Siti Masyitoh, Muslimah Saleha yang Wangi Makamnya Dipuji Rasulullah SAW
Rabu, 01 November 2023 - 11:41 WIB
loading...
Siti Masyitoh adalah seorang muslimah yang hidup di zaman Firaun, karena kesalehaannya kuburan wanita mulia ini sangat wangi dan dipuji Rasulullah SAW. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Muslimah saleha ini hidup di zaman Fir'aun. Namanya Siti Masyitoh, ia menjadi pelayan yang mengurusi anak-anak sang raja Fir'aun tersebut. Siapa sebenarnya ia? Bagaimana pula perempuan pelayan raja ini bisa tercatat sebagai perempuan mulia yang dikenang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam?
Kisah Siti Masyitoh ini diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ber-Isra Mi’raj, Beliau mencium aroma sangat harum. Penasaran, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Malaikat Jibril, “Harum apakah itu wahai Jibril?’’ Malaikat Jibril menjawab, itu adalah wangi dari kuburan seorang perempuan saleha bernama Siti Masyitoh (Mashitah) dan anak-anaknya.
Siti Masyitoh ini, seperti dikutip dari buku 'Membina Akidah dan Akhlak' yang ditulis Ajie Nazmuddin, digambarkan sebagai sosok yang memegang teguh kebenaran dan keimanan kepada Allah Ta'ala . Kala itu, ia menjadi pelayan dari Siti Asiyah, yaitu istri dari Fir'aun. Siti Masyitoh bertugas mengurus anak Fir'aun. Seorang lagi yang dekat dengan Siti Masyitoh bernama Hazaqil. Ia adalah pembuat peti, tempat Musa balita ditaruh utuk kemudian dihanyutkan di sungai dan menjadi suaminya.
Siti Masyitoh dan suaminya ini sudah beriman pada Nabi Musa namun mereka menyembunyikannya dari Fir'aun. Namun suatu ketika, Masyitoh menemukan suaminya telah meninggal dengan cara mengenaskan, yang ternyata dibunuh Fir'aun karena ketahuan sebagai pengikut Musa alaihissalam.
Masyitoh sangat sedih melihat kondisi suaminya. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah. Ia berkeluh kesah ke istri Fir'aun, Siti Asiyah. Sang istri raja ini pun memberikan nasihat agar Masyitoh dan anak-anaknya sabar. Namun, ia bisa membaca isyarat dari Siti Masyitoh yang beriman kepada Allah. Di akhir nasihatnya, Asiyah mengatakan bahwa selama ini dia juga beriman kepada Allah, tapi menyembunyikan di hadapan suaminya.
Sepeninggal suaminya, seperti biasa Masyitoh menjalankan tugasnya sebagai perias putri Fir'aun. Ada kisah sepele, tapi berdampak besar. Gara-gara sisir yang terjatuh, akhirnya terungkap jati diri Masyitoh. Saat itu Masyitoh sedang menyisir rambut anak Fir'aun. Tiba-tiba sisir dalam genggamannya terjatuh. Ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya reflek mengucap, ‘’Bismillah.’’
Ucapan itu membuat anak Fir'aun terkejut. “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,” tanya anak Fir'aun. Siti Masyitoh dengan jujur mengatakan bahwa maksud kata itu ialah Tuhan sesungguhnya, bukan ditujukan untuk Fir'aun. “Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah,” katanya.
Jawaban itu membuat anak Fir'aun tersinggung, berarti ada Tuhan lain kecuali bapaknya. Anak Fir'aun itu mengancam melaporkan keyakinan Masyitoh tersebut kepada bapaknya. Namun Masyitoh tak gentar, karena ia yakin Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Firaun.
Laporan anaknya membuat Fir'aun murka. Ia tidak menyangka, pengasuh anaknya adalah pengikut Nabi Musa. Masyitoh dipanggil lalu ditanya oleh Fir'aun, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?’ Masyitoh tidak mengelak tuduhan itu. Dengan tegas dia mengatakan, ‘’Betul, Bahwa tiada tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya.’’
Jawaban itu membuat Fir'aun semakin marah. Dia memerintahkan para pengawal menyiapkan minyak mendidih di dalam tembaga besar. Wadah panas itu untuk menggodok Masyitoh beserta anak-anaknya. Pemandangan itu disaksikan masyarakat luas. Sebelum dimasukkan ke minyak panas, Masyitoh diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih, dia dan dua anaknya selamat jika mengakui Fir'aun sebagai tuhan. Sebaliknya, nyawanya terancam jika tidak mau mengakui ketuhanan Fir'aun.
Kisah Siti Masyitoh ini diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ber-Isra Mi’raj, Beliau mencium aroma sangat harum. Penasaran, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Malaikat Jibril, “Harum apakah itu wahai Jibril?’’ Malaikat Jibril menjawab, itu adalah wangi dari kuburan seorang perempuan saleha bernama Siti Masyitoh (Mashitah) dan anak-anaknya.
Siti Masyitoh ini, seperti dikutip dari buku 'Membina Akidah dan Akhlak' yang ditulis Ajie Nazmuddin, digambarkan sebagai sosok yang memegang teguh kebenaran dan keimanan kepada Allah Ta'ala . Kala itu, ia menjadi pelayan dari Siti Asiyah, yaitu istri dari Fir'aun. Siti Masyitoh bertugas mengurus anak Fir'aun. Seorang lagi yang dekat dengan Siti Masyitoh bernama Hazaqil. Ia adalah pembuat peti, tempat Musa balita ditaruh utuk kemudian dihanyutkan di sungai dan menjadi suaminya.
Siti Masyitoh dan suaminya ini sudah beriman pada Nabi Musa namun mereka menyembunyikannya dari Fir'aun. Namun suatu ketika, Masyitoh menemukan suaminya telah meninggal dengan cara mengenaskan, yang ternyata dibunuh Fir'aun karena ketahuan sebagai pengikut Musa alaihissalam.
Masyitoh sangat sedih melihat kondisi suaminya. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah. Ia berkeluh kesah ke istri Fir'aun, Siti Asiyah. Sang istri raja ini pun memberikan nasihat agar Masyitoh dan anak-anaknya sabar. Namun, ia bisa membaca isyarat dari Siti Masyitoh yang beriman kepada Allah. Di akhir nasihatnya, Asiyah mengatakan bahwa selama ini dia juga beriman kepada Allah, tapi menyembunyikan di hadapan suaminya.
Sepeninggal suaminya, seperti biasa Masyitoh menjalankan tugasnya sebagai perias putri Fir'aun. Ada kisah sepele, tapi berdampak besar. Gara-gara sisir yang terjatuh, akhirnya terungkap jati diri Masyitoh. Saat itu Masyitoh sedang menyisir rambut anak Fir'aun. Tiba-tiba sisir dalam genggamannya terjatuh. Ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya reflek mengucap, ‘’Bismillah.’’
Ucapan itu membuat anak Fir'aun terkejut. “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,” tanya anak Fir'aun. Siti Masyitoh dengan jujur mengatakan bahwa maksud kata itu ialah Tuhan sesungguhnya, bukan ditujukan untuk Fir'aun. “Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah,” katanya.
Jawaban itu membuat anak Fir'aun tersinggung, berarti ada Tuhan lain kecuali bapaknya. Anak Fir'aun itu mengancam melaporkan keyakinan Masyitoh tersebut kepada bapaknya. Namun Masyitoh tak gentar, karena ia yakin Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Firaun.
Laporan anaknya membuat Fir'aun murka. Ia tidak menyangka, pengasuh anaknya adalah pengikut Nabi Musa. Masyitoh dipanggil lalu ditanya oleh Fir'aun, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?’ Masyitoh tidak mengelak tuduhan itu. Dengan tegas dia mengatakan, ‘’Betul, Bahwa tiada tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya.’’
Jawaban itu membuat Fir'aun semakin marah. Dia memerintahkan para pengawal menyiapkan minyak mendidih di dalam tembaga besar. Wadah panas itu untuk menggodok Masyitoh beserta anak-anaknya. Pemandangan itu disaksikan masyarakat luas. Sebelum dimasukkan ke minyak panas, Masyitoh diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih, dia dan dua anaknya selamat jika mengakui Fir'aun sebagai tuhan. Sebaliknya, nyawanya terancam jika tidak mau mengakui ketuhanan Fir'aun.
Lihat Juga :