Pentingnya Bertawassul, Para Sahabat Nabi pun Melakukannya ketika Punya Hajat
Jum'at, 19 Januari 2024 - 08:48 WIB
loading...
Para sahabat Nabi dan orang saleh terdahulu (ulama Salaf) juga melakukan tawassul ketika mereka punya hajat. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Bertawassul atau mengambil wasilah agar doa lebih diterima dan dikabulkan Allah SWT adalah hal yang disunahkan karena di dalamnya terdapat kebaikan. Para sahabat Nabi dan orang saleh terdahulu (ulama Salaf) juga melakukan tawassul ketika mereka punya hajat.
Syarat tawassul yaitu meyakini bahwa Allah-lah yang mempunyai hak memberi manfaat dan mudarat. Berikut, kisah para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bertawassul ketika mereka mempunyai hajat. Di antarannya:
Umar bin Khattab memohon hujan kepada Allah dengan bertawassul dengan Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Dalam doanya Umar berkata: "Ya Allah, dulu kami senantiasa bertawassul kepada-Mu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan Engkau memberi hujan kepada kami. Kini kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah hujan pada kami".
Anas Bin Malik berkata: "Maka Allah menurunkan hujan pada mereka". (Shahih Al-Bukhari 2/32 dalam Bab Shalat Istisqo')
Tak seorang pun dari Sahabat Nabi yang mengingkari ataupun mensyirikkan perbuatan khalifah Umar bertawassul kepada paman Nabi. Khalifah Umar yang terkenal di kalangan kaum muslimin menyertakan paman Rasulullah dalam doanya dan Allah mengabulkan permohonnya.
Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari' (Syarah kitab Shahih al-Bukhari) menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas menyatakan: "Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunnah) untuk memohon hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait (keluarga) Nabi.
Ibnu Al-Atsir dalam Kitab Usud al-Ghabah' menjelaskan tentang pribadi Abbas bin Abdul Mutthalib. "Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: "Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain". Saat itu para Sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki Abbas sehingga mereka mengutamakannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah.
Dalam kitab yang sama ini disebutkan bahwa Muawiyah memohon hujan melalui Yazid Bin al-Aswad dengan mengucapkan: "Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat). Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad.Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada di sekitanya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing".
Dengan perasaan sedih, Bilal bangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju Madinah. Lalu, Bilal mendatangi makam Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulullah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar: Tahdzibul Kamal jilid 4 Halaman 289, dan Siar A'lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid 1 Halaman 358)
Bilal menganggap ungkapan Rasulullah dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau, padahal secara zahir beliau telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulullah?
Syarat tawassul yaitu meyakini bahwa Allah-lah yang mempunyai hak memberi manfaat dan mudarat. Berikut, kisah para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bertawassul ketika mereka mempunyai hajat. Di antarannya:
1. Khalifah Umar bin Khattab Tawasul Minta Hujan
Dikisahkaan di masa pemerintahan Amirul Mukminin Sayyidina Umar Bin Khattab radhiyallahu 'anhu terjadi musim kering dan paceklik hebat. Orang-orang mengadukan kesulitan kepada Umar. Lalu Khalifah Umar pergi kepada paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib.Umar bin Khattab memohon hujan kepada Allah dengan bertawassul dengan Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Dalam doanya Umar berkata: "Ya Allah, dulu kami senantiasa bertawassul kepada-Mu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan Engkau memberi hujan kepada kami. Kini kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah hujan pada kami".
Anas Bin Malik berkata: "Maka Allah menurunkan hujan pada mereka". (Shahih Al-Bukhari 2/32 dalam Bab Shalat Istisqo')
Tak seorang pun dari Sahabat Nabi yang mengingkari ataupun mensyirikkan perbuatan khalifah Umar bertawassul kepada paman Nabi. Khalifah Umar yang terkenal di kalangan kaum muslimin menyertakan paman Rasulullah dalam doanya dan Allah mengabulkan permohonnya.
Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari' (Syarah kitab Shahih al-Bukhari) menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas menyatakan: "Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunnah) untuk memohon hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait (keluarga) Nabi.
Ibnu Al-Atsir dalam Kitab Usud al-Ghabah' menjelaskan tentang pribadi Abbas bin Abdul Mutthalib. "Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: "Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain". Saat itu para Sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki Abbas sehingga mereka mengutamakannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah.
Dalam kitab yang sama ini disebutkan bahwa Muawiyah memohon hujan melalui Yazid Bin al-Aswad dengan mengucapkan: "Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat). Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad.Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada di sekitanya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing".
2. Tawassul Bilal ke Makam Rasulullah
Abu Darda dalam sebuah riwayat menyebutkan: "Suatu hari, Bilal bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Beliau bersabda kepada Bilal: "Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?"Dengan perasaan sedih, Bilal bangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju Madinah. Lalu, Bilal mendatangi makam Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulullah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar: Tahdzibul Kamal jilid 4 Halaman 289, dan Siar A'lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid 1 Halaman 358)
Bilal menganggap ungkapan Rasulullah dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau, padahal secara zahir beliau telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulullah?
Lihat Juga :