Kisah Amr bin As Nyaris Terbunuh Saat Pembebasan Al-Aqsha
Rabu, 06 Desember 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, setelah ia membaca kembali surat itu ia tersenyum karena Atrabun dilukiskan sebagai orang yang cerdik dan culas. Ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya: “Kita melempar Atrabun Romawi dengan Atrabun Arab. Kita lihat apa yang akan terlihat.”
Bala bantuan itu sudah sampai di Palestina. Oleh Amr sebagian dikirimkan kepada pasukan yang sedang bertugas menghadapi musuh di Aelia dan Ramlah, dan dia sendiri pergi dengan pasukan besar hendak menghadapi Atrabun di Ajnadain. Tetapi ternyata pihak Romawi itu sudah memperkuat diri dengan benteng-benteng dan parit-parit demikian rupa.
Bagaimana caranya mencapai mereka? Perlukah ada orang yang dapat menunjukkan jalan ke sarang mereka itu? Tak ada jalan untuk itu selain dengan cara tipu muslihat.
Ia mengutus beberapa orang untuk merundingkan perdamaian. Kepada mereka ia membisikkan agar memperhatikan seluk beluk musuh sampai ke bagian-bagian yang dianggap rahasia. Tetapi karena para utusan itu tidak memuaskan, terpikir lebih baik ia sendiri yang memikul tugas itu, asal tidak sampai memperlihatkan jati dirinya kepada musuh.
Kalau Atrabun tahu bahwa yang mengajaknya bicara itu Amr pasti ia akan dijadikan tawanannya, dan tidak akan dilepaskan - kalaupun tidak sampai dibunuhnya. Dengan menyamar Amr pergi menemui Atrabun sebagai seorang utusan setelah memperhatikan keadaan benteng-benteng itu dan diketahuinya apa yang diperlukan.
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Membebaskan Palestina dari Cengkeraman Romawi Selama Ribuan Tahun
Kedua orang itu sekarang mengadakan pembicaraan. Atrabun memang merasa curiga terhadap orang yang diajaknya berbicara itu. Dalam hatinya ia berkata: “Ya, pasti ini Amr, atau orang yang pendapatnya dijadikan pegangan Amr. Tak akan ada bencana yang lebih besar menimpa mereka daripada jika kubunuh orang ini!”
Kemudian ia memanggil seorang prajurit pengawalnya. Diam-diam diperintahkannya, jika orang Arab ini sudah melalui tempat itu supaya dibunuh. Tetapi Amr menangkap, bahwa akan ada suatu muslihat. Maka ia berkata kepada Atrabun: Anda sudah mendengar apa yang saya sampaikan dan saya pun sudah mendengar apa yang Anda sampaikan. Apa yang sudah Anda katakan akan saya perhatikan. Saya hanya salah seorang dari sepuluh orang yang diutus oleh Umar bin Khattab supaya kita dapat mengemukakan masalah ini dan segala persoalan ini akan disaksikan. Saya akan pulang dan akan kembali bersama mereka sekarang. Kalau mereka berpendapat apa yang Anda kemukakan sama dengan pendapat saya, pasukan dan pemimpinnya sudah melihat. Kalau mereka tidak sependapat, saya kembalikan mereka ke tempat mereka semula dan saya bertanggung jawab kepada Anda.”
Mendengar kata-kata ini Atrabun menyangsikan dugaannya sendiri. Ia menarik kembali apa yang dibisikkannya kepada pengawalnya untuk membunuh orang Arab itu, dan katanya kepada Amr: “Pergilah dan bawalah teman-teman Anda.”
Amr cepat-cepat pergi ke markasnya tanpa menoleh lagi dan sudah tidak berniat mengulang lagi. Menyadari persoalan itu Atrabun berkata: “Orang itu telah menipuku. Inilah manusia paling cerdik.” Peristiwa ini sampai juga beritanya kepada Umar. “Amr telah mengalahkannya. Memang hebat dia!” kata Umar kemudian.
Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan
Bala bantuan itu sudah sampai di Palestina. Oleh Amr sebagian dikirimkan kepada pasukan yang sedang bertugas menghadapi musuh di Aelia dan Ramlah, dan dia sendiri pergi dengan pasukan besar hendak menghadapi Atrabun di Ajnadain. Tetapi ternyata pihak Romawi itu sudah memperkuat diri dengan benteng-benteng dan parit-parit demikian rupa.
Bagaimana caranya mencapai mereka? Perlukah ada orang yang dapat menunjukkan jalan ke sarang mereka itu? Tak ada jalan untuk itu selain dengan cara tipu muslihat.
Ia mengutus beberapa orang untuk merundingkan perdamaian. Kepada mereka ia membisikkan agar memperhatikan seluk beluk musuh sampai ke bagian-bagian yang dianggap rahasia. Tetapi karena para utusan itu tidak memuaskan, terpikir lebih baik ia sendiri yang memikul tugas itu, asal tidak sampai memperlihatkan jati dirinya kepada musuh.
Kalau Atrabun tahu bahwa yang mengajaknya bicara itu Amr pasti ia akan dijadikan tawanannya, dan tidak akan dilepaskan - kalaupun tidak sampai dibunuhnya. Dengan menyamar Amr pergi menemui Atrabun sebagai seorang utusan setelah memperhatikan keadaan benteng-benteng itu dan diketahuinya apa yang diperlukan.
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Membebaskan Palestina dari Cengkeraman Romawi Selama Ribuan Tahun
Kedua orang itu sekarang mengadakan pembicaraan. Atrabun memang merasa curiga terhadap orang yang diajaknya berbicara itu. Dalam hatinya ia berkata: “Ya, pasti ini Amr, atau orang yang pendapatnya dijadikan pegangan Amr. Tak akan ada bencana yang lebih besar menimpa mereka daripada jika kubunuh orang ini!”
Kemudian ia memanggil seorang prajurit pengawalnya. Diam-diam diperintahkannya, jika orang Arab ini sudah melalui tempat itu supaya dibunuh. Tetapi Amr menangkap, bahwa akan ada suatu muslihat. Maka ia berkata kepada Atrabun: Anda sudah mendengar apa yang saya sampaikan dan saya pun sudah mendengar apa yang Anda sampaikan. Apa yang sudah Anda katakan akan saya perhatikan. Saya hanya salah seorang dari sepuluh orang yang diutus oleh Umar bin Khattab supaya kita dapat mengemukakan masalah ini dan segala persoalan ini akan disaksikan. Saya akan pulang dan akan kembali bersama mereka sekarang. Kalau mereka berpendapat apa yang Anda kemukakan sama dengan pendapat saya, pasukan dan pemimpinnya sudah melihat. Kalau mereka tidak sependapat, saya kembalikan mereka ke tempat mereka semula dan saya bertanggung jawab kepada Anda.”
Mendengar kata-kata ini Atrabun menyangsikan dugaannya sendiri. Ia menarik kembali apa yang dibisikkannya kepada pengawalnya untuk membunuh orang Arab itu, dan katanya kepada Amr: “Pergilah dan bawalah teman-teman Anda.”
Amr cepat-cepat pergi ke markasnya tanpa menoleh lagi dan sudah tidak berniat mengulang lagi. Menyadari persoalan itu Atrabun berkata: “Orang itu telah menipuku. Inilah manusia paling cerdik.” Peristiwa ini sampai juga beritanya kepada Umar. “Amr telah mengalahkannya. Memang hebat dia!” kata Umar kemudian.
Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan
(mhy)
Lihat Juga :