman, Sultan Abdul Hamid II: Kenapa Kita Harus Tinggalkan Al-Quds?
Baca juga: Catatan Harian Sultan Ottoman Menolak Menjual Palestina kepada Zionis
Diaspora Bani Israil tersebut tertulis dalam surah al-A’raf ayat 168: “Dan kami menyebarkan mereka sebagai komunitas yang terpisah-pisah ke seluruh penjuru bumi…”
Selama masa tersebut, orang Yahudi tak bisa kembali ke Yerusalem untuk mengklaimnya sebagai milik mereka, kecuali Ya’juj dan Ma’juj telah dilepaskan, seperti tertulis di surah al-Anbiyaa ayat 95:
“Ada larangan pada sebuah kota yang telah kami hancurkan, bahwa mereka (penduduk kota itu) akan kembali (untuk mengklaimnya), sampai Ya’juj dan Ma’juj dilepaskan…”
Baca juga: Zionis Internasional di Era Ottoman: Harta Melimpah, Seni Kerja Terorganisir
Bani Israil, mungkin dimaafkan jika mereka menerima utusan berikutnya, seperti tertulis di surah al A’raf ayat 157 : “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ketika Nabi Muhammad diutus, mereka dimudahkan untuk mengenali bahwa Tuhan yang mengutus Musa dan nabi-nabi Bani Israil, juga adalah Tuhan yang sama yang mengutus Nabi Muhammad. Yaitu, saat Baitul Maqdis menjadi kiblat pertama untuk salat. Tapi, setelah 18 bulan, dan jelas bahwa Bani Israil menolak, bahkan berencana menghancurkan Islam, maka arah kiblat pun berubah ke Makkah.
“Dalam perubahan kiblat itu, Allah berfirman dalam Alquran, bahwa “Kesalehan itu bukanlah menghadapkan wajah ke timur dan ke barat…” ( QS al-Baqarah ayat 177).
Baca juga: Jejak Zionis di Ottoman, Sultan Abdul Hamid II: Kenapa Kita Harus Tinggalkan Al-Quds?
(mhy)
Lihat Juga :