Puasa Lahir dan Batin: Tak Sebatas Menahan Lapar dan Dahaga
Rabu, 03 April 2024 - 16:07 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, puasa batiniah berarti menyaksikan pencipta bulan. Dia akan berpuasa bersama Allah, dan akan diberi balasan berupa kedekatan (Al-qurbah) bersama Allah SWT. Maka dari itu, puasa bersama Allah berarti dia sedang meluruskan kehendaknya, sekaligus menjadi karakter bagi orang yang berkemauan kuat. Dia tidak sekadar mengikuti aspek-aspek lahiriah, namun lebih dari itu, puasa bersama Allah berarti menahan diri melalui isyarat-isyarat hakikat.
Bagi orang yang berpuasa dengan jiwanya, dia akan dipuaskan dengan pakaian yang indah-indah dan minuman yang sangat nikmat dengan campuran jahe. Dan siapa di antara manusia yang berpuasa dengan hatinya dia akan dikaruniai tegukan mahabbah (cinta) dengan kenikmatan yang sepatutnya.
Puncaknya, bagi siapa yang berpuasa dengan sirr-nya mereka adalah segolongan manusia yang disebutkan Allah dalam Al-Qur'an, “ … dan Tuhan akan memberi mereka minuman yang bersih.”
Minuman yang bersih, suci, dan segar. Minuman yang tak akan membuat dahaga untuk selamanya. Demikianlah, puasa telah menjadi karakter para sufi, seperti tampak dalam kutipan-kutipan menarik Al-Ghazali dalam risalah Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin:
Seorang pemuka ulama pernah berkata, “Peganglah ilmu, lapar, lemah (khumul), dan puasa. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi, dan lapar adalah hikmah.”
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Warisan
Dia juga mengutip Abu Yazid yang menyatakan, “Tak sehari pun aku lapar karena Allah, melainkan aku melihat satu pintu hikmah di hatiku yang belum pernah kulihat sebelumnya.”
Kelemahan menjadi istirahat sekaligus keselamatan, dan puasa merupakan sifat sandaran yang tak tertandingi oleh apa pun. Seperti firman Allah SWT., “Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” ( QS Asy-Syura [42] : 11) Maka, barang siapa mengenakan sifat ini, darinya akan memancarkan ilmu, makrifat, dan penyaksian.
Bagi orang yang berpuasa dengan jiwanya, dia akan dipuaskan dengan pakaian yang indah-indah dan minuman yang sangat nikmat dengan campuran jahe. Dan siapa di antara manusia yang berpuasa dengan hatinya dia akan dikaruniai tegukan mahabbah (cinta) dengan kenikmatan yang sepatutnya.
Puncaknya, bagi siapa yang berpuasa dengan sirr-nya mereka adalah segolongan manusia yang disebutkan Allah dalam Al-Qur'an, “ … dan Tuhan akan memberi mereka minuman yang bersih.”
Minuman yang bersih, suci, dan segar. Minuman yang tak akan membuat dahaga untuk selamanya. Demikianlah, puasa telah menjadi karakter para sufi, seperti tampak dalam kutipan-kutipan menarik Al-Ghazali dalam risalah Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin:
Seorang pemuka ulama pernah berkata, “Peganglah ilmu, lapar, lemah (khumul), dan puasa. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi, dan lapar adalah hikmah.”
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Warisan
Dia juga mengutip Abu Yazid yang menyatakan, “Tak sehari pun aku lapar karena Allah, melainkan aku melihat satu pintu hikmah di hatiku yang belum pernah kulihat sebelumnya.”
Kelemahan menjadi istirahat sekaligus keselamatan, dan puasa merupakan sifat sandaran yang tak tertandingi oleh apa pun. Seperti firman Allah SWT., “Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” ( QS Asy-Syura [42] : 11) Maka, barang siapa mengenakan sifat ini, darinya akan memancarkan ilmu, makrifat, dan penyaksian.
(mhy)
Lihat Juga :