Negara Israel, Hadiah Inggris untuk Kaum Yahudi
Selasa, 17 Oktober 2023 - 11:37 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Kaki Tangan Zionis Merusak Moral Pejabat Tinggi Ottoman
Kelima, membangun kepemimpinan orang Yahudi di Palestina di bidang ekonomi dan politik.
Tahun 1918, Palestina jatuh. Jendral Allenby merebut Palestina dari Khilafah Turki Utsmani. Setahun kemudian, secara resmi mandat atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh PBB.
Pada tahun 1947, PBB dengan sewenang-wenang membagi dua wilayah Palestina.
Pada 1948 menjadi tahun bersejarah bagi Yahudi karena merupakan tahun deklarasi pembentukan Israel. Tepat hari berakhirnya mandat dan penarikan pasukan Inggris dari Palestina dideklarasikan pendirian Negara Israel, 14 Mei 1948.
Ada beberapa perang yang pantas diingat dalam sejarah berdarah Yahudi. Pada 1948 ada Perang Arab Israel I. Mesir, Jordania, dan Syria masing-masing menduduki Gaza, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan.
Pada 1967 terjadi Perang 6 Hari, Mesir, Jordania, dan Syiria menyerang Israel, tapi justru kehilangan ketiga daerah hasil perang 1948 bahkan Gurun Sinai lepas dari Mesir. Dan pada tahun 1973 terjadi Perang Yom Kippur, Mesir dan Syria menyerang Israel. Diikuti embargo minyak kepada negara-negara Barat, tapi pada tahun 1978 dalam Perjanjian Camp David, Mesir mendapatkan kembali Gurun Sinai dengan syarat tidak lagi memerangi Israel.
Baca juga: Kisah Kaki Tangan Zionis Menyusup ke Akademi Militer Ottoman
Gaza, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan tetap dalam kontrol Israel. Puncaknya pada tahun 1992 dibuat Perjanjian Oslo. Pengakuan PLO atas eksistensi Israel dan penunjukkan PLO sebagai otoritas resmi atas Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Sejak saat itu Israel semakin berdiri kokoh di tanah jajahannya, Palestina.
Lahirnya Zionisme sebagai ideologi Yahudi dan eksistensi Israel jelas mengubah peta dunia Islam. Palestina yang awalnya kawasan Islam yang cukup luas terletak di antara Mesir, Lebanon, Suriah, dan Yordania kini harus menerima kenyataan dengan berbagi wilayah dengan Israel karena penduduk Palestina yang mayoritas Arab Islam tidak kuasa membendung kekuatan Zionisme-Yahudi dalam mendirikan negara Israel di sana. Hal ini jelas mengurangi keluasan wilayah Islam di Timur Tengah.
Kelima, membangun kepemimpinan orang Yahudi di Palestina di bidang ekonomi dan politik.
Tahun 1918, Palestina jatuh. Jendral Allenby merebut Palestina dari Khilafah Turki Utsmani. Setahun kemudian, secara resmi mandat atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh PBB.
Pada tahun 1947, PBB dengan sewenang-wenang membagi dua wilayah Palestina.
Pada 1948 menjadi tahun bersejarah bagi Yahudi karena merupakan tahun deklarasi pembentukan Israel. Tepat hari berakhirnya mandat dan penarikan pasukan Inggris dari Palestina dideklarasikan pendirian Negara Israel, 14 Mei 1948.
Ada beberapa perang yang pantas diingat dalam sejarah berdarah Yahudi. Pada 1948 ada Perang Arab Israel I. Mesir, Jordania, dan Syria masing-masing menduduki Gaza, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan.
Pada 1967 terjadi Perang 6 Hari, Mesir, Jordania, dan Syiria menyerang Israel, tapi justru kehilangan ketiga daerah hasil perang 1948 bahkan Gurun Sinai lepas dari Mesir. Dan pada tahun 1973 terjadi Perang Yom Kippur, Mesir dan Syria menyerang Israel. Diikuti embargo minyak kepada negara-negara Barat, tapi pada tahun 1978 dalam Perjanjian Camp David, Mesir mendapatkan kembali Gurun Sinai dengan syarat tidak lagi memerangi Israel.
Baca juga: Kisah Kaki Tangan Zionis Menyusup ke Akademi Militer Ottoman
Gaza, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan tetap dalam kontrol Israel. Puncaknya pada tahun 1992 dibuat Perjanjian Oslo. Pengakuan PLO atas eksistensi Israel dan penunjukkan PLO sebagai otoritas resmi atas Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Sejak saat itu Israel semakin berdiri kokoh di tanah jajahannya, Palestina.
Lahirnya Zionisme sebagai ideologi Yahudi dan eksistensi Israel jelas mengubah peta dunia Islam. Palestina yang awalnya kawasan Islam yang cukup luas terletak di antara Mesir, Lebanon, Suriah, dan Yordania kini harus menerima kenyataan dengan berbagi wilayah dengan Israel karena penduduk Palestina yang mayoritas Arab Islam tidak kuasa membendung kekuatan Zionisme-Yahudi dalam mendirikan negara Israel di sana. Hal ini jelas mengurangi keluasan wilayah Islam di Timur Tengah.
(mhy)
Lihat Juga :