Rumusan Kesejahteraan Menurut Al-Qur'an, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Selasa, 16 Januari 2024 - 10:27 WIB
loading...
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan "sejahtera" adalah "aman, sentosa dan makmur; selamat (terlepas) dari segala macam gangguan, kesukaran dan sebagainya." Dengan demikian kesejahteraan sosial, merupakan keadaan masyarakat yang sejahtera.
Sebagian pakar berpendapat bahwa kesejahteraan sosial yang didambakan Al-Quran tecermin dari surga yang dihuni oleh Adam dan istrinya, sesaat sebelum turunnya mereka melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi. Seperti telah diketahui, sebelum Adam dan istrinya diperintahkan turun ke bumi, mereka terlebih dahulu ditempatkan di surga .
Surga diharapkan menjadi arah pengabdian Adam dan Hawa , sehingga bayang-bayang surga itu diwujudkannya di bumi, serta kelak dihuninya secara hakiki di akhirat.
"Masyarakat yang mewujudkan bayang-bayang surga itu adalah masyarakat yang berkesejahteraan," tulis Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Baca juga: Duluan Mana, Keadilan apa Kesejahteraan? Begini Jawaban Quraish Shihab
Kesejahteraan surgawi dilukiskan antara lain dalam peringatan Allah kepada Adam:
"Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang akibatnya engkau akan bersusah payah. Sesungguhnya engkau tidak akan kelaparan di sini (surga), tidak pula akan telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan merasa dahaga maupun kepanasan" ( QS Thaha [20] : 117- 119)
Menurut Quraish Shihab, dari ayat ini jelas bahwa pangan, sandang, den papan yang diistilahkan dengan tidak lapar, dahaga, telanjang, dan kepanasan semuanya telah terpenuhi di sana. Terpenuhinya kebutuhan ini merupakan unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial.
Di isi lain, Quraish juga menyebut ayat lain yang menyampaikan informasi bahwa masyarakat di surga hidup dalam suasana damai, harmonis, tidak terdapat suatu dosa, dan tidak ada sesuatu yang tidak wajar, serta tiada pengangguran ataupun sesuatu yang sia-sia:
"Mereka tidak mendengar di dalamnya (surga) perkataan sia-sia; tidak pula (terdengar adanya) dosa, tetapi ucapan salam dan salam (sikap damai)" ( QS Al-Waqi'ah [56] : 25 dan 26).
Sebagian pakar berpendapat bahwa kesejahteraan sosial yang didambakan Al-Quran tecermin dari surga yang dihuni oleh Adam dan istrinya, sesaat sebelum turunnya mereka melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi. Seperti telah diketahui, sebelum Adam dan istrinya diperintahkan turun ke bumi, mereka terlebih dahulu ditempatkan di surga .
Surga diharapkan menjadi arah pengabdian Adam dan Hawa , sehingga bayang-bayang surga itu diwujudkannya di bumi, serta kelak dihuninya secara hakiki di akhirat.
"Masyarakat yang mewujudkan bayang-bayang surga itu adalah masyarakat yang berkesejahteraan," tulis Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Baca juga: Duluan Mana, Keadilan apa Kesejahteraan? Begini Jawaban Quraish Shihab
Kesejahteraan surgawi dilukiskan antara lain dalam peringatan Allah kepada Adam:
"Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang akibatnya engkau akan bersusah payah. Sesungguhnya engkau tidak akan kelaparan di sini (surga), tidak pula akan telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan merasa dahaga maupun kepanasan" ( QS Thaha [20] : 117- 119)
Menurut Quraish Shihab, dari ayat ini jelas bahwa pangan, sandang, den papan yang diistilahkan dengan tidak lapar, dahaga, telanjang, dan kepanasan semuanya telah terpenuhi di sana. Terpenuhinya kebutuhan ini merupakan unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial.
Di isi lain, Quraish juga menyebut ayat lain yang menyampaikan informasi bahwa masyarakat di surga hidup dalam suasana damai, harmonis, tidak terdapat suatu dosa, dan tidak ada sesuatu yang tidak wajar, serta tiada pengangguran ataupun sesuatu yang sia-sia:
"Mereka tidak mendengar di dalamnya (surga) perkataan sia-sia; tidak pula (terdengar adanya) dosa, tetapi ucapan salam dan salam (sikap damai)" ( QS Al-Waqi'ah [56] : 25 dan 26).
Lihat Juga :