Kisah Toleransi Khalifah Umar bin Khattab Terhadap Penduduk Yerusalem
Minggu, 09 Juni 2024 - 14:32 WIB
loading...
A
A
A
Bagaimana pendapat kita tentang dia sebagai orang yang begitu tinggi nalurinya dalam politik. Kemenangannya itu tidak akan membuatnya lupa untuk bersikap hati-hal atau sebaliknya akan mendorongnya menjadi sombong dan congkak.
Ketegasannya juga tidak akan membuatnya lupa bahwa keadilan dan kasih sayang adalah yang paling besar pengaruhnya dalam hati bangsa-bangsa atau umat yang diperintah yang selama itu tetap dipertahankannya. Ia tak sampai bertangan besi karena didorong oleh keangkuhan.
Itu sebabnya para sejarawan Kristen yang obyektif sependapat; mereka sangat memuji keadilan Umar, toleransi dan rasa kasih sayangnya. Betapa kagum dan hormat mereka terhadap sikapnya di Baitulmukadas serta kejujurannya dalam membuat persetujuan dengan penguasa setempat.
Keobyektifan mereka tidak berubah seperti yang disebutkan bahwa suatu hari Umar berpidato di hadapan kaum Muslimin di Baitul muqadas, dan dalam pidatonya itu ia mengutip firman Allah:
"Barangsiapa mendapat petunjuk Allah, itulah petunjuk yang benar; tetapi barang siapa dibiarkan tersesat, maka tak ada pelindung dan pem bimbing baginya ke jalan yang benar." ( Qur'an, 18 :17).
Baca juga: Ini Dia Komandan Perang Muslim saat Pengepungan Baitul Maqdis di Era Khalifah Umar?
Seorang pendeta Nasrani yang juga hadir ketika itu berdiri dan berkata: Allah tidak akan menyesatkan siapa pun. Setelah diulangnya kata-kata itu, Umar berkata kepada orang-orang di sekitarnya: "Perhatikan, kalau dia masih mengulang kata-katanya, penggallah lehernya."
Dengan peringatan ini pendeta tersebut diam. Mereka yang memang bersikap obyektif dan jujur itu tetap sepakat, bahwa bukan karena sumber itu tak mempunyai dasar yang kuat, tetapi andaikata itu pun benar tidaklah akan merusak sikap toleransi dan keadilan Umar.
Ketika itu Umar bukan sedang dalam status perdebatan ideologis dengan pendeta tersebut, melainkan sebagai orang yang sedang berpidato mengingatkan umat Islam tentang keimanan dan jangan saling berbantah, tiba-tiba pendeta itu memotong pidatonya dan mengulanginya lagi - suatu pelanggaran terhadap tata tertib yang dapat menimbulkan dugaan bahwa pelakunya sengaja hendak merusak kewibawaan Amirulmukminin.
Oleh karena itu tak lebih Umar hanya memberi peringatan. Sesudah pendeta itu diam dan tidak lagi mengadakan interupsi, Umar pun meneruskan pidatonya sampai selesai. Sampai waktu salat tiba dan Umar mengimaminya, tak ada orang yang mengganggu pendeta itu.
Ketegasannya juga tidak akan membuatnya lupa bahwa keadilan dan kasih sayang adalah yang paling besar pengaruhnya dalam hati bangsa-bangsa atau umat yang diperintah yang selama itu tetap dipertahankannya. Ia tak sampai bertangan besi karena didorong oleh keangkuhan.
Itu sebabnya para sejarawan Kristen yang obyektif sependapat; mereka sangat memuji keadilan Umar, toleransi dan rasa kasih sayangnya. Betapa kagum dan hormat mereka terhadap sikapnya di Baitulmukadas serta kejujurannya dalam membuat persetujuan dengan penguasa setempat.
Keobyektifan mereka tidak berubah seperti yang disebutkan bahwa suatu hari Umar berpidato di hadapan kaum Muslimin di Baitul muqadas, dan dalam pidatonya itu ia mengutip firman Allah:
"Barangsiapa mendapat petunjuk Allah, itulah petunjuk yang benar; tetapi barang siapa dibiarkan tersesat, maka tak ada pelindung dan pem bimbing baginya ke jalan yang benar." ( Qur'an, 18 :17).
Baca juga: Ini Dia Komandan Perang Muslim saat Pengepungan Baitul Maqdis di Era Khalifah Umar?
Seorang pendeta Nasrani yang juga hadir ketika itu berdiri dan berkata: Allah tidak akan menyesatkan siapa pun. Setelah diulangnya kata-kata itu, Umar berkata kepada orang-orang di sekitarnya: "Perhatikan, kalau dia masih mengulang kata-katanya, penggallah lehernya."
Dengan peringatan ini pendeta tersebut diam. Mereka yang memang bersikap obyektif dan jujur itu tetap sepakat, bahwa bukan karena sumber itu tak mempunyai dasar yang kuat, tetapi andaikata itu pun benar tidaklah akan merusak sikap toleransi dan keadilan Umar.
Ketika itu Umar bukan sedang dalam status perdebatan ideologis dengan pendeta tersebut, melainkan sebagai orang yang sedang berpidato mengingatkan umat Islam tentang keimanan dan jangan saling berbantah, tiba-tiba pendeta itu memotong pidatonya dan mengulanginya lagi - suatu pelanggaran terhadap tata tertib yang dapat menimbulkan dugaan bahwa pelakunya sengaja hendak merusak kewibawaan Amirulmukminin.
Oleh karena itu tak lebih Umar hanya memberi peringatan. Sesudah pendeta itu diam dan tidak lagi mengadakan interupsi, Umar pun meneruskan pidatonya sampai selesai. Sampai waktu salat tiba dan Umar mengimaminya, tak ada orang yang mengganggu pendeta itu.
Lihat Juga :