Jejak Gerakan Freemason di Indonesia, Tercium tapi Tak Banyak Dibahas
Sabtu, 18 November 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Mereka membangun rumah pemujaan yang disebut loge atau loji, serta mengadakan pertemuan yang bersifat religius, dan membahas mengenai filsafat, problem masyarakat dan ekonomi sosial.
Anggota Freemasonry melakukan aktivitasnya di dalam loji tersebut yaitu ritual menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita dan pikiran tertinggi manusia. Selain itu, aktivitas para anggota Freemasonry di dalam loji tersebut yaitu memanggil arwah-arwah atau jin dan setan. Maka dari itu, di beberapa tempat loji juga sering disebut sebagai Rumah Setan, karena memang mereka menyembah roh-roh dan setan.
Baca juga: 4 Rencana Umum dalam Konspirasi Para Tokoh Freemasonry
Tujuan Freemasonry terbagi menjadi dua, yaitu yang bersifat umum atau terbuka dan yang bersifat tersembunyi atau rahasia. Tujuan terbuka digunakan sebagai pengecoh untuk memberi kesan kepada masyarakat bahkan para anggotanya, bahwa Fremasonry merupakan organisasi yang bersifat sosial dan bertujuan untuk mempersatukan dan memajukan kemanusiaan. Namun, di sisi lain terdapat tujuan rahasia yaitu untuk mendirikan pemerintahan Yahudi dan menghancurkan pemerintahan selain Yahudi.
Sejarah Freemasonry di Hindia-Belanda
Pengaruh Yahudi di Indonesia berawal dari kedatangan penjelajah dari Eropa yang kemudian menjajah di Nusantara. Pemikiran-pemikirannya dikembangkan dalam perkumpulan Freemasonry.
Menurut A.S. Carpentier Alting sejak sebelum tahun 1756 sudah banyak Mason Bebas (Vrijmetselarij) di Hindia Timur (Indonesia). Pada awal penjajahan Belanda hanya orang Eropa yang menjadi anggotanya.
Fase berikutnya mulailah orang pribumi direkrut untuk menjadi anggota terutama dari kaum ningrat.
Namun sejarah Freemasonry di Hindia-Belanda (Indonesia) dimulai sejak berdirinya Loji Freemason dengan nama Lodge La Choise, di Batavia pada tahun 1762. Orang yang pertama kali mendirikan Loji Freemasonry di Indonesia adalah seorang pegawai VOC bernama Jacobus Cornelis Matthieu Radermacher.
Baca juga: Tokoh Terbesar Freemasonry Saja Tak Tahu Seluruh Isi Konspirasi Yahudi
Gedung yang dulunya milik organisasi Freemasonry ini sekarang dijadikan sebagai gedung Museum Nasional Jakarta. Di Hindia-Belanda dahulu, Loge (dalam bahasa Belanda) atau Loji dalam bahasa Indonesia yang berarti rumah pertemuan kaum Freemason atau Vrijmetselari j (dalam bahasa Belanda), sering disebut sebagai “Rumah Setan”.
Pada masa-masa awal berdirinya, organisasi Freemasonry terpusat di Jawa. Namun seiring dengan usaha perluasan wilayah kolonialisasi Pemerintah Belanda ke wilayah yang berada di luar pulau Jawa, maka keberadaan organisasi ini juga meluas ke sebagian wilayah seperti Sumatera yakni di Medan.
Keberadaan organisasi ini di luar pulau Jawa mengikuti gerak kolonialisasi, karena banyak dari anggota Freemasonry pada masa itu juga menjabat sebagai pegawai kolonial dan tentara Belanda. Sehingga mereka juga mendirikan cabang organisasi ini di wilayah yang baru saja mereka duduki.
Kedok
Anggota Freemasonry melakukan aktivitasnya di dalam loji tersebut yaitu ritual menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita dan pikiran tertinggi manusia. Selain itu, aktivitas para anggota Freemasonry di dalam loji tersebut yaitu memanggil arwah-arwah atau jin dan setan. Maka dari itu, di beberapa tempat loji juga sering disebut sebagai Rumah Setan, karena memang mereka menyembah roh-roh dan setan.
Baca juga: 4 Rencana Umum dalam Konspirasi Para Tokoh Freemasonry
Tujuan Freemasonry terbagi menjadi dua, yaitu yang bersifat umum atau terbuka dan yang bersifat tersembunyi atau rahasia. Tujuan terbuka digunakan sebagai pengecoh untuk memberi kesan kepada masyarakat bahkan para anggotanya, bahwa Fremasonry merupakan organisasi yang bersifat sosial dan bertujuan untuk mempersatukan dan memajukan kemanusiaan. Namun, di sisi lain terdapat tujuan rahasia yaitu untuk mendirikan pemerintahan Yahudi dan menghancurkan pemerintahan selain Yahudi.
Sejarah Freemasonry di Hindia-Belanda
Pengaruh Yahudi di Indonesia berawal dari kedatangan penjelajah dari Eropa yang kemudian menjajah di Nusantara. Pemikiran-pemikirannya dikembangkan dalam perkumpulan Freemasonry.
Menurut A.S. Carpentier Alting sejak sebelum tahun 1756 sudah banyak Mason Bebas (Vrijmetselarij) di Hindia Timur (Indonesia). Pada awal penjajahan Belanda hanya orang Eropa yang menjadi anggotanya.
Fase berikutnya mulailah orang pribumi direkrut untuk menjadi anggota terutama dari kaum ningrat.
Namun sejarah Freemasonry di Hindia-Belanda (Indonesia) dimulai sejak berdirinya Loji Freemason dengan nama Lodge La Choise, di Batavia pada tahun 1762. Orang yang pertama kali mendirikan Loji Freemasonry di Indonesia adalah seorang pegawai VOC bernama Jacobus Cornelis Matthieu Radermacher.
Baca juga: Tokoh Terbesar Freemasonry Saja Tak Tahu Seluruh Isi Konspirasi Yahudi
Gedung yang dulunya milik organisasi Freemasonry ini sekarang dijadikan sebagai gedung Museum Nasional Jakarta. Di Hindia-Belanda dahulu, Loge (dalam bahasa Belanda) atau Loji dalam bahasa Indonesia yang berarti rumah pertemuan kaum Freemason atau Vrijmetselari j (dalam bahasa Belanda), sering disebut sebagai “Rumah Setan”.
Pada masa-masa awal berdirinya, organisasi Freemasonry terpusat di Jawa. Namun seiring dengan usaha perluasan wilayah kolonialisasi Pemerintah Belanda ke wilayah yang berada di luar pulau Jawa, maka keberadaan organisasi ini juga meluas ke sebagian wilayah seperti Sumatera yakni di Medan.
Keberadaan organisasi ini di luar pulau Jawa mengikuti gerak kolonialisasi, karena banyak dari anggota Freemasonry pada masa itu juga menjabat sebagai pegawai kolonial dan tentara Belanda. Sehingga mereka juga mendirikan cabang organisasi ini di wilayah yang baru saja mereka duduki.
Kedok
Lihat Juga :