Basim Khandaqji: Kisah Penulis Palestina yang Dipenjara Israel 3 Kali Seumur Hidup
Jum'at, 10 Mei 2024 - 05:30 WIB
loading...
Basim Khandaqji dan buku karyanya. Foto: PressTV
A
A
A
Dia adalah Basim Khandaqji. Penulis Palestina ini telah mendekam di penjara Israel selama 20 tahun terakhir. Baru-baru ini buku karyanya memenangkan Hadiah Internasional ke-17 untuk Fiksi Arab. Buku itu diterbitkan oleh penerbit yang berbasis di Lebanon, Dar al-Adab.
“Di sini, hadirin sekalian, di mana Anda berdiri, terdapat reruntuhan dan sisa-sisa desa Sar'a, Arab Palestina. Kota itu dijarah, dan penduduknya, yang berjumlah 400 jiwa, diusir pada bulan Juli 1948. Ya, diusir. Sekarang, mereka mendekam sebagai pengungsi di kamp-kamp. Geng-geng Zionis menghancurkan desa tersebut, dan sebagai gantinya mendirikan Kibbutz Sar'a."
“Tidak ada pahlawan super… Tidak ada makam untuk pahlawan super. Di tempat Anda berdiri, yang ada hanyalah bencana dan orang-orang terusir dari tanah mereka.”
Begitu kutipan dari buku pemenang penghargaan, “A Mask, the Colour of the Sky” yang ditulis Basim Khandaqji.
Baca juga: Seorang Tahanan Palestina Meninggal di Penjara Israel
Menghadiri upacara penghargaan atas nama penulis, saudaranya Yousef Khandaqji mendedikasikan penghargaan sastra bergengsi tersebut kepada rakyat Palestina yang terguncang di bawah pendudukan Israel.
“Berbicara atas nama saudaraku tersayang, dia mendedikasikan kemenangan ini untuk seluruh rakyat Palestina,” katanya dalam pidato sang adik.
“Saya merindukannya setiap hari dan dia ada di hati kami setiap hari.”
Basim Khandaqji lahir di kota Nablus, Tepi Barat, pada tahun 1983. Pada tahun 2004, pasukan Israel menangkap penulis dan penyair terkenal tersebut. Kala itu Khandaqji berada di tahun terakhir gelar sarjananya di Departemen Jurnalisme dan Media di Universitas An-Najah.
Ia didakwa secara keliru dalam kasus bom bunuh diri di Tel Aviv pada tahun 2004. Saat ini ia menjalani tiga hukuman seumur hidup di penjara Israel.
“Di sini, hadirin sekalian, di mana Anda berdiri, terdapat reruntuhan dan sisa-sisa desa Sar'a, Arab Palestina. Kota itu dijarah, dan penduduknya, yang berjumlah 400 jiwa, diusir pada bulan Juli 1948. Ya, diusir. Sekarang, mereka mendekam sebagai pengungsi di kamp-kamp. Geng-geng Zionis menghancurkan desa tersebut, dan sebagai gantinya mendirikan Kibbutz Sar'a."
“Tidak ada pahlawan super… Tidak ada makam untuk pahlawan super. Di tempat Anda berdiri, yang ada hanyalah bencana dan orang-orang terusir dari tanah mereka.”
Begitu kutipan dari buku pemenang penghargaan, “A Mask, the Colour of the Sky” yang ditulis Basim Khandaqji.
Baca juga: Seorang Tahanan Palestina Meninggal di Penjara Israel
Menghadiri upacara penghargaan atas nama penulis, saudaranya Yousef Khandaqji mendedikasikan penghargaan sastra bergengsi tersebut kepada rakyat Palestina yang terguncang di bawah pendudukan Israel.
“Berbicara atas nama saudaraku tersayang, dia mendedikasikan kemenangan ini untuk seluruh rakyat Palestina,” katanya dalam pidato sang adik.
“Saya merindukannya setiap hari dan dia ada di hati kami setiap hari.”
Basim Khandaqji lahir di kota Nablus, Tepi Barat, pada tahun 1983. Pada tahun 2004, pasukan Israel menangkap penulis dan penyair terkenal tersebut. Kala itu Khandaqji berada di tahun terakhir gelar sarjananya di Departemen Jurnalisme dan Media di Universitas An-Najah.
Ia didakwa secara keliru dalam kasus bom bunuh diri di Tel Aviv pada tahun 2004. Saat ini ia menjalani tiga hukuman seumur hidup di penjara Israel.
Lihat Juga :