Pertempuran Nahawand Iran: Strategi 30.000 Pasukan Muslim Hadapi 150.000 Tentara Persia
Senin, 22 April 2024 - 14:33 WIB
loading...
Sesudah Numan tahu kegagalan utusannya ia segera menyatakan perang dan mulai mengepung kota. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pertempuran Nahawand terjadi pada tahun 642 antara pasukan Arab Muslim melawan pasukan Kekaisaran Sasania. Pertempuran berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pihak Muslim, dan akibatnya pihak Persia kehilangan kota-kota di sekitar wilayah tersebut, termasuk kota penting Sephahan, yang kini bernama Isfahan di Iran .
Kala itu, Pasukan Sassania berjumlah 150.000 orang di bawah pimpinan Peroz Khosrau yang diangkat Yazdigird III menjadi pemimpin tertinggi. Mereka berasal dari wilayah-wilayah Media, Azerbaijan, Khurasan, Gurgan, Tabaristan, Merw, Baktria, Sistan, Kerman, dan Farsistan, yang mengambil posisi bertahan di luar kota Nahawand.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi " Umar bin Khattab " (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan berita-berita mengenai pasukan Muslimin dengan kekuatan 30.000 orang yang sudah siap akan memeranginya itu sudah diketahui oleh Firozan.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Khalifah Umar Menunjuk Nu'man Memimpin Pasukan Muslim
Dia tidak menganggapnya enteng, juga dia tidak akan tertipu bahwa yang akan menghadapi mereka 150.000 orang yang sudah saling berjanji akan berjuang sampai mati, dengan pertahanan benteng-benteng yang kukuh.
Ia sudah menyaksikan perang Kadisiah dan sudah melihat sendiri keberanian pasukan Arab itu yang membuatnya cukup gentar, kemudian berakhir dengan kekalahan, seperti Hormuzan yang akhirnya lari.
Oleh karena itu ia mengirim utusan ke markas pasukan Muslimin, "agar pihak Muslimin mengirim orang untuk mengadakan pembicaraan dengan kami."
Kemudian yang berangkat ke sana Mugirah bin Syu'bah. Ia pergi dengan melintasi medan-medan di sekeliling Nahawand, melewati tembok-tembok yang akhirnya sampai ke tempat Firozan.
Nahawand adalah sebuah kota besar terletak di Irak-Persia antara Hulwan dengan Hamazan - sejauh sekitar 17 km ke arah timur Hulwan dan 57 km ke arah barat Hamazan.
Di tempat ini terdapat padang ternak yang luas, sungai-sungai dan kebun-kebun yang dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan hidup kepada penduduknya. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah benteng yang kukuh dengan dinding-dinding yang sangat kuat, dilindungi oleh pagar-pagar tembok yang tinggi dan kekar.
Baca juga: Pertempuran Nahawand: Kisah Ali bin Abi Thalib Mencegah Umar bin Khattab Memimpin Perang
Ketika dipersilakan masuk, Mugirah berhadapan dengan Firozan yang sedang duduk di atas sebuah peterana dari emas dengan mahkota di kepala, dikelilingi oleh pengawal-pengawal, yang seolah-olah mereka itu setan-setan dengan sangkur dan tombak yang berkilat-kilat menyilaukan mata.
Terjadi dialog antara kedua orang itu seperti dialog yang dulu pernah terjadi antara Yazdigird dengan delegasi Muslimin di Mada'in. Pembicaraan itu berakhir dengan kata-kata Firozan:
"Sebenarnya tak ada orang yang dapat merintangi saya untuk memerintahkan kepada pemanah-pemanah di sekeliling saya ini untuk menusuk kalian seperti sate dengan anak panah, kalau tidak karena akan mengotori kami dengan bangkai kalian."
"Kalau kalian enyah kami bebas dari kalian, kalau kalian menolak akan kami perlihatkan kepada kalian tempat-tempat kehancuran kalian."
Kala itu, Pasukan Sassania berjumlah 150.000 orang di bawah pimpinan Peroz Khosrau yang diangkat Yazdigird III menjadi pemimpin tertinggi. Mereka berasal dari wilayah-wilayah Media, Azerbaijan, Khurasan, Gurgan, Tabaristan, Merw, Baktria, Sistan, Kerman, dan Farsistan, yang mengambil posisi bertahan di luar kota Nahawand.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi " Umar bin Khattab " (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan berita-berita mengenai pasukan Muslimin dengan kekuatan 30.000 orang yang sudah siap akan memeranginya itu sudah diketahui oleh Firozan.
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Khalifah Umar Menunjuk Nu'man Memimpin Pasukan Muslim
Dia tidak menganggapnya enteng, juga dia tidak akan tertipu bahwa yang akan menghadapi mereka 150.000 orang yang sudah saling berjanji akan berjuang sampai mati, dengan pertahanan benteng-benteng yang kukuh.
Ia sudah menyaksikan perang Kadisiah dan sudah melihat sendiri keberanian pasukan Arab itu yang membuatnya cukup gentar, kemudian berakhir dengan kekalahan, seperti Hormuzan yang akhirnya lari.
Oleh karena itu ia mengirim utusan ke markas pasukan Muslimin, "agar pihak Muslimin mengirim orang untuk mengadakan pembicaraan dengan kami."
Kemudian yang berangkat ke sana Mugirah bin Syu'bah. Ia pergi dengan melintasi medan-medan di sekeliling Nahawand, melewati tembok-tembok yang akhirnya sampai ke tempat Firozan.
Nahawand adalah sebuah kota besar terletak di Irak-Persia antara Hulwan dengan Hamazan - sejauh sekitar 17 km ke arah timur Hulwan dan 57 km ke arah barat Hamazan.
Di tempat ini terdapat padang ternak yang luas, sungai-sungai dan kebun-kebun yang dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan hidup kepada penduduknya. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah benteng yang kukuh dengan dinding-dinding yang sangat kuat, dilindungi oleh pagar-pagar tembok yang tinggi dan kekar.
Baca juga: Pertempuran Nahawand: Kisah Ali bin Abi Thalib Mencegah Umar bin Khattab Memimpin Perang
Ketika dipersilakan masuk, Mugirah berhadapan dengan Firozan yang sedang duduk di atas sebuah peterana dari emas dengan mahkota di kepala, dikelilingi oleh pengawal-pengawal, yang seolah-olah mereka itu setan-setan dengan sangkur dan tombak yang berkilat-kilat menyilaukan mata.
Terjadi dialog antara kedua orang itu seperti dialog yang dulu pernah terjadi antara Yazdigird dengan delegasi Muslimin di Mada'in. Pembicaraan itu berakhir dengan kata-kata Firozan:
"Sebenarnya tak ada orang yang dapat merintangi saya untuk memerintahkan kepada pemanah-pemanah di sekeliling saya ini untuk menusuk kalian seperti sate dengan anak panah, kalau tidak karena akan mengotori kami dengan bangkai kalian."
"Kalau kalian enyah kami bebas dari kalian, kalau kalian menolak akan kami perlihatkan kepada kalian tempat-tempat kehancuran kalian."
Lihat Juga :