Kisah Toleransi Khalifah Umar bin Khattab Terhadap Penduduk Yerusalem
Minggu, 09 Juni 2024 - 14:32 WIB
loading...
Toleransi itu tidak berarti akan membiarkan Baitulmuqadas untuk orang-orang Kristen, dan kaum Muslimin dalam arti agama. Ilustrasi: art station
A
A
A
Toleransi Khalifah Umar bin Khattab terhadap penduduk Yerusalem antara lain dikisahkan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000)
Haekal menjelaskan mengenai persetujuan Baitulmukadas yang mencantumkan suatu ketentuan dengan pihak Nasrani bahwa umat Islam dilarang memasuki gereja-gereja mereka, di waktu malam atau siang.
Jangan membicarakan agama mereka atau berusaha meyakinkan pihak lain untuk menganutnya. Umat Nasrani tidak boleh dipaksa memakai pakaian Muslim , tidak boleh berbicara dalam bahasa Arab sebagai bahasa pemenang dan menggunakan nama-nama seperti nama-nama mereka; bahwa tidak boleh menunggang kuda dan membawa senjata, dan tidak harus berhenti jika seorang Muslim lewat di depan mereka.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Bebaskan Baitul Maqdis, Palestina Aman dan Damai
Jika ada seorang Muslim datang mereka tidak harus berdiri sampai ia duduk; bahwa tidak boleh menjual minuman keras, menaikkan salib di atas gereja-gereja mereka dan tak boleh membunyikan lonceng; tak boleh mengambil seorang pembantu yang masih bekerja pada seorang Muslim.
Menurut Haekal, faktor-faktor kemunduran yang kemudian menggerogoti tubuh kedaulatan Islam ini telah menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan yang tidak terpuji dalam kebijaksanaannya.
Di antara kaum Muslimin dan mereka yang menamakan diri demikian pada zaman akhir-akhir ini ada yang begitu fanatik dan menganjurkan orang pada fanatisme. Tetapi Umar tak ada hubungannya dengan semua itu. Dia sangat agung. Untuk apa bersikap demikian, Allah telah membukakan semua pintu dunia buat dia.
Orang masuk Islam berbondong-bondong, tanpa dipaksa, tanpa kekerasan, sementara pasukan-pasukan kedua imperium Persia dan Romawi tak mampu bertahan lagi selain hanya mundur lalu melarikan diri.
Andaikata Umar bukan seorang politikus yang berpandangan tajam dan jauh ke depan, niscaya nalurinya pun sudah akan mengantarkannya kepada yang baik dalam arti hubungan sosial dengan mereka yang telah membukakan pintu kota-kota itu lebar-lebar dan menyerahkan segala kekuasaan mereka.
Baca juga: Umar Bin Khattab dan Shalahudin Al Ayubi, Pahlawan Pembebas Baitul Maqdis, Siapa Berikutnnya?
Haekal menjelaskan mengenai persetujuan Baitulmukadas yang mencantumkan suatu ketentuan dengan pihak Nasrani bahwa umat Islam dilarang memasuki gereja-gereja mereka, di waktu malam atau siang.
Jangan membicarakan agama mereka atau berusaha meyakinkan pihak lain untuk menganutnya. Umat Nasrani tidak boleh dipaksa memakai pakaian Muslim , tidak boleh berbicara dalam bahasa Arab sebagai bahasa pemenang dan menggunakan nama-nama seperti nama-nama mereka; bahwa tidak boleh menunggang kuda dan membawa senjata, dan tidak harus berhenti jika seorang Muslim lewat di depan mereka.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Bebaskan Baitul Maqdis, Palestina Aman dan Damai
Jika ada seorang Muslim datang mereka tidak harus berdiri sampai ia duduk; bahwa tidak boleh menjual minuman keras, menaikkan salib di atas gereja-gereja mereka dan tak boleh membunyikan lonceng; tak boleh mengambil seorang pembantu yang masih bekerja pada seorang Muslim.
Menurut Haekal, faktor-faktor kemunduran yang kemudian menggerogoti tubuh kedaulatan Islam ini telah menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan yang tidak terpuji dalam kebijaksanaannya.
Di antara kaum Muslimin dan mereka yang menamakan diri demikian pada zaman akhir-akhir ini ada yang begitu fanatik dan menganjurkan orang pada fanatisme. Tetapi Umar tak ada hubungannya dengan semua itu. Dia sangat agung. Untuk apa bersikap demikian, Allah telah membukakan semua pintu dunia buat dia.
Orang masuk Islam berbondong-bondong, tanpa dipaksa, tanpa kekerasan, sementara pasukan-pasukan kedua imperium Persia dan Romawi tak mampu bertahan lagi selain hanya mundur lalu melarikan diri.
Andaikata Umar bukan seorang politikus yang berpandangan tajam dan jauh ke depan, niscaya nalurinya pun sudah akan mengantarkannya kepada yang baik dalam arti hubungan sosial dengan mereka yang telah membukakan pintu kota-kota itu lebar-lebar dan menyerahkan segala kekuasaan mereka.
Baca juga: Umar Bin Khattab dan Shalahudin Al Ayubi, Pahlawan Pembebas Baitul Maqdis, Siapa Berikutnnya?
Lihat Juga :