Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Khalifah Umar Menunjuk Nu'man Memimpin Pasukan Muslim
Senin, 22 April 2024 - 14:12 WIB
loading...
A
A
A
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab" (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan pada awalnya para sahabat menghendaki Khalifah Umar bin Khattan memimpin langsung pasukan muslim untuk menghadapi Persia.
Hanya saja Ali bin Abi Thalib menyarankan agar Khalifah menunjuk orang lain. "Kedudukan Anda bagi orang Arab seperti untaian mutiara yang dapat merangkai dan mengikat. Kalau lepas akan berserakan semua dan akan hilang. Sesudah itu tidak akan pernah bersatu lagi," ujar Ali bin Abi Thalib kepada Umar.
Umar pun menerima saran itu. "Saya akan mengangkat orang yang akan memimpin mereka menjadi pelopor kalau bertemu besok, yaitu Nu'man bin Muqarrin!" ujar Khalifah Umar memutuskan.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Kaum Muslimin sudah mengenal Nu'man. Dia seorang kesatria yang berani, tak pernah ragu dan tak kenal lari, sikapnya tenang, tak suka tergesa-gesa kecuali dalam keadaan terpaksa.
Sesudah Umar mengambil keputusan pengangkatannya untuk memerangi angkatan perang Persia di bawah pimpinan Firozan, ia menulis kepada Nu'man:
"Bismillahir-rahmanir-rahim. Dari hamba Allah Umar Amirulmukminin kepada Nu'man bin Muqarrin. Salam sejahtera bagi Anda. Segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Dia. Amma ba'du."
"Saya mendapat laporan bahwa satuan-satuan angkatan bersenjata asing dalam jumlah besar sudah dipusatkan di Nahawand untuk memerangi kalian. Begitu sampai surat saya ini, dengan perintah Allah, dengan bantuan Allah dan pertolongan Allah, berangkatlah Anda bersama pasukan Muslimin yang di bawah pimpinan Anda."
"Janganlah Anda menginjak batu yang keras, agar anak buah Anda tidak kesakitan, janganlah hak mereka ditahan sehingga mereka tidak mensyukuri nikmat dan janganlah ajak mereka memasuki rimba belantara."
"Saya lebih menyukai seorang Muslim daripada 100.000 dinar. Berangkatlah langsung sampai mencapai Mah. Saya sudah menulis surat ke Kufah agar menyongsong Anda di sana. Kalau pasukan Anda sudah berkumpul, hadapilah Firozan dan satuan-satuan Persia dan asing lainnya yang bergabung dengan dia. Salam bagi Anda."
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Kepada Abdullah bin Abdullah bin Itban dan kepada pimpinan Kufah sesudah Sa'd bin Abi Waqqas Umar menulis agar ia mengerahkan pihak Kufah bersama Nu'man bin Muqarrin begini dan begini.
"Saya sudah menulis kepadanya agar berangkat dari Ahwaz ke Mah dan bergabung di sana untuk kemudian bersama-sama berangkat ke Nahawand. Saya sudah mengangkat Huzaifah bin Yaman untuk memimpin mereka sampai dapat bergabung dengan Nu'man. Dan kepada Nu'man pun saya sudah menulis: Jika terjadi sesuatu kepada Anda, maka pimpinan di tangan Huzaifah bin Yaman, dan jika terjadi sesuatu terhadap Huzaifah, maka pimpinan di tangan Nu'aim bin Muqarrin."
Umar menyerahkan surat itu kepada Sa'ib bin Aqra' untuk dibawa ke Kufah, dan Sa'ib sendiri sebagai penanggung jawab rampasan perang.
Umar berpesan kepadanya: "Jika Allah memberi kemenangan kepada kalian bagikanlah rampasan perang itu kepada mereka. Janganlah Anda mengecoh saya dan janganlah menyampaikan hal-hal yang sia-sia kepada saya. Jika mereka mendapat bencana, janganlah kita saling membuat kesulitan."
Hanya saja Ali bin Abi Thalib menyarankan agar Khalifah menunjuk orang lain. "Kedudukan Anda bagi orang Arab seperti untaian mutiara yang dapat merangkai dan mengikat. Kalau lepas akan berserakan semua dan akan hilang. Sesudah itu tidak akan pernah bersatu lagi," ujar Ali bin Abi Thalib kepada Umar.
Umar pun menerima saran itu. "Saya akan mengangkat orang yang akan memimpin mereka menjadi pelopor kalau bertemu besok, yaitu Nu'man bin Muqarrin!" ujar Khalifah Umar memutuskan.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Kaum Muslimin sudah mengenal Nu'man. Dia seorang kesatria yang berani, tak pernah ragu dan tak kenal lari, sikapnya tenang, tak suka tergesa-gesa kecuali dalam keadaan terpaksa.
Sesudah Umar mengambil keputusan pengangkatannya untuk memerangi angkatan perang Persia di bawah pimpinan Firozan, ia menulis kepada Nu'man:
"Bismillahir-rahmanir-rahim. Dari hamba Allah Umar Amirulmukminin kepada Nu'man bin Muqarrin. Salam sejahtera bagi Anda. Segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Dia. Amma ba'du."
"Saya mendapat laporan bahwa satuan-satuan angkatan bersenjata asing dalam jumlah besar sudah dipusatkan di Nahawand untuk memerangi kalian. Begitu sampai surat saya ini, dengan perintah Allah, dengan bantuan Allah dan pertolongan Allah, berangkatlah Anda bersama pasukan Muslimin yang di bawah pimpinan Anda."
"Janganlah Anda menginjak batu yang keras, agar anak buah Anda tidak kesakitan, janganlah hak mereka ditahan sehingga mereka tidak mensyukuri nikmat dan janganlah ajak mereka memasuki rimba belantara."
"Saya lebih menyukai seorang Muslim daripada 100.000 dinar. Berangkatlah langsung sampai mencapai Mah. Saya sudah menulis surat ke Kufah agar menyongsong Anda di sana. Kalau pasukan Anda sudah berkumpul, hadapilah Firozan dan satuan-satuan Persia dan asing lainnya yang bergabung dengan dia. Salam bagi Anda."
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Kepada Abdullah bin Abdullah bin Itban dan kepada pimpinan Kufah sesudah Sa'd bin Abi Waqqas Umar menulis agar ia mengerahkan pihak Kufah bersama Nu'man bin Muqarrin begini dan begini.
"Saya sudah menulis kepadanya agar berangkat dari Ahwaz ke Mah dan bergabung di sana untuk kemudian bersama-sama berangkat ke Nahawand. Saya sudah mengangkat Huzaifah bin Yaman untuk memimpin mereka sampai dapat bergabung dengan Nu'man. Dan kepada Nu'man pun saya sudah menulis: Jika terjadi sesuatu kepada Anda, maka pimpinan di tangan Huzaifah bin Yaman, dan jika terjadi sesuatu terhadap Huzaifah, maka pimpinan di tangan Nu'aim bin Muqarrin."
Umar menyerahkan surat itu kepada Sa'ib bin Aqra' untuk dibawa ke Kufah, dan Sa'ib sendiri sebagai penanggung jawab rampasan perang.
Umar berpesan kepadanya: "Jika Allah memberi kemenangan kepada kalian bagikanlah rampasan perang itu kepada mereka. Janganlah Anda mengecoh saya dan janganlah menyampaikan hal-hal yang sia-sia kepada saya. Jika mereka mendapat bencana, janganlah kita saling membuat kesulitan."
Lihat Juga :