Kisah Perseteruan Yahudi dengan Nasrani di Era Imperium Romawi
Rabu, 11 Oktober 2023 - 15:10 WIB
loading...
Pada masa Imperium Romawi berkuasa pada tahun 325 M, Palestina umumnya sudah dinasranikan. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Sejarah menjelaskan bahwa Tha'if, tempat pemukiman suku Tsaqif yang terletak sekitar 75 mil sebelah tenggara Makkah , merupakan daerah subur dan menjadi salah satu pusat perdagangan antarsuku, terutama suku Quraisy yang bermukim di Makkah. Di Tha'if bermukim orang-orang Yahudi yang telah mengenal praktik-praktik riba , sehingga keberadaan mereka di sana menumbuhsuburkan praktik tersebut.
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul "Membumikan Al-Quran" menjelaskan suku Quraisy yang ada di Makkah juga terkenal dengan aktivitas perdagangan, bahkan Al-Quran mengabarkan tentang hal tersebut dandi antara mereka juga mempraktikkan riba.
Baca juga: Kisah Bani Israil Menuduh Nabi Musa Membunuh Nabi Harun
Tak hanya di kawasan Arab. Sistem riba dikembangkan kaum Yahudi di berbagai belahan dunia lainnya. Di samping itu mereka pun menguasai dan memonopoli perdagangan produk-produk strategis.
Pada masa Imperium Romawi berkuasa, terutama masa Kaisar Romawi Konstantin yang sudah memeluk Nasrani pada tahun 325 M, Palestina umumnya sudah dinasranikan.
Di al-Quds Yerusalem dibangun gereja Makam Suci sebagai gereja teragung. Di puncak gunung Zaitun dibangun pula gereja Langit dan di kota Bethlehem dibangun pula gereja Kiamat. Adapun orang-orang Yahudi ketika itu terutama para pedagangnya sudah menyebar ke negara-negara Eropa.
Sementara itu, orang Yahudi di Palestina terdesak dengan berkembangnya Nasrani. Kaum Yahudi di mana pun mereka berada, termasuk di Eropa dengan gigih menghalang-halangi orang Nasrani.
Orang Yahudi atau Bani Israil mendustakan nabi terakhir mereka dengan menuduhnya melakukan sihir dan berusaha membunuh Nabi Isa as. Bani Israil melakukan itu karena diasumsikan bahwa Nasrani telah menghancurkan prinsip-prinsip ketuhanan dan syariat Talmud tentang keagungan Yahudi sebagai bangsa pilihan Allah.
Pertentangan orang Yahudi dengan Nasrani tidak lagi di sekitar Palestina, Irak dan Timur Tengah umumnya, tetapi sudah pernah merambah-melebar ke seluruh Eropa dan malah ke benua Amerika, karena Nasrani juga mulai berkembang luas di sana.
Baca juga: 12 Nabi yang Diutus untuk Kaum Bani Israil
Hanya saja sifat Yahudi yang ingin memonopoli, terutama perdagangan, maka sejumlah komoditas, seperti gandum, wol, emas dan perak dikuasainya. Dengan begitu mereka bisa menguasai pasar dan malah dapat mengontrol ekonomi negara dunia pada umumnya. Mereka bertindak rentenir, yaitu meminjamkan uang kepada orang Nasrani dengan bunga yang tinggi.
Keinginan memonopoli ini pula kemudian yang menyebabkan orang-orang Eropa (yang Nasrani utamanya), membenci orang-orang Yahudi di manapun mereka berada. Klimaksnya adalah tindakan Nazi pada awal abad 20 M.
Pertentangan Nasrani-Yahudi bertambah meningkat dari waktu ke waktu. Satu hal yang menarik, walaupun upaya Yahudi untuk menghalang-halangi pergerakan Nasrani, nama agama yang yang lebih populer sebutannya dengan Kristen ini terus menunjukkan perkembangannya di Eropa yang umumnya ketika itu masih Pagan atau Pelbegu.
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul "Membumikan Al-Quran" menjelaskan suku Quraisy yang ada di Makkah juga terkenal dengan aktivitas perdagangan, bahkan Al-Quran mengabarkan tentang hal tersebut dandi antara mereka juga mempraktikkan riba.
Baca juga: Kisah Bani Israil Menuduh Nabi Musa Membunuh Nabi Harun
Tak hanya di kawasan Arab. Sistem riba dikembangkan kaum Yahudi di berbagai belahan dunia lainnya. Di samping itu mereka pun menguasai dan memonopoli perdagangan produk-produk strategis.
Pada masa Imperium Romawi berkuasa, terutama masa Kaisar Romawi Konstantin yang sudah memeluk Nasrani pada tahun 325 M, Palestina umumnya sudah dinasranikan.
Di al-Quds Yerusalem dibangun gereja Makam Suci sebagai gereja teragung. Di puncak gunung Zaitun dibangun pula gereja Langit dan di kota Bethlehem dibangun pula gereja Kiamat. Adapun orang-orang Yahudi ketika itu terutama para pedagangnya sudah menyebar ke negara-negara Eropa.
Sementara itu, orang Yahudi di Palestina terdesak dengan berkembangnya Nasrani. Kaum Yahudi di mana pun mereka berada, termasuk di Eropa dengan gigih menghalang-halangi orang Nasrani.
Orang Yahudi atau Bani Israil mendustakan nabi terakhir mereka dengan menuduhnya melakukan sihir dan berusaha membunuh Nabi Isa as. Bani Israil melakukan itu karena diasumsikan bahwa Nasrani telah menghancurkan prinsip-prinsip ketuhanan dan syariat Talmud tentang keagungan Yahudi sebagai bangsa pilihan Allah.
Pertentangan orang Yahudi dengan Nasrani tidak lagi di sekitar Palestina, Irak dan Timur Tengah umumnya, tetapi sudah pernah merambah-melebar ke seluruh Eropa dan malah ke benua Amerika, karena Nasrani juga mulai berkembang luas di sana.
Baca juga: 12 Nabi yang Diutus untuk Kaum Bani Israil
Hanya saja sifat Yahudi yang ingin memonopoli, terutama perdagangan, maka sejumlah komoditas, seperti gandum, wol, emas dan perak dikuasainya. Dengan begitu mereka bisa menguasai pasar dan malah dapat mengontrol ekonomi negara dunia pada umumnya. Mereka bertindak rentenir, yaitu meminjamkan uang kepada orang Nasrani dengan bunga yang tinggi.
Keinginan memonopoli ini pula kemudian yang menyebabkan orang-orang Eropa (yang Nasrani utamanya), membenci orang-orang Yahudi di manapun mereka berada. Klimaksnya adalah tindakan Nazi pada awal abad 20 M.
Pertentangan Nasrani-Yahudi bertambah meningkat dari waktu ke waktu. Satu hal yang menarik, walaupun upaya Yahudi untuk menghalang-halangi pergerakan Nasrani, nama agama yang yang lebih populer sebutannya dengan Kristen ini terus menunjukkan perkembangannya di Eropa yang umumnya ketika itu masih Pagan atau Pelbegu.
Lihat Juga :