Lelaki Zuhud Ini Tolak Pinangan Khalifah Abdul Malik bin Marwan
Senin, 17 Agustus 2020 - 13:45 WIB
loading...
A
A
A
"Aku bukanlah orang yang beliau maksud," jawab Said.
"Tetapi beliau menginginkan seseorang untuk diajak bicara," desak Maisarah.
"Barangsiapa menghendaki sesuatu, seharusnya dialah yang datang. Di masjid ini ada ruangan yang luas jika dia menginginkan hal itu. Lagipula hadis lebih layak untuk didatangi, akan tetapi dia tidak mau mendatangi," jawab Said.
Utusan itu kembali dan melapor kepada amirul mukminin, "Saya tidak menemukan kecuali seorang syaikh tua. Saya menunjuk kepadanya, tapi dia tak mau berdiri. Saya mendekatinya dan berkata, "Amirul Mukminin terbangun dan lihatlah kalau-kalau ada seseorang yang bisa menyampaikan hadis untukku, bawalah kemari." Tetapi dia menjawab dengan tenang dan tegas, "Aku bukan yang dia maksud dan masjid ini cukup luas kalau dia menginginkan hadis."
Khalifah Abdul Malik menghela nafas panjang. Dia bangkit lalu masuk ke rumah sambil bergumam, "Pasti dia adalah Said bin Musayyab. Kalau saja engkau tadi tidak menghampiri dan mengajaknya bicara"
(Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni
Ketika Abdul Malik telah meninggalkan majlis dan masuk kamar, putranya yang bungsu bertanya kepada kakaknya, "Siapakah orang yang berani menentang Amirul Mukminin dan menolak untuk menghadap itu, sedangkan dunia tunduk kepadanya dan raja-raja Romawi gentar oleh wibawanya?"
Maka berkatalah saudaranya yang paling besar, "Dia adalah orang yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, al-Walid, tetapi dia menolak menikahkannya."
Adiknya berkata heran, "Benarkah ia tidak mau menikahkan putrinya dengan al-Walid bin Abdul Malik? Apakah dia mendapatkan pasangan untuk putrinya yang lebih layak dari calon pengganti Amirul mukminin dan khalifah? Atau dia seperti orang-orang yang menghalangi putrinya untuk menikah dan tinggal menganggur di dalam rumah?"
Berkatalah sang kakak, "Sebenarnya aku tidak mengetahui berita tentang mereka."
Selanjutnya seorang dari pengasuh mereka, yang berasal dari Madinah akhirnya menceritakan seluruh kisah tersebut. Menurutnya, gadis itu menikah dengan seorang pemuda kampung bernama Abu Wadaah. (Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging )
“Kebetulan dia adalah tetangga dekat kami. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis seperti yang diceritakan Abu Wadaah sendiri kepada saya,” ujar pengasuh itu. (Bersambung)
"Tetapi beliau menginginkan seseorang untuk diajak bicara," desak Maisarah.
"Barangsiapa menghendaki sesuatu, seharusnya dialah yang datang. Di masjid ini ada ruangan yang luas jika dia menginginkan hal itu. Lagipula hadis lebih layak untuk didatangi, akan tetapi dia tidak mau mendatangi," jawab Said.
Utusan itu kembali dan melapor kepada amirul mukminin, "Saya tidak menemukan kecuali seorang syaikh tua. Saya menunjuk kepadanya, tapi dia tak mau berdiri. Saya mendekatinya dan berkata, "Amirul Mukminin terbangun dan lihatlah kalau-kalau ada seseorang yang bisa menyampaikan hadis untukku, bawalah kemari." Tetapi dia menjawab dengan tenang dan tegas, "Aku bukan yang dia maksud dan masjid ini cukup luas kalau dia menginginkan hadis."
Khalifah Abdul Malik menghela nafas panjang. Dia bangkit lalu masuk ke rumah sambil bergumam, "Pasti dia adalah Said bin Musayyab. Kalau saja engkau tadi tidak menghampiri dan mengajaknya bicara"
(Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni
Ketika Abdul Malik telah meninggalkan majlis dan masuk kamar, putranya yang bungsu bertanya kepada kakaknya, "Siapakah orang yang berani menentang Amirul Mukminin dan menolak untuk menghadap itu, sedangkan dunia tunduk kepadanya dan raja-raja Romawi gentar oleh wibawanya?"
Maka berkatalah saudaranya yang paling besar, "Dia adalah orang yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, al-Walid, tetapi dia menolak menikahkannya."
Adiknya berkata heran, "Benarkah ia tidak mau menikahkan putrinya dengan al-Walid bin Abdul Malik? Apakah dia mendapatkan pasangan untuk putrinya yang lebih layak dari calon pengganti Amirul mukminin dan khalifah? Atau dia seperti orang-orang yang menghalangi putrinya untuk menikah dan tinggal menganggur di dalam rumah?"
Berkatalah sang kakak, "Sebenarnya aku tidak mengetahui berita tentang mereka."
Selanjutnya seorang dari pengasuh mereka, yang berasal dari Madinah akhirnya menceritakan seluruh kisah tersebut. Menurutnya, gadis itu menikah dengan seorang pemuda kampung bernama Abu Wadaah. (Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging )
“Kebetulan dia adalah tetangga dekat kami. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis seperti yang diceritakan Abu Wadaah sendiri kepada saya,” ujar pengasuh itu. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :