Pembebasan Irak: Kisah Daerah-Daerah di Dekat Hirah di Bawah Pemerintahan Islam
Jum'at, 19 Januari 2024 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Kegelisahan Raja Persia
Haekal melanjutkan yang dikhawatirkan Khalid ialah timbulnya kerusuhan dari pihak kabilah-kabilah Arab. Sedang Persia hanya tinggal Mada'in yang masih jauh dari pasukan Muslimin, di samping kekacauan di kalangan mereka sendiri, yang membuat mereka tak dapat lagi memikirkan yang lain-lain.
Syiruya (Khavad II) dan pengganti-penggantnya sudah membunuhi semua ahli waris takhta dari anak-anak Kisra dan Bahram Gor, sehingga tak ada lagi orang yang dapat dinobatkan menjadi raja Persia dan yang dapat mempersatukan mereka.
Ketika yang naik takhta para ratu, kerajaan ini semakin lemah. Oleh karena itu, orang-orang Persia sudah merasa puas jika ibu kota mereka menjadi aman dengan dibangunnya di sekitar kota itu kekuatan angkatan bersenjata, dengan menggunakan Sungai Syir yang menghubungkan Sungai Furat dengan Sungai Tigris sebagai bentengnya, sementara kerajaan mereka tetap dalam keadaan rusak dan kacau.
Menurut Haekal, tetapi kekuatan Persia itu tak akan mampu membendung serangan Khalid kalau tidak karena ada perintah Abu Bakar agar jangan meninggalkan Hirah atau meneruskan langkah operasinya, sebelum Iyad bin Ganm menyusulnya untuk melindungi pasukannya dari belakang.
Iyad memang masih tinggal di Dumat al-Jandal, sebab sejak kedatangannya ke sana ia tak dapat menguasai keadaan penduduk. Karena itu Khalid tinggal lagi setahun penuh di kotanya yang baru itu. Ia merasa tersiksa karena jauh dari medan pertempuran.
Sering sekali ia berkata kepada teman-temannya: "Sebenarnya aku tidak memerlukan pertolongan Iyad, kalau tidak karena adanya perintah Khalifah. Untuk membebaskan Persia sekarang sudah bukan masalah. Tahun ini bagiku seolah tahun perempuan!"
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Menantang Raja Persia
Khalid merasa jemu, kesepian. Dipanggilnya beberapa orang tokoh Hirah dan ia menyerahkan dua pucuk surat kepada mereka. Sepucuk surat untuk disampaikan kepada raja Persia dan sepucuk lagi untuk para gubernurnya. Surat itu dimulai dengan:
Haekal melanjutkan yang dikhawatirkan Khalid ialah timbulnya kerusuhan dari pihak kabilah-kabilah Arab. Sedang Persia hanya tinggal Mada'in yang masih jauh dari pasukan Muslimin, di samping kekacauan di kalangan mereka sendiri, yang membuat mereka tak dapat lagi memikirkan yang lain-lain.
Syiruya (Khavad II) dan pengganti-penggantnya sudah membunuhi semua ahli waris takhta dari anak-anak Kisra dan Bahram Gor, sehingga tak ada lagi orang yang dapat dinobatkan menjadi raja Persia dan yang dapat mempersatukan mereka.
Ketika yang naik takhta para ratu, kerajaan ini semakin lemah. Oleh karena itu, orang-orang Persia sudah merasa puas jika ibu kota mereka menjadi aman dengan dibangunnya di sekitar kota itu kekuatan angkatan bersenjata, dengan menggunakan Sungai Syir yang menghubungkan Sungai Furat dengan Sungai Tigris sebagai bentengnya, sementara kerajaan mereka tetap dalam keadaan rusak dan kacau.
Menurut Haekal, tetapi kekuatan Persia itu tak akan mampu membendung serangan Khalid kalau tidak karena ada perintah Abu Bakar agar jangan meninggalkan Hirah atau meneruskan langkah operasinya, sebelum Iyad bin Ganm menyusulnya untuk melindungi pasukannya dari belakang.
Iyad memang masih tinggal di Dumat al-Jandal, sebab sejak kedatangannya ke sana ia tak dapat menguasai keadaan penduduk. Karena itu Khalid tinggal lagi setahun penuh di kotanya yang baru itu. Ia merasa tersiksa karena jauh dari medan pertempuran.
Sering sekali ia berkata kepada teman-temannya: "Sebenarnya aku tidak memerlukan pertolongan Iyad, kalau tidak karena adanya perintah Khalifah. Untuk membebaskan Persia sekarang sudah bukan masalah. Tahun ini bagiku seolah tahun perempuan!"
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Menantang Raja Persia
Khalid merasa jemu, kesepian. Dipanggilnya beberapa orang tokoh Hirah dan ia menyerahkan dua pucuk surat kepada mereka. Sepucuk surat untuk disampaikan kepada raja Persia dan sepucuk lagi untuk para gubernurnya. Surat itu dimulai dengan:
Lihat Juga :