Konspirasi Yahudi: Perjanjian Versailles dan Kisah Tragis Roza Luxemburg
Senin, 11 Desember 2023 - 11:01 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Konspirasi Yahudi Internasional: Kisah Terbunuhnya Presiden Abraham Lincoln
Ketika pimpinan pasukan Jerman sedang membicarakan masalah gencatan senjata dengan sekutu, ada peristiwa besar yang terjadi, yang perlu dicatat.
Gerakan pemberontakan Komunis di bawah pimpinan Roza Luxemburg berhasil menyusup ke dalam tubuh angkatan bersenjata Jerman, khususnya ke dalam jajaran angkatan laut, yang selama itu menjadi incaran mereka.
Pada awal tahun 1918 tiba-tiba tersiar desas-desus di kalangan angkatan laut Jerman, bahwa panglima tertinggi angkatan bersenjata akan mengadakan serbuan bunuh diri dengan kapal perangnya secara besar-besaran terhadap armada angkatan laut Amerika, Inggris dan Perancis.
Tujuannya ialah untuk melumpuhkan kapal-kapal sekutu, meskipun untuk itu Jerman akan kehilangan sebagian besar kapal perangnya. Setelah itu, Jerman akan mengadakan serangan udara di pantai-pantai Inggris yang tidak terlindung oleh armada sekutu.
Para penyebar kabar burung itu terus melakukan agitasi kasak-kusuk, dan mengadakan api pembangkangan dengan dalih, bahwa rencana serbuan gila seperti itu sama saja dengan bunuh diri secara konyol, dan akan mengakibatkan kehancuran fatal.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Kisah Setan Berjubah Pastor Bernama Rasputin
Desas-desus itu terutama difokuskan pada bayangan yang mengerikan yang akan terjadi, apabila saat itu pesawat sekutu menjatuhkan bom-bom kimia paling modern terhadap pasukan Jerman. Maka nasib pasukan Jerman sudah bisa dibayangkan.
Desas-desus itu mencapai puncaknya, ketika para agitator mengumumkan secara terbuka dari atas kapal Jerman, tentang satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari nasib yang bakal menimpa, apabila panglima angkatan bersenjata meneruskan rencana serbuan itu.
Pada tanggal 3 November angkatan laut Jerman benar-benar mengeluarkan pernyataan pembangkangan terhadap panglima tertinggi angkatan bersenjata.
Kemudian disusul oleh pembangkangan unit armada kapal selam pada tanggal 7 November, yang sedang berada dalam perjalanan menuju arah front Barat. Tiba-tiba tersiar desas-desus yang lain, bahwa mereka sedang berjalan pergi untuk melarikan diri dari misi serbuan bunuh diri yang didesas-desuskan itu.
Pada saat yang sama di Jerman terjadi kekacauan besar di berbagai pabrik amunisi dan senjata, yang menyebabkan macetnya produksi. Sejumlah orang keluar untuk menyebarluaskan tuntutan, agar Jerman menyerah kepada sekutu.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Kisah Terbunuhnya Para Pemimpin Besar Reformis Eropa
Perkembangan selanjutnya makin bertambah kacau dan keruh, sehingga Kaisar Jerman terpaksa turun tahta pada tanggal 9 November 1918. Kemudian segera berdiri sebuah pemerintahan Republik Sosialis. Langkah pertama yang dilakukan adalah menandatangani gencatan senjata, hanya beberapa hari berselang kemudian, yaitu pada tanggal 11 November 1918.
Akan tetapi, kerusuhan itu tidak juga kunjung reda. Bahkan kali ini banyak orang bertambah sengit menentang tokoh-tokoh Republik Sosialis.
Roza Luxemburg telah memainkan kartu pentingnya, ketika ia mengajukan persyaratan kepada pemerintahan Republik Sosialis, untuk melepas angkatan bersenjata dan menggantikan panglimanya, sebagai imbalan untuk meredakan kerusuhan.
Ketika pimpinan pasukan Jerman sedang membicarakan masalah gencatan senjata dengan sekutu, ada peristiwa besar yang terjadi, yang perlu dicatat.
Gerakan pemberontakan Komunis di bawah pimpinan Roza Luxemburg berhasil menyusup ke dalam tubuh angkatan bersenjata Jerman, khususnya ke dalam jajaran angkatan laut, yang selama itu menjadi incaran mereka.
Pada awal tahun 1918 tiba-tiba tersiar desas-desus di kalangan angkatan laut Jerman, bahwa panglima tertinggi angkatan bersenjata akan mengadakan serbuan bunuh diri dengan kapal perangnya secara besar-besaran terhadap armada angkatan laut Amerika, Inggris dan Perancis.
Tujuannya ialah untuk melumpuhkan kapal-kapal sekutu, meskipun untuk itu Jerman akan kehilangan sebagian besar kapal perangnya. Setelah itu, Jerman akan mengadakan serangan udara di pantai-pantai Inggris yang tidak terlindung oleh armada sekutu.
Para penyebar kabar burung itu terus melakukan agitasi kasak-kusuk, dan mengadakan api pembangkangan dengan dalih, bahwa rencana serbuan gila seperti itu sama saja dengan bunuh diri secara konyol, dan akan mengakibatkan kehancuran fatal.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Kisah Setan Berjubah Pastor Bernama Rasputin
Desas-desus itu terutama difokuskan pada bayangan yang mengerikan yang akan terjadi, apabila saat itu pesawat sekutu menjatuhkan bom-bom kimia paling modern terhadap pasukan Jerman. Maka nasib pasukan Jerman sudah bisa dibayangkan.
Desas-desus itu mencapai puncaknya, ketika para agitator mengumumkan secara terbuka dari atas kapal Jerman, tentang satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari nasib yang bakal menimpa, apabila panglima angkatan bersenjata meneruskan rencana serbuan itu.
Pada tanggal 3 November angkatan laut Jerman benar-benar mengeluarkan pernyataan pembangkangan terhadap panglima tertinggi angkatan bersenjata.
Kemudian disusul oleh pembangkangan unit armada kapal selam pada tanggal 7 November, yang sedang berada dalam perjalanan menuju arah front Barat. Tiba-tiba tersiar desas-desus yang lain, bahwa mereka sedang berjalan pergi untuk melarikan diri dari misi serbuan bunuh diri yang didesas-desuskan itu.
Pada saat yang sama di Jerman terjadi kekacauan besar di berbagai pabrik amunisi dan senjata, yang menyebabkan macetnya produksi. Sejumlah orang keluar untuk menyebarluaskan tuntutan, agar Jerman menyerah kepada sekutu.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Kisah Terbunuhnya Para Pemimpin Besar Reformis Eropa
Perkembangan selanjutnya makin bertambah kacau dan keruh, sehingga Kaisar Jerman terpaksa turun tahta pada tanggal 9 November 1918. Kemudian segera berdiri sebuah pemerintahan Republik Sosialis. Langkah pertama yang dilakukan adalah menandatangani gencatan senjata, hanya beberapa hari berselang kemudian, yaitu pada tanggal 11 November 1918.
Akan tetapi, kerusuhan itu tidak juga kunjung reda. Bahkan kali ini banyak orang bertambah sengit menentang tokoh-tokoh Republik Sosialis.
Roza Luxemburg telah memainkan kartu pentingnya, ketika ia mengajukan persyaratan kepada pemerintahan Republik Sosialis, untuk melepas angkatan bersenjata dan menggantikan panglimanya, sebagai imbalan untuk meredakan kerusuhan.
Lihat Juga :