Tahun Abu: Kisah Umar bin Khattab Menangis dan Berdoa Meminta Allah Menurunkan Hujan
Senin, 18 Desember 2023 - 07:18 WIB
loading...
Umar ketika itu menangis lama sekali sehingga janggutnya basah. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Perhatian Khalifah Umar bin Khattab benar-benar terkonsentrasi dalam untuk mengatasi wabah penyakit dan kelaparan saat Tahun Abu melanda Madinah , Makkah dan sekitarnya. Penyakit yang menyebar membuat banyak warga yang meninggal.
"Umar memperhatikan orang-orang sakit, mengirimkan kain kafan buat orang-orang mati dan menyembahyangkan," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Selama 9 bulan saat orang sedang ditimpa bencana yang begitu berat di Madinah, Umar mampu meringankan penderitaan itu dengan sekadar mendapat bantuan dari pemuka-pemuka Ansar .
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Ketika Madinah Mengalami Paceklik
Sesudah penerimaan mereka berkurang, penyakit dan maut serta ketakutan di Semenanjung sudah sampai di puncaknya. Tak ada tempat berlindung lagi buat Umar selain kepada Allah.
Selama 9 bulan itu ia mengimami salat isya dan setelah pulang ke rumah ia masih melanjutkan dengan salat sampai larut malam, memohon kepada Allah jangan sampai kehancuran umat berada di tangannya.
Setelah doanya belum juga dikabulkan oleh Allah, dan belum juga turun hujan , ia bermaksud hendak melakukan salat istisqa'. Dimintanya kepada wakil-wakilnya agar mereka keluar pada hari yang ditentukannya untuk bermohon kepada Allah supaya musim kemarau itu segera diakhiri.
Dia sendiri hari itu keluar rumah bersama orang banyak, dengan mengenakan mantel Rasulullah. Sesudah sampai di al-Musalla orang bermohon dan berdoa dengan sepenuh hati.
Umar ketika itu menangis lama sekali sehingga janggutnya basah. Al-Abbas bin Abdul-Muttalib berdiri di sampingnya. Dipegangnya tangannya dan ia mengangkat muka ke atas seraya berkata: "Allahumma ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu dengan mengajak [syafaat] paman Rasul-Mu."
Baca juga: Saat Paceklik dan Kekeringan, Umar bin Khattab Bertawasul kepada Paman Nabi SAW
Abbas juga berdoa kepada Allah dengan air mata bercucuran. Semua orang berdoa kepada Tuhan dengan khusyuk dan rasa takut. Mereka yakin sekali akan mati jika Allah tidak membantu mereka dengan air hujan.
Akhirnya Allah mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman dan percaya pada apa yang telah dijanjikan-Nya. Allah Maha Penyantun dan Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya.
Hujan yang yang lebat sekali turun. Tanah menjadi basah dan kehijauan mulai tampak.
"Umar memperhatikan orang-orang sakit, mengirimkan kain kafan buat orang-orang mati dan menyembahyangkan," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Selama 9 bulan saat orang sedang ditimpa bencana yang begitu berat di Madinah, Umar mampu meringankan penderitaan itu dengan sekadar mendapat bantuan dari pemuka-pemuka Ansar .
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Ketika Madinah Mengalami Paceklik
Sesudah penerimaan mereka berkurang, penyakit dan maut serta ketakutan di Semenanjung sudah sampai di puncaknya. Tak ada tempat berlindung lagi buat Umar selain kepada Allah.
Selama 9 bulan itu ia mengimami salat isya dan setelah pulang ke rumah ia masih melanjutkan dengan salat sampai larut malam, memohon kepada Allah jangan sampai kehancuran umat berada di tangannya.
Setelah doanya belum juga dikabulkan oleh Allah, dan belum juga turun hujan , ia bermaksud hendak melakukan salat istisqa'. Dimintanya kepada wakil-wakilnya agar mereka keluar pada hari yang ditentukannya untuk bermohon kepada Allah supaya musim kemarau itu segera diakhiri.
Dia sendiri hari itu keluar rumah bersama orang banyak, dengan mengenakan mantel Rasulullah. Sesudah sampai di al-Musalla orang bermohon dan berdoa dengan sepenuh hati.
Umar ketika itu menangis lama sekali sehingga janggutnya basah. Al-Abbas bin Abdul-Muttalib berdiri di sampingnya. Dipegangnya tangannya dan ia mengangkat muka ke atas seraya berkata: "Allahumma ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu dengan mengajak [syafaat] paman Rasul-Mu."
Baca juga: Saat Paceklik dan Kekeringan, Umar bin Khattab Bertawasul kepada Paman Nabi SAW
Abbas juga berdoa kepada Allah dengan air mata bercucuran. Semua orang berdoa kepada Tuhan dengan khusyuk dan rasa takut. Mereka yakin sekali akan mati jika Allah tidak membantu mereka dengan air hujan.
Akhirnya Allah mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman dan percaya pada apa yang telah dijanjikan-Nya. Allah Maha Penyantun dan Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya.
Hujan yang yang lebat sekali turun. Tanah menjadi basah dan kehijauan mulai tampak.
Lihat Juga :