Kisah Hikmah : Ahli Ibadah dan Bayi yang Bisa Berbicara
Minggu, 19 November 2023 - 16:23 WIB
loading...
A
A
A
Juraij berseru, “Di manakah bayi itu?”
Kemudian mereka menghadirkan bayi hasil perbuatan zina itu, lalu Juraij menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya, “Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu?” Sang bayi pun langsung menjawab, “Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan,
Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciuminya dan mengharap berkah darinya. Setelah itu, mereka berkata, “Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.”
Namun Juraij menolak dan berkata, “Tidak usah, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat.”
Maka, mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat at-Tirmidzi no. 1905 dan Ahmad no. 8581,
“Ada tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orangtua atas anaknya.”
Untuk itulah, marilah kita senantiasa berbakti kepada orangtua dan memohon doa kepadanya. Demikian itu karena ridha Allah ada pada ridha kedua orangtua kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ridha Rabb (Allah) ada pada ridha orangtua, dan marahnya Allah ada pada marahnya orangtua.”(HR At Tirmidzi)
Untuk itu mari kita senantiasa menjaga prioritas amal kita. Sehingga amalan dan perkara yang wajib harus lebih diutamakan daripada yang sunnah; amalan yang wajib mendesak harus lebih diutamakan daripada yang wajib namun tidak mendesak; dan lain sebagainya.
Kemudian mereka menghadirkan bayi hasil perbuatan zina itu, lalu Juraij menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya, “Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu?” Sang bayi pun langsung menjawab, “Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan,
Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciuminya dan mengharap berkah darinya. Setelah itu, mereka berkata, “Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.”
Namun Juraij menolak dan berkata, “Tidak usah, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat.”
Maka, mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula.
Hikmah Kisah
Dari hadis kisah ahli ibadah yang shahih tersebut, menurut Ustadz Amir Sahidin, M.Ag, yang juga pengajar PPTQ Ibnu Mas’ud, Purbalingga, setidaknya kita dapat mengambil tiga pelajaran penting dalam kehidupan kita. Pelajaran hikmah tersebut adalah1. Doa Orangtua kepada Anaknya adalah Mustajab
Dari kisah Juraij tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa doa orangtua kepada anaknya merupakan doa mustajab. Sampai-sampai ketika orangtua berdoa keburukan kepada anaknya, pun bisa jadi Allah kabulkan doa itu seperti dalam kisah tersebut.Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat at-Tirmidzi no. 1905 dan Ahmad no. 8581,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Ada tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orangtua atas anaknya.”
Untuk itulah, marilah kita senantiasa berbakti kepada orangtua dan memohon doa kepadanya. Demikian itu karena ridha Allah ada pada ridha kedua orangtua kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Ridha Rabb (Allah) ada pada ridha orangtua, dan marahnya Allah ada pada marahnya orangtua.”(HR At Tirmidzi)
2. Pentingnya Mengetahui Prioritas Amal
Dalam hadis kisah shahih tersebut, terlihat bahwa Juraij kurang tepat dalam memprioritaskan amal. Demikian itu karena ia lebih memilih shalat yang bersifat sunah daripada seruan orangtua yang bersifat wajib.Untuk itu mari kita senantiasa menjaga prioritas amal kita. Sehingga amalan dan perkara yang wajib harus lebih diutamakan daripada yang sunnah; amalan yang wajib mendesak harus lebih diutamakan daripada yang wajib namun tidak mendesak; dan lain sebagainya.
Lihat Juga :