12 Laporan Kritis tentang Kekejaman Israel Pasca-Intifadah Desember 1987
Kamis, 19 Oktober 2023 - 11:57 WIB
loading...
A
A
A
Kelompok itu menuduh bahwa terdapat kasus-kasus yang terdokumentasi dengan baik di mana pasukan Israel menembakkan gas air mata ke dalam rumah-rumah, ruang-ruang tertutup, dan rumah sakit-rumah sakit.
5. Amnesty International Report, 17 Juni 1988. AI mengeluarkan laporan khusus yang mengecam penggunaan amunisi secara luas oleh pasukan Israel yang mengakibatkan terbunuhnya kaum wanita, anak-anak di bawah usia empat belas tahun, dan orang-orang tua. Sebagian dari mereka yang mati itu tidak sedang terlibat dalam demonstrasi kekerasan ketika terbunuh.
Laporan itu mengatakan bahwa ada "bukti yang menyarankan bahwa otoritas Israel pada tingkat tinggi telah secara aktif membiarkan atau malah mendorong digunakannya amunisi dan kekerasan yang tidak masuk akal."
6. UN General Assembly Condemnation, 3 November 1988. Majelis Umum PBB mengumpulkan suara 130 lawan 2 untuk mengecam Israel karena telah "membunuh dan melukai orang-orang Palestina yang tidak dapat membela diri" dan menyatakan "sangat menyesalkan" tindakan Israel yang mengabaikan resolusi-resolusi PBB sebelumnya yang mengecam aksi-aksi semacam itu. Amerika Serikat dan Israel sajalah yang memberi suara tidak setuju.
Baca juga: Shabak, Polisi Rahasia Israel yang Lecehkan Rakyat Palestina
7. UN General Assembly Condemnation, 20 April 1989. Majelis Umum PBB mengecam pelanggaran-pelanggaran atas hak-hak asasi manusia yang dilakukan Israel dan menuntut agar Israel menghentikan tembakan-tembakan dan pembatasan-pembatasan peribadatan di Tepi Barat dan jalur Gaza yang telah diduduki. Hasil suaranya adalah 129 berbanding 2, dengan hanya Amerika Serikat dan Israel memberikan suara menentang.
8. Private Witness Report, 2 Maret 1990. Dr Martin Rubenberg, seorang dokter praktik di Florida, bekerja sebagai sukarelawan di Jalur Gaza pada 1989 dan mendapati bahwa Israel mencegah pemberian pelayanan kesehatan yang layak untuk orang-orang Palestina.
Dia melaporkan: "Halangan birokratis digunakan untuk membatasi pelayanan kesehatan... Fasilitas-fasilitas radio, termasuk radio panggil para dokter, dilarang... Pelayanan kesehatan juga dibatasi oleh otoritas Israel ketika mereka mencegah kembalinya para dokter Palestina yang telah mendapat latihan di luar negeri.
Tidak adanya pelayanan yang memadai, jam malam yang berkelanjutan, seringnya dikenakan jam malam selama 24 jam berhari-hari atau berminggu-minggu, penutupan militer dan peraturan-peraturan yang melarang para penduduk Gaza untuk bermalam di Israel, semuanya menambah kesakitan, penderitaan, melemahkan tenaga dan daya tahan para pasien Palestina."
9. Jimmy Carter Report, 19 Maret 1990. Mantan Presiden Carter mengadakan perjalanan ke Israel pada awal 1990 dan berkata: "Yang sedang kita bicarakan adalah sebuah pemerintahan otoriter, yang berkuasa, yang merampas hak-hak asasi mendasar rakyat [Palestina] yang berada di bawah kekuasaannya."
Baca juga: 6 Omong Kosong Israel untuk Dirikan Negara Yahudi
Dia menambahkan: "Hampir tidak ada satu keluarga pun yang hidup di Tepi Barat dan Gaza yang salah satu anggota keluarga laki-lakinya tidak dipenjarakan oleh pihak militer... Ada kira-kira 650 orang Palestina yang terbunuh akibat sering ditembakkannya senjata api oleh militer yang tidak berada dalam situasi terancam, dan mereka juga menghancurkan rumah-rumah dan menempatkan orang-orang di penjara-penjara tanpa diadili."
5. Amnesty International Report, 17 Juni 1988. AI mengeluarkan laporan khusus yang mengecam penggunaan amunisi secara luas oleh pasukan Israel yang mengakibatkan terbunuhnya kaum wanita, anak-anak di bawah usia empat belas tahun, dan orang-orang tua. Sebagian dari mereka yang mati itu tidak sedang terlibat dalam demonstrasi kekerasan ketika terbunuh.
Laporan itu mengatakan bahwa ada "bukti yang menyarankan bahwa otoritas Israel pada tingkat tinggi telah secara aktif membiarkan atau malah mendorong digunakannya amunisi dan kekerasan yang tidak masuk akal."
6. UN General Assembly Condemnation, 3 November 1988. Majelis Umum PBB mengumpulkan suara 130 lawan 2 untuk mengecam Israel karena telah "membunuh dan melukai orang-orang Palestina yang tidak dapat membela diri" dan menyatakan "sangat menyesalkan" tindakan Israel yang mengabaikan resolusi-resolusi PBB sebelumnya yang mengecam aksi-aksi semacam itu. Amerika Serikat dan Israel sajalah yang memberi suara tidak setuju.
Baca juga: Shabak, Polisi Rahasia Israel yang Lecehkan Rakyat Palestina
7. UN General Assembly Condemnation, 20 April 1989. Majelis Umum PBB mengecam pelanggaran-pelanggaran atas hak-hak asasi manusia yang dilakukan Israel dan menuntut agar Israel menghentikan tembakan-tembakan dan pembatasan-pembatasan peribadatan di Tepi Barat dan jalur Gaza yang telah diduduki. Hasil suaranya adalah 129 berbanding 2, dengan hanya Amerika Serikat dan Israel memberikan suara menentang.
8. Private Witness Report, 2 Maret 1990. Dr Martin Rubenberg, seorang dokter praktik di Florida, bekerja sebagai sukarelawan di Jalur Gaza pada 1989 dan mendapati bahwa Israel mencegah pemberian pelayanan kesehatan yang layak untuk orang-orang Palestina.
Dia melaporkan: "Halangan birokratis digunakan untuk membatasi pelayanan kesehatan... Fasilitas-fasilitas radio, termasuk radio panggil para dokter, dilarang... Pelayanan kesehatan juga dibatasi oleh otoritas Israel ketika mereka mencegah kembalinya para dokter Palestina yang telah mendapat latihan di luar negeri.
Tidak adanya pelayanan yang memadai, jam malam yang berkelanjutan, seringnya dikenakan jam malam selama 24 jam berhari-hari atau berminggu-minggu, penutupan militer dan peraturan-peraturan yang melarang para penduduk Gaza untuk bermalam di Israel, semuanya menambah kesakitan, penderitaan, melemahkan tenaga dan daya tahan para pasien Palestina."
9. Jimmy Carter Report, 19 Maret 1990. Mantan Presiden Carter mengadakan perjalanan ke Israel pada awal 1990 dan berkata: "Yang sedang kita bicarakan adalah sebuah pemerintahan otoriter, yang berkuasa, yang merampas hak-hak asasi mendasar rakyat [Palestina] yang berada di bawah kekuasaannya."
Baca juga: 6 Omong Kosong Israel untuk Dirikan Negara Yahudi
Dia menambahkan: "Hampir tidak ada satu keluarga pun yang hidup di Tepi Barat dan Gaza yang salah satu anggota keluarga laki-lakinya tidak dipenjarakan oleh pihak militer... Ada kira-kira 650 orang Palestina yang terbunuh akibat sering ditembakkannya senjata api oleh militer yang tidak berada dalam situasi terancam, dan mereka juga menghancurkan rumah-rumah dan menempatkan orang-orang di penjara-penjara tanpa diadili."
Lihat Juga :