Pertempuran Nahawand Iran: Strategi 30.000 Pasukan Muslim Hadapi 150.000 Tentara Persia
Senin, 22 April 2024 - 14:33 WIB
loading...
A
A
A
Semua yang hadir setuju dengan pendapat ini. Nu'man memerintahkan Qa'qa' bin Amr agar keesokan harinya pagi-pagi berangkat menyerang kota dengan kekuatan yang berada di bawah pimpinannya.
Kalau pasukan Persia tampil menyerang, di depan mereka ia berpura-pura lari. Sekarang Qa'qa' maju memimpin pasukannya dan menghujani kota dengan anak panah, dan berpura-pura sudah siap akan menyerbu tembok, dan memperlihatkan ketidakmampuannya sehingga dengan hati-hati akan membuat pihak Persia menyongsongnya untuk membendung serangannya.
Setiap anggota pasukan Muslimin supaya mempercepat pertarungan dengan mereka untuk membangkitkan kemarahan musuh. Mereka maju ke arah lawan dan melihat jumlah mereka kecil yang akan dengan mudah dapat dikalahkan. Mereka melintasi tembok-tembok berduri itu dengan terus menggempur.
Selama beberapa waktu Qa'qa' tetap bertahan demikian supaya tipu muslihatnya tak terlihat. Setelah itu ia bersama pasukannya lari membelakangi mereka. Melihat Qa'qa' dan pasukan lari mereka keluar hendak mengejarnya dengan maksud hendak menumpasnya habis-habisan. Nu'man waktu itu memang sudah memerintahkan pasukannya agar mundur ke belakang sasaran panah di benteng dan tembok-tembok kota.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka sudah kembali lagi ke suatu tempat, sedapat mungkin mereka dapat bersembunyi di balik dataran yang agak tinggi, agar tak terlihat oleh musuh.
Qa'qa' masih meneruskan muslihatnya dengan terus lari, dan pasukan Persia pun terus mengejarnya. Tetapi semua mereka tetap berhati-hati dengan selalu meletakkan pagar besi berduri di depannya supaya dapat berlindung dari serangan musuh kalau mencoba berbalik menyerang mereka.
Qa'qa' yang yakin pasukan Muslimin sudah berlari jauh, masih juga terus lari. Pasukan Persia juga terus mengejarnya. Mereka sudah dapat memastikan bahwa pasukan Muslimin sudah kalah dan hancur. Sejak itu mereka sudah tidak perlu mereka terlalu berhati-hati.
Pagar besi berduri mereka tinggalkan, dan mereka bergegas maju terus mengejar pasukan yang lari itu untuk dikikis habis. Angkatan bersenjata yang dipimpin Firozan itu tumpah semua hendak membersihkan bumi Persia dari penyerang-penyerang tak beradab itu.
Dengan demikian semua pasukan garnisun sudah tak ada lagi di Nahawand. Yang masih ada hanya penjaga-penjaga pintu kota. Sesudah mereka jauh dari kota dan tak berkeinginan lagi untuk menjaga benteng-benteng dan tembok-tembok kota, mereka ketakutan.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Pasukan Muslimin mereka lihat sudah berhenti, Qa'qa' dan anak buahnya dilihatnya seolah-olah hendak membidik mereka. Tetapi ketakutan mereka itu kembali tenang.
Mereka mengira ini hanya suatu tipu muslihat Qa'qa' yang ingin melindungi barisan belakangnya, yang sekarang sedang mundur menuju kehancurannya, supaya tidak dikikis habis oleh pasukan Persia yang akan membawa keruntuhan terakhir bagi seluruh kekuasaan Muslimin.
Kalau pasukan Persia tampil menyerang, di depan mereka ia berpura-pura lari. Sekarang Qa'qa' maju memimpin pasukannya dan menghujani kota dengan anak panah, dan berpura-pura sudah siap akan menyerbu tembok, dan memperlihatkan ketidakmampuannya sehingga dengan hati-hati akan membuat pihak Persia menyongsongnya untuk membendung serangannya.
Setiap anggota pasukan Muslimin supaya mempercepat pertarungan dengan mereka untuk membangkitkan kemarahan musuh. Mereka maju ke arah lawan dan melihat jumlah mereka kecil yang akan dengan mudah dapat dikalahkan. Mereka melintasi tembok-tembok berduri itu dengan terus menggempur.
Selama beberapa waktu Qa'qa' tetap bertahan demikian supaya tipu muslihatnya tak terlihat. Setelah itu ia bersama pasukannya lari membelakangi mereka. Melihat Qa'qa' dan pasukan lari mereka keluar hendak mengejarnya dengan maksud hendak menumpasnya habis-habisan. Nu'man waktu itu memang sudah memerintahkan pasukannya agar mundur ke belakang sasaran panah di benteng dan tembok-tembok kota.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka sudah kembali lagi ke suatu tempat, sedapat mungkin mereka dapat bersembunyi di balik dataran yang agak tinggi, agar tak terlihat oleh musuh.
Qa'qa' masih meneruskan muslihatnya dengan terus lari, dan pasukan Persia pun terus mengejarnya. Tetapi semua mereka tetap berhati-hati dengan selalu meletakkan pagar besi berduri di depannya supaya dapat berlindung dari serangan musuh kalau mencoba berbalik menyerang mereka.
Qa'qa' yang yakin pasukan Muslimin sudah berlari jauh, masih juga terus lari. Pasukan Persia juga terus mengejarnya. Mereka sudah dapat memastikan bahwa pasukan Muslimin sudah kalah dan hancur. Sejak itu mereka sudah tidak perlu mereka terlalu berhati-hati.
Pagar besi berduri mereka tinggalkan, dan mereka bergegas maju terus mengejar pasukan yang lari itu untuk dikikis habis. Angkatan bersenjata yang dipimpin Firozan itu tumpah semua hendak membersihkan bumi Persia dari penyerang-penyerang tak beradab itu.
Dengan demikian semua pasukan garnisun sudah tak ada lagi di Nahawand. Yang masih ada hanya penjaga-penjaga pintu kota. Sesudah mereka jauh dari kota dan tak berkeinginan lagi untuk menjaga benteng-benteng dan tembok-tembok kota, mereka ketakutan.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Pasukan Muslimin mereka lihat sudah berhenti, Qa'qa' dan anak buahnya dilihatnya seolah-olah hendak membidik mereka. Tetapi ketakutan mereka itu kembali tenang.
Mereka mengira ini hanya suatu tipu muslihat Qa'qa' yang ingin melindungi barisan belakangnya, yang sekarang sedang mundur menuju kehancurannya, supaya tidak dikikis habis oleh pasukan Persia yang akan membawa keruntuhan terakhir bagi seluruh kekuasaan Muslimin.
(mhy)
Lihat Juga :