Wabah di Amawas yang Ganas: Kisah Umar bin Khattab Lari dari Takdir
Senin, 18 Desember 2023 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Tatkala baru mulai tersebar berita tentang wabah ini tidak begitu mengejutkan. Umar sudah berniat akan pergi ke Syam untuk mengurus segala yang diperlukan setelah kawasan itu dibebaskan. Ia sudah berangkat dari Madinah hingga mencapai Sar' di dekat Tabuk.
Ia dijemput oleh pemimpin-pemimpin militer seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah. Mereka memberitahukan bahwa daerah itu sedang dilanda penyakit menular, dengan menyampaian juga berita-berita sekitar wabah yang sangat ganas itu.
Umar merasa ngeri mendengarnya. Sorenya kaum Muhajirin yang mula-mula berkumpul dan bermusyawarah: Akan meneruskan perjalanan ke Syam dengan adanya penyakit menular demikian, atau akan kembali ke Medinah? Mereka bersilang pendapat.
Ada yang mengatakan: "Perjalanan kita demi di jalan Allah dengan segala akibatnya. Kita berpendapat bahaya apa pun bukan halangan."
Yang lain berkata: "Itu suatu bencana dan kepunahan. Kita kira tak perlu kita meneruskan perjalanan."
Di kalangan Ansar juga terdapat perbedaan pendapat seperti pada Muhajirin, seolah mereka mengulangi apa yang sudah mereka dengar.
Baca juga: Tahun Abu: Ini Penyebab Paceklik dan Kelaparan di Era Khalifah Umar bin Khattab
Ketika itu Umar mengumpulkan kaum Muhajirin Quraisy yang pernah membebaskan Makkah dan ia meminta pendapat mereka. Tak ada yang berbeda pendapat, semua mengatakan: "Lebih baik kita kembali; itu adalah suatu bencana dan kepunahan."
Akhirnya, dengan perintah Umar, Ibn Abbas berseru agar mereka menyiapkan kendaraan. Selesai salat subuh Umar menoleh kepada mereka dan berkata: "Saya akan pulang, maka pulanglah kalian."
Abu Ubaidah tidak hadir tatkala Umar mengadakan rapat dan sudah mengambil keputusan. Setelah, kemudian mengetahui ia berkata: "Umar, kita akan lari dari takdir Allah!"
Ia dijemput oleh pemimpin-pemimpin militer seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah. Mereka memberitahukan bahwa daerah itu sedang dilanda penyakit menular, dengan menyampaian juga berita-berita sekitar wabah yang sangat ganas itu.
Umar merasa ngeri mendengarnya. Sorenya kaum Muhajirin yang mula-mula berkumpul dan bermusyawarah: Akan meneruskan perjalanan ke Syam dengan adanya penyakit menular demikian, atau akan kembali ke Medinah? Mereka bersilang pendapat.
Ada yang mengatakan: "Perjalanan kita demi di jalan Allah dengan segala akibatnya. Kita berpendapat bahaya apa pun bukan halangan."
Yang lain berkata: "Itu suatu bencana dan kepunahan. Kita kira tak perlu kita meneruskan perjalanan."
Di kalangan Ansar juga terdapat perbedaan pendapat seperti pada Muhajirin, seolah mereka mengulangi apa yang sudah mereka dengar.
Baca juga: Tahun Abu: Ini Penyebab Paceklik dan Kelaparan di Era Khalifah Umar bin Khattab
Ketika itu Umar mengumpulkan kaum Muhajirin Quraisy yang pernah membebaskan Makkah dan ia meminta pendapat mereka. Tak ada yang berbeda pendapat, semua mengatakan: "Lebih baik kita kembali; itu adalah suatu bencana dan kepunahan."
Akhirnya, dengan perintah Umar, Ibn Abbas berseru agar mereka menyiapkan kendaraan. Selesai salat subuh Umar menoleh kepada mereka dan berkata: "Saya akan pulang, maka pulanglah kalian."
Abu Ubaidah tidak hadir tatkala Umar mengadakan rapat dan sudah mengambil keputusan. Setelah, kemudian mengetahui ia berkata: "Umar, kita akan lari dari takdir Allah!"
Lihat Juga :