Diam Adalah Puncak Maqom Pengetahuan
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 20:10 WIB
loading...
A
A
A
Masih berlanjut pada kasus selanjutnya dimana Khaidir mencekik leher seorang anak yang sedang bermain-main hingga tewas. Musa makin tidak mengerti karakter guru macam apa yang akan menjadi gurunya itu.
Musa protes dan seakan menghakimi apa yang dilakukan Khaidir adalah kesalahan, bahkan kezhaliman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapa pun, membunuh jiwa yang tak berdosa secara zhalim, apalagi bagi seorang nabi di kalangan Bani Israel.
Nabi Musa tak tahan diri untuk berkomentar dan memprotes, hingga terkesan tidak terima dengan kenyataan yang dihadapinya. "Mengapa Anda bunuh jiwa yang tak berdosa?!"
Namun, setiap kali menghadapi pertanyaan dan protes Musa, Khaidir hanya mengingatkan kesepakatan di awal yang harus bisa disepakati. Mau tak mau, Nabi Musa pun harus menerima kenyataan yang di luar nalar dan logika pengetahuannya itu.
Ujian terakhir yang dilakukan Khaidir ini, ternyata hanya hal yang sangat sederhana, tidak penuh misterius seperti dua kasus peristiwa sebelumnya, yaitu membantu membetulkan dinding yang telah roboh pada sebuah rumah tua yang lama ditinggalkan. Itu saja.
Namun, justru hal ketiga inilah yang merupakan klimak dari pengembaraan itu. Musa tidak mampu untuk tidak berkomentar apa gerangan yang dilakukan oleh lelaki misterius di hadapannya yang telah Allah karuniakan berbagai lautan ilmu hikmah padanya.
Apa jawaban Khaidir pada Musa?
"Inilah akhir perjumpaan antara diriku dan dirimu.."
Akhirnya, Khidir menyingkapkan semua hikmah dari setiap peristiwa mulai perahu milik nelayan miskin yang dirusak, ternyata hikmahnya adalah penyelamatan dari perampasan raja zhalim yang merampas semua perahu yang masih bagus kondisinya.
Pembunuhan seorang anak itu juga dalam rangka penyelamatan terhadap orang tuanya yang shaleh yang kelak akan menjadi petaka bagi keduanya. Semua merupakan rahasia dalam ilmu Allah yang hanya diketahui Khaidir.
Pembenahan dan penegakkan dinding yang roboh juga dalam rangka isyarat harta warisan yang terpendam di bawah tanahnya yang ditingggalkan oleh seorang yang shaleh yang telah wafat terhadap anak-anaknya.
Musa protes dan seakan menghakimi apa yang dilakukan Khaidir adalah kesalahan, bahkan kezhaliman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapa pun, membunuh jiwa yang tak berdosa secara zhalim, apalagi bagi seorang nabi di kalangan Bani Israel.
Nabi Musa tak tahan diri untuk berkomentar dan memprotes, hingga terkesan tidak terima dengan kenyataan yang dihadapinya. "Mengapa Anda bunuh jiwa yang tak berdosa?!"
Namun, setiap kali menghadapi pertanyaan dan protes Musa, Khaidir hanya mengingatkan kesepakatan di awal yang harus bisa disepakati. Mau tak mau, Nabi Musa pun harus menerima kenyataan yang di luar nalar dan logika pengetahuannya itu.
Ujian terakhir yang dilakukan Khaidir ini, ternyata hanya hal yang sangat sederhana, tidak penuh misterius seperti dua kasus peristiwa sebelumnya, yaitu membantu membetulkan dinding yang telah roboh pada sebuah rumah tua yang lama ditinggalkan. Itu saja.
Namun, justru hal ketiga inilah yang merupakan klimak dari pengembaraan itu. Musa tidak mampu untuk tidak berkomentar apa gerangan yang dilakukan oleh lelaki misterius di hadapannya yang telah Allah karuniakan berbagai lautan ilmu hikmah padanya.
Apa jawaban Khaidir pada Musa?
هَذاَ فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ
"Inilah akhir perjumpaan antara diriku dan dirimu.."
Akhirnya, Khidir menyingkapkan semua hikmah dari setiap peristiwa mulai perahu milik nelayan miskin yang dirusak, ternyata hikmahnya adalah penyelamatan dari perampasan raja zhalim yang merampas semua perahu yang masih bagus kondisinya.
Pembunuhan seorang anak itu juga dalam rangka penyelamatan terhadap orang tuanya yang shaleh yang kelak akan menjadi petaka bagi keduanya. Semua merupakan rahasia dalam ilmu Allah yang hanya diketahui Khaidir.
Pembenahan dan penegakkan dinding yang roboh juga dalam rangka isyarat harta warisan yang terpendam di bawah tanahnya yang ditingggalkan oleh seorang yang shaleh yang telah wafat terhadap anak-anaknya.
Lihat Juga :