Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 12:51 WIB
loading...
Nabi palsu Musailamah. Ilustrasi/Ist
A
A
A
MASIH dengan tokoh perempuan yang mengaku nabi. Dia adalah Sajah binti Al Harits ibn Suwaid ibn Aqfan . Menurut Muhammad Husain Haekal , sebenarnya segala cerita tentang Sajah aneh semua. Segala yang diceritakan orang mengenai dirinya lebih menyerupai cerita-cerita rekaan. (Baca juga: Dendam Perempuan Nabi Palsu dari Banu Tamim )
Sajah bermaksud ke Yamamah. Di sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Nejd. Desa tempat lahir dan tinggal nabi palsu lainnya bernama Musailamah. (Baca juga: Trio Jenderal Bertempur Bersama Perangi Kaum Murtad di Oman )
Sejarawan berbeda pendapat tentang nama Musailamah. Ada yang mengatakan ia adalah Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Yang lain mengatakan Musailamah bin Tsamamah bin Katsir bin Hubaib al-Hanafi. Ada yang mengatakan kunyahnya adalah Abu Tsamamah. Ada pula yang menyebutnya Abu Harun.Haekal bahkan menyebut Musailimah.
Baca juga: Mukjizat Turun Ketika Pasukan Muslim Perangi Kaum Murtad di Bahrain
Usia Musailamah lebih tua dan lebih panjang dibanding Rasulullah . Ada yang menyebutkan ia terbunuh pada usia 150 tahun saat Perang Yamamah. Ia adalah seorang tokoh agama di Yamamah dan telah memiliki pengikut sebelum wahyu kerasulan datang kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebelum mengaku sebagai nabi, Musailamah sering menyusuri jalan-jalan. Masuk ke pasar-pasar yang ramai oleh masyarakat Arab maupun non-Arab. Berjumpa dengan orang-orang berbagai macam profesi di sana. Pasar yang ia kunjungi semisal pasar di wilayah al-Anbar dan Hirah.
Musailamah berkepribadian kuat (strong personality). Pandai bicara. Memiliki pengaruh di tengah bani Hanifah dan kabilah-kabilah tetangga. Tutur katanya lembut. Pandai menarik simpati, bagi laki-laki maupun wanita. Ia menyebut dirinya Rahman al-Yamamah.
Kembali ke soal Sajah binti Al Harits. Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr menyebut, setelah ia dan pasukannya sampai di Yamamah, Musailamah takut dan khawatir, bahwa bila ia sibuk menghadapinya, ia akan dikalahkan oleh pasukan Muslimin atau oleh kabilah-kabilah berdekatan. Karenanya ia memberikan hadiah kepada Sajah yang dikirimkan sebagai tanda meminta keamanan untuk dirinya sampai ia datang menemui perempuan itu. (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk )
Sajah dan pasukannya berhenti di sebuah mata air dan Musailamah diizinkan datang. Setelah datang dengan empat puluh orang dari Banu Hanifah, ia berbicara berdua dengan Sajah. Ia bercerita kepada Sajah, bahwa tadinya ia berpendapat bumi ini separuh untuk Quraisy, tetapi orang-orang Quraisy itu kejam. Oleh karena itu, biarlah separuh bumi ini untuk Sajah.
Musailamah membacakan sebuah sajak yang sangat menyenangkan hati perempuan itu. Dia pun membalasnya dengan sajak serupa. Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang lama sekali. Ternyata Sajah sangat mengagumi Musailamah dan mengagumi tutur katanya yang serba manis. Rencananya mengenai kaumnya juga menarik perhatiannya, dan dengan begitu akhirnya ia mengakui keunggulannya.
Setelah Musailamah menawarkan agar kenabiannya digabung saja dengan kenabian Sajah dan mengadakan ikatan perkawinan antara keduanya, hatinya goyah. Lamaran itu pun diterima.
Baca juga: Debat Khalifah Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Pembangkang Zakat
Sejak itu Sajah pindah ke kemah Musailamah dan tinggal bersama selama tiga hari. Setelah kembali kepada masyarakatnya sendiri, Sajah mengatakan bahwa ia melihat Musailamah benar, dan karenanya ia menikah dengan laki-laki itu.
Sajah bermaksud ke Yamamah. Di sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Nejd. Desa tempat lahir dan tinggal nabi palsu lainnya bernama Musailamah. (Baca juga: Trio Jenderal Bertempur Bersama Perangi Kaum Murtad di Oman )
Sejarawan berbeda pendapat tentang nama Musailamah. Ada yang mengatakan ia adalah Musailamah bin Hubaib al-Hanafi. Yang lain mengatakan Musailamah bin Tsamamah bin Katsir bin Hubaib al-Hanafi. Ada yang mengatakan kunyahnya adalah Abu Tsamamah. Ada pula yang menyebutnya Abu Harun.Haekal bahkan menyebut Musailimah.
Baca juga: Mukjizat Turun Ketika Pasukan Muslim Perangi Kaum Murtad di Bahrain
Usia Musailamah lebih tua dan lebih panjang dibanding Rasulullah . Ada yang menyebutkan ia terbunuh pada usia 150 tahun saat Perang Yamamah. Ia adalah seorang tokoh agama di Yamamah dan telah memiliki pengikut sebelum wahyu kerasulan datang kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebelum mengaku sebagai nabi, Musailamah sering menyusuri jalan-jalan. Masuk ke pasar-pasar yang ramai oleh masyarakat Arab maupun non-Arab. Berjumpa dengan orang-orang berbagai macam profesi di sana. Pasar yang ia kunjungi semisal pasar di wilayah al-Anbar dan Hirah.
Musailamah berkepribadian kuat (strong personality). Pandai bicara. Memiliki pengaruh di tengah bani Hanifah dan kabilah-kabilah tetangga. Tutur katanya lembut. Pandai menarik simpati, bagi laki-laki maupun wanita. Ia menyebut dirinya Rahman al-Yamamah.
Kembali ke soal Sajah binti Al Harits. Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr menyebut, setelah ia dan pasukannya sampai di Yamamah, Musailamah takut dan khawatir, bahwa bila ia sibuk menghadapinya, ia akan dikalahkan oleh pasukan Muslimin atau oleh kabilah-kabilah berdekatan. Karenanya ia memberikan hadiah kepada Sajah yang dikirimkan sebagai tanda meminta keamanan untuk dirinya sampai ia datang menemui perempuan itu. (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk )
Sajah dan pasukannya berhenti di sebuah mata air dan Musailamah diizinkan datang. Setelah datang dengan empat puluh orang dari Banu Hanifah, ia berbicara berdua dengan Sajah. Ia bercerita kepada Sajah, bahwa tadinya ia berpendapat bumi ini separuh untuk Quraisy, tetapi orang-orang Quraisy itu kejam. Oleh karena itu, biarlah separuh bumi ini untuk Sajah.
Musailamah membacakan sebuah sajak yang sangat menyenangkan hati perempuan itu. Dia pun membalasnya dengan sajak serupa. Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang lama sekali. Ternyata Sajah sangat mengagumi Musailamah dan mengagumi tutur katanya yang serba manis. Rencananya mengenai kaumnya juga menarik perhatiannya, dan dengan begitu akhirnya ia mengakui keunggulannya.
Setelah Musailamah menawarkan agar kenabiannya digabung saja dengan kenabian Sajah dan mengadakan ikatan perkawinan antara keduanya, hatinya goyah. Lamaran itu pun diterima.
Baca juga: Debat Khalifah Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Pembangkang Zakat
Sejak itu Sajah pindah ke kemah Musailamah dan tinggal bersama selama tiga hari. Setelah kembali kepada masyarakatnya sendiri, Sajah mengatakan bahwa ia melihat Musailamah benar, dan karenanya ia menikah dengan laki-laki itu.
Lihat Juga :