Basim Khandaqji: Kisah Penulis Palestina yang Dipenjara Israel 3 Kali Seumur Hidup
Jum'at, 10 Mei 2024 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Basim Khandaqji mungkin tidak menyadari bahwa dia memenangkan hadiah buku berbahasa Arab tertinggi karena keluarganya tidak diizinkan untuk bertemu dengannya sejak 7 Oktober 2023, ketika perlawanan Palestina melancarkan Operasi Badai Al-Aqsa melawan rezim Israel.
Baca juga: Tahanan Palestina Terlama Dibebaskan dari Penjara Israel
“Dia saat ini menjadi tahanan di penjara penjajah Israel, dan tidak ada sarana untuk berkomunikasi dengannya selama empat bulan terakhir,” kata saudaranya dalam wawancara dengan penyelenggara festival sastra bulan lalu, sebagaimana dikansir PressTV.
“Kami berharap dan berdoa agar dia dibebaskan secepat mungkin.”
Semangat Tangguh
Saat remaja di Tepi Barat yang diduduki, Khandaqji menulis cerita pendek. Setelah ditangkap pada usia 21 tahun, ia melanjutkan hasratnya untuk menulis bahkan dalam keadaan sulit di berbagai penjara Israel.
Ia “hanya menulis dari jam 5 pagi sampai jam 7 pagi, itulah yang dikatakan Basim kepada saya pada salah satu kunjungan bulanan yang hanya berlangsung selama 45 menit,” kata Yousef Khandaqji.
“Dia menulis sebelum administrasi penjara menghitung jumlah tahanan dan sebelum penjaga penjara mulai membuat keributan, dan dia mahir dalam menemukan cara-cara baru untuk melakukannya,” kata saudara laki-laki Basim.
“Dalam dua jam ini, Basim menulis kurang lebih dua halaman, dan seringkali kertas-kertas itu diambil darinya dan dimusnahkan oleh penjaga. Hal ini terjadi pada semua tahanan yang menulis surat selama dalam tahanan.”
Baca juga: 95% Warga Palestina di Penjara Israel Mengalami Penyiksaan
Baca juga: Tahanan Palestina Terlama Dibebaskan dari Penjara Israel
“Dia saat ini menjadi tahanan di penjara penjajah Israel, dan tidak ada sarana untuk berkomunikasi dengannya selama empat bulan terakhir,” kata saudaranya dalam wawancara dengan penyelenggara festival sastra bulan lalu, sebagaimana dikansir PressTV.
“Kami berharap dan berdoa agar dia dibebaskan secepat mungkin.”
Semangat Tangguh
Saat remaja di Tepi Barat yang diduduki, Khandaqji menulis cerita pendek. Setelah ditangkap pada usia 21 tahun, ia melanjutkan hasratnya untuk menulis bahkan dalam keadaan sulit di berbagai penjara Israel.
Ia “hanya menulis dari jam 5 pagi sampai jam 7 pagi, itulah yang dikatakan Basim kepada saya pada salah satu kunjungan bulanan yang hanya berlangsung selama 45 menit,” kata Yousef Khandaqji.
“Dia menulis sebelum administrasi penjara menghitung jumlah tahanan dan sebelum penjaga penjara mulai membuat keributan, dan dia mahir dalam menemukan cara-cara baru untuk melakukannya,” kata saudara laki-laki Basim.
“Dalam dua jam ini, Basim menulis kurang lebih dua halaman, dan seringkali kertas-kertas itu diambil darinya dan dimusnahkan oleh penjaga. Hal ini terjadi pada semua tahanan yang menulis surat selama dalam tahanan.”
Baca juga: 95% Warga Palestina di Penjara Israel Mengalami Penyiksaan
Lihat Juga :