Pembebasan Irak: Doa Khalid bin Walid dan Kisah Sungai Darah
Rabu, 17 Januari 2024 - 16:50 WIB
loading...
A
A
A
Pasukan Muslimin itu pun duduk menghadapi makan malam dengan begitu berselera, yang kebanyakan menganggap sebagai suatu keanehan. Melihat sejenis roti tipis-tipis yang belum mereka kenal, mereka bertanya: Yang bertambal-tambal putih ini apa! Orang yang sudah tahu menjawab bergurau: Pernah kalian mendengar tentang roti yang dikerat tipis-tipis? Inilah dia! Karena itu dinamai roti tipis-tipis. Orang Arab menamakannya hiburan untuk tamu.
Sungai Darah
Khalid meminta agar tawanan-tawanan itu diperiksa untuk memenuhi janjinya hendak membanjiri sungai dengan darah mereka. Ia wakilkan kepada beberapa orang pasukannya memenggal leher mereka di sungai setelah airnya dibendung.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Selama sehari semalam mereka yang ditunjuk oleh Khalid membantai mereka tetapi sungai itu tidak mengalirkan darah. Beberapa orang yang dekat kepada Khalid berkata: "Kalaupun penghuni dunia ini kau bantai darah mereka tak akan mengalir. Darah itu akan lancar mengalir bersama air. Begitulah kalau kau ingin memenuhi janjimu."
Atas perintah Khalid air di sungai dibuka kembali; maka darah segar pun mengalir. Sejak itu sungai tersebut dinamai "Sungai Darah."
Tabari menceritakan bahwa di tepi sungai itu terdapat beberapa penggilingan, yang selama tiga hari menggiling makanan untuk delapan belas ribu orang anggota pasukan, sementara air sungai berwarma merah padam mengalir deras di bawahnya.
Khalid belum puas dengan sungai yang sudah banjir darah itu. Bahkan ia pergi ke sebuah tempat yang disebut Amgisyia atau Manisyia - sebuah kota seperti Hirah - di dekat Ullais, terletak di hilir Furat di anak sungai Badaqli. Penduduknya pernah terlibat dalam perang di luar kota Ullais.
Baca juga: Kisah Perang Khandaq, Pertempuran Terdahsyat yang Memakai Strategi Penggalian Parit
Khalid memerintahkan pasukannya agar menghancurkan kota itu. Mereka mengambil semua yang ada di situ dan dianggapnya sebagai harta rampasan perang. Dari sana anggota pasukan berkuda mendapat bagian seribu lima ratus (dirham) di samping hadiah yang diperoleh dari Khalid bagi mereka yang sudah mati-matian bertempur di Ullais.
Khalid mengirimkan laporan berikut seperlima rampasan perangnya dan orang-orang tawanan kepada Khalifah Abu Bakar di tangan seseorang benama Jandal dari suku Banu Ijl.
Setelah disampaikan apa yang terjadi dan melaporkan tentang dikuasainya Ullais dengan hasil rampasan dan tawanan perang serta beberapa orang yang telah berjasa dan bagaimana pula strategi Khalid, Abu Bakar tak dapat menahan diri berteriak: "Tak akan ada perempuan dapat melahirkan anak seperti Khalid!"
Ia menyuruh Jandal mengawini seorang perempuan dari Ullais supaya kemudian dapat melahirkan anak. Kemenangan itu supaya diumumkan ke seluruh Medinah dan tempat-tempat lain di negeri Arab. Abu Bakar merasa lega dengan pertolongan Allah kepada pasukannya di Irak itu, dan memang, Pedang Allah itu tak dapat dikalahkan.
Baca juga: Pertaruhan Besar Khalid bin Walid dalam Perang Yamamah
Sungai Darah
Khalid meminta agar tawanan-tawanan itu diperiksa untuk memenuhi janjinya hendak membanjiri sungai dengan darah mereka. Ia wakilkan kepada beberapa orang pasukannya memenggal leher mereka di sungai setelah airnya dibendung.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Selama sehari semalam mereka yang ditunjuk oleh Khalid membantai mereka tetapi sungai itu tidak mengalirkan darah. Beberapa orang yang dekat kepada Khalid berkata: "Kalaupun penghuni dunia ini kau bantai darah mereka tak akan mengalir. Darah itu akan lancar mengalir bersama air. Begitulah kalau kau ingin memenuhi janjimu."
Atas perintah Khalid air di sungai dibuka kembali; maka darah segar pun mengalir. Sejak itu sungai tersebut dinamai "Sungai Darah."
Tabari menceritakan bahwa di tepi sungai itu terdapat beberapa penggilingan, yang selama tiga hari menggiling makanan untuk delapan belas ribu orang anggota pasukan, sementara air sungai berwarma merah padam mengalir deras di bawahnya.
Khalid belum puas dengan sungai yang sudah banjir darah itu. Bahkan ia pergi ke sebuah tempat yang disebut Amgisyia atau Manisyia - sebuah kota seperti Hirah - di dekat Ullais, terletak di hilir Furat di anak sungai Badaqli. Penduduknya pernah terlibat dalam perang di luar kota Ullais.
Baca juga: Kisah Perang Khandaq, Pertempuran Terdahsyat yang Memakai Strategi Penggalian Parit
Khalid memerintahkan pasukannya agar menghancurkan kota itu. Mereka mengambil semua yang ada di situ dan dianggapnya sebagai harta rampasan perang. Dari sana anggota pasukan berkuda mendapat bagian seribu lima ratus (dirham) di samping hadiah yang diperoleh dari Khalid bagi mereka yang sudah mati-matian bertempur di Ullais.
Khalid mengirimkan laporan berikut seperlima rampasan perangnya dan orang-orang tawanan kepada Khalifah Abu Bakar di tangan seseorang benama Jandal dari suku Banu Ijl.
Setelah disampaikan apa yang terjadi dan melaporkan tentang dikuasainya Ullais dengan hasil rampasan dan tawanan perang serta beberapa orang yang telah berjasa dan bagaimana pula strategi Khalid, Abu Bakar tak dapat menahan diri berteriak: "Tak akan ada perempuan dapat melahirkan anak seperti Khalid!"
Ia menyuruh Jandal mengawini seorang perempuan dari Ullais supaya kemudian dapat melahirkan anak. Kemenangan itu supaya diumumkan ke seluruh Medinah dan tempat-tempat lain di negeri Arab. Abu Bakar merasa lega dengan pertolongan Allah kepada pasukannya di Irak itu, dan memang, Pedang Allah itu tak dapat dikalahkan.
Baca juga: Pertaruhan Besar Khalid bin Walid dalam Perang Yamamah
(mhy)
Lihat Juga :