Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Rabu, 17 Januari 2024 - 13:16 WIB
loading...
Tiba-tiba pasukan Muslimin yang bersembunyi itu muncul dari kanan kiri pasukan Kisra, sedang Khalid terus memperketat tekanan kepada mereka dari depan. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Tatkala pasukan muslim yang dipimpin Khalid bin Walid dan Al-Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani sukses menaklukkan Hafir dan Mazar, pihak Persia berpikir dapat meminta bantuan kabilah Arab di Irak .
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul " Abu Bakr As-Siddiq " yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan melihat pengalaman pahit di Hafir dan Mazar, pihak Persia memang berpikir akan meminta bantuan orang Arab untuk menghadapi orang Arab: 'yang akan menumpulkan besi juga.'
Kisra sudah mengandalkan kabilah-kabilah Arab yang begitu banyak itu, di antaranya kelompok-kelompok besar yang terdiri dari kabilah Bakr bin Wa'il. Dengan demikian Persia mengundang mereka dan mengangkat seorang pemimpin dari mereka untuk ditugaskan ke Walajah.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Akan tetapi supaya kebanggaan kemenangan tidak pada pemimpin kabilah itu, pihak Persia mengangkat seorang pemimpin yang paling hebat dari pihaknya sendiri, yaitu Bahman Jadhuweh sebagai pimpinan pasukan Persia yang ditugaskan mengikuti mereka dari belakang.
Kabilah-kabilah Arab dari Hirah dan Walajah makin banyak yang bergabung dengan mereka, begitu juga pejabat-pejabat Persia yang berkemah di samping mereka. Bahman sebagai komandan pasukan Persia sudah menyusul dan bersama-sama mempersiapkan diri untuk memerangi pasukan Muslimin.
Berita ini sampai kepada Khalid ketika ia di Mazar. Ia mengeluarkan perintah kepada para perwira dan pasukannya yang tinggal di Hir, Kazimah dan di tempat-tempat lain yang sudah dianggap aman di Irak, agar terus waspada, dan jangan merasa puas diri atas kemenangan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.
Khalid memimpin pasukannya berangkat ke Walajah untuk menghadapi pasukan Kisra. Masing-masing pihak sudah sama-sama siap dengan kekuatan yang prima, sehingga beberapa lamanya kemenangan itu selalu silih berganti di antara mereka.
Khalid dengan strateginya yang jenius memerintahkan dua orang panglima pasukannya agar selama dalam perjalanan mereka memisahkan diri dari dia dan bersembunyi di belakang musuh.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul " Abu Bakr As-Siddiq " yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan melihat pengalaman pahit di Hafir dan Mazar, pihak Persia memang berpikir akan meminta bantuan orang Arab untuk menghadapi orang Arab: 'yang akan menumpulkan besi juga.'
Kisra sudah mengandalkan kabilah-kabilah Arab yang begitu banyak itu, di antaranya kelompok-kelompok besar yang terdiri dari kabilah Bakr bin Wa'il. Dengan demikian Persia mengundang mereka dan mengangkat seorang pemimpin dari mereka untuk ditugaskan ke Walajah.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Akan tetapi supaya kebanggaan kemenangan tidak pada pemimpin kabilah itu, pihak Persia mengangkat seorang pemimpin yang paling hebat dari pihaknya sendiri, yaitu Bahman Jadhuweh sebagai pimpinan pasukan Persia yang ditugaskan mengikuti mereka dari belakang.
Kabilah-kabilah Arab dari Hirah dan Walajah makin banyak yang bergabung dengan mereka, begitu juga pejabat-pejabat Persia yang berkemah di samping mereka. Bahman sebagai komandan pasukan Persia sudah menyusul dan bersama-sama mempersiapkan diri untuk memerangi pasukan Muslimin.
Berita ini sampai kepada Khalid ketika ia di Mazar. Ia mengeluarkan perintah kepada para perwira dan pasukannya yang tinggal di Hir, Kazimah dan di tempat-tempat lain yang sudah dianggap aman di Irak, agar terus waspada, dan jangan merasa puas diri atas kemenangan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.
Khalid memimpin pasukannya berangkat ke Walajah untuk menghadapi pasukan Kisra. Masing-masing pihak sudah sama-sama siap dengan kekuatan yang prima, sehingga beberapa lamanya kemenangan itu selalu silih berganti di antara mereka.
Khalid dengan strateginya yang jenius memerintahkan dua orang panglima pasukannya agar selama dalam perjalanan mereka memisahkan diri dari dia dan bersembunyi di belakang musuh.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Lihat Juga :